
Ujian telah berakhir.
Raffa dan dua temannya itu merasa lega setelah otak mereka terasa terbakar di Minggu ini.
"Akhirnya!" ujar Evan melepas penat.
"Gila, ujian bikin otak kita kebakar." tambah Iqbal.
"Yaelah, santai aja kali, gue yakin kok semua bakal lulus," ucap Raffa santai.
"Tapi kan nilainya Raff, kalo nilainya gak bagus gimana? lo juga pasti dimarahin lagi kan?" sahut Evan.
"Biarin di marahin, udah biasa kok." Ketus Raffa lalu pergi meninggalkan dua sahabatnya itu.
"Eh, Raff, lo mau kemana?" Iqbal mengejar Raffa.
"Mending gue ke rumah Sinta, pacaran." Evan memilih untuk ke rumah Sinta.
"Van, lo mau ke rumah Sinta?" tanya Kevin yang tadi mendengar ucapan Evan.
"Iya, kenapa?"
"Nanti bilang ke Dinda, gue mau ke sana, suruh dia jangan pergi dulu, gue ada urusan dulu sama Bu Dian." Pesan Kevin.
"Lo pacaran sama Dinda udah lama?" tanya Evan.
"Udah ya, gue buru-buru." Kevin bergegas meninggalkan Evan.
Dia sengaja menghindar karena dia tidak mau ada yang mengetahui statusnya.
"Eh, di tanya malah pergi." Evan memandang kepergian Kevin yang semakin jauh dari pandangannya.
"Van!" panggil seseorang menepuk bahu Evan.
"Eh, kaget gue. Kenapa sih Naz?" tanya Evan sembari mengelus dada yang kini berdebar lebih cepat karena terkejut.
"Lo liat Kevin?"
"Kevin? ngapain lo cari Kevin, kan lo udah punya pacar." Celetuk Evan.
"Gak papa, cuma mau tanya soal pelajaran sama dia." Nazwa beralasan.
"Nanya aja sama gue, gue sebelas dua belas sama Kevin," ujar Evan dengan bangganya.
"Gak deh, kalo sama lo bisa-bisa jawabannya salah." cibir Nazwa dan pergi meninggalkan Evan.
"Lagi-lagi gue ditinggal." Decak Evan.
***
Setelah urusannya dengan Bu Dian selesai Kevin bergegas menuju parkiran sekolah untuk mengambil mobilnya.
Kevin yang baru saja ingin masuk ke dalam mobilnya dihentikan dengan panggilan seseorang.
"Apa sih? gue mau pulang," ucap Kevin yang sudah sangat kesal dengan kedatangan Nazwa.
"Boleh nebeng gak? gue gak bawa mobil." mohon Nazwa.
__ADS_1
"Gak! gue ada urusan, mending lo pulang naik taxi." tolak Kevin.
"Tapi duit gue abis Vin, gimana dong?" lagi-lagi Nazwa beralasan.
Kevin membuka pintu mobil dan mengambil dua lembar uang warna merah dan memberikannya pada Nazwa.
"Nih, lo pake."
Nazwa mencebikan bibirnya. Dia hanya pasrah karena memang tak ada alasan lain untuk bisa pulang bersama Kevin.
"Inget! gak usah deket-deket gue lagi, gue udah ada yang punya!" Peringat Kevin.
"Lo ... udah punya?" tanya Nazwa tidak percaya, dia yang memang tidak percaya dengan hubungan antar Kevin dan Dinda yang membuat satu sekolah gempar.
"Iya, kenapa? bukannya lo juga udah punya?" sindir Kevin.
"Gue rela kok putusin Raffa demi lo," ucap Nazwa sangat meyakinkan.
"Hah? apa? gue gak salah denger?" Kevin memastikan ucapan Nazwa barusan.
"Iya, Vin, gue rela ngelakuin itu." Ulang Nazwa.
"Kalo rela buktiin, jangan bac*t doang!" tegas Kevin.
"Ok, gue bakal buktiin sama lo." Nazwa yang merasa tertantang akhirnya memutuskan untuk melakukan hal itu.
"Tapi, lo jangan sampe nyesel ya." bisiknya di telinga Nazwa.
"Kenapa harus nyesel, gue juga gak cinta sama Raffa, gue itu cuma pengin jadi populer di sekolah ini, karena gue tau Raffa itu sangat di idam-idamkan satu sekolah ini!" Tanpa sadar Nazwa mengungkap semua itu depan Kevin.
"Bagus juga sandiwara lo, gue salut!" bisik Kevin lagi.
'S*al, kenapa gue malah di kasih duit? emang gue pengemis? gue punya duit kali, gak perlu kaya gini,' batin Nazwa dan membuang uang pemberian Kevin ke sembarang arah.
***
"Van, Kevin mau ke sini jam berapa?" Pertanyaan itu sudah berulang kali Dinda tanyakan pada Evan.
"Ish, Dinda lo bisa gak jangan ganggu orang pacaran!?" Sewot Evan.
"Lo apaan sih Van? Dinda kan cuma nanya." Balas Sinta tak terima saat sahabat di bentak.
"Iya nih, lo kenapa sih? kan gue cuma nanya." protes Dinda.
"Masalahnya lo udah nanya soal itu berulang kali, mungkin ini yang ke sepuluh." Evan tak kalah protes.
"Nyokap gue udah pesen sama gue, buat gak lama-lama, mana HP gue mati lagi."
"Nih, telpon pake HP gue dulu Din," Sinta menyerahkan benda pipih yang di gunakan untuk berkomunikasi.
"Gak papa?" tanya Dinda memastikan.
"Iya, nih ambil, dari pada nyokap lo khawatir." Dinda mengambil handphone Sinta dan mulai mengetik nomor telepon Ibunya.
"Gak aktif." Dinda berulang kali menghubungi Ibunya.
"Ya udah, sebentar lagi juga Kevin sampe." Sinta menenangkan Dinda yang cemas.
__ADS_1
Untungnya Yasmin tertidur di gendongan Dinda.
Jadi, dia tidak rewel atau apapun yang membuat Dinda tak tenang.
"Permisi non, di luar ada tamu," ucap pak Marto yang baru saja datang.
"Siapa?" tanya Sinta.
"Kurang tau non, tapi dia nyari non Dinda." Jelasnya.
"Itu kayanya Kevin deh," samber Dinda.
"Ya udah, lo samperin gih."
"Gue keluar ya." Dinda bergegas keluar menemui tamu yang di maksud oleh pak satpam.
Sampai di luar dia tidak menemui kedatangan Kevin. Yang dia temui hanya mobil Raffa yang terparkir didepan gerbang.
"Raffa, ngapain ke sini?" gumam Dinda menautkan ke dua alisnya.
"Raff, lo mau ketemu Sinta?" tanya Dinda yang sudah mendapati Raffa dalam mobilnya.
"Gak! gue kesini mau ketemu sama lo."
"Ngapain? nanti Nazwa bisa marah lho." Dinda merasa tak enak hati jika Nazwa tau dirinya sedang bersama Raffa saat ini.
"Gak papa, lagian Nazwa juga gak bakal tau." Paksa Raffa.
"Raff, dalam hubungan itu harus selalu ada kejujuran, gak boleh kaya gini." Dinda mengingatkan.
"Hm ... gimana ya? Nazwa aja gak pernah jujur sama gue, masa gue harus jujur sama dia?" ujar Raffa.
"Harusnya lo bisa bimbing Nazwa, biar dia bisa jujur sama lo."
"Udah ah kenapa malah bahas Nazwa sih? gue kan mau ngajak lo pergi."
"Tapi, Adek gue gimana?"
"Titip ke Sinta aja, nanti pulangnya kita kesini lagi." Perintah Raffa.
"Beneran ya, kesini lagi, nanti lo malah ninggalin gue atau lo gak mau anterin gue pulang." Dinda memastikan.
"Iya Dinda!" Sahutnya gemes.
Dengan terpaksa dia menitipkan Yasmin pada Sinta yang kini tengah asik berpacaran dengan Evan.
"Din, gue kan lagi pacaran, masa gue dititipin Yasmin sih? kan nanti bisa ganggu." tolak Sinta.
"Bentar aja, nanti kalo Kevin ke sini, kasih aja ke dia, gue yakin kok bentar lagi dia kesini." Dinda meyakinkan Sinta.
"Ya udah, sini!" Dinda menyerahkan Yasmin yang kini tertidur pulas.
'Yasmin titipin ke Kevin? kenapa Dinda percaya banget sama kevin?' batin Evan.
Evan tak memikirkan itu lagi, kini dia sibuk pada Sinta, setelah Sinta meletakkan Yasmin di kamarnya.
💦💦💦💦💦💦
__ADS_1
like dan komennya jangan lupa...❣️