
Dinda baru saja sampai di rumah. Dia melihat Yasmin duduk sendirian di depan rumah sambil menundukkan kepalanya.
Dinda memarkir motornya dan duduk di samping Yasmin yang kini terlihat sedih.
"De ... kenapa?" tanya Dinda.
Belum sempat Yasmin menjawab Dinda mendengar kegaduhan di dalam.
Dinda yang paham akan apa yang terjadi hanya menghela nafas.
"Ade tenang ya, kan ada Kakak," Dinda berusaha menenangkan Yasmin yang kini tengah ketakutan mendengar perdebatan orang tuanya.
"Tunggu sini dulu ya, Kakak mau ke dalem bentar."
"Jangan ta, nanti tata di pukul Papa," cegah Yasmin.
"Gak de, tenang aja ya." Dinda masuk ke dalam rumah.
"Mah, Pah," ucap Dinda.
"Kamu gak usah ikut campur," bentak sang Ayah yang kini tengah emosi
"Ayah, Dinda mohon jangan sakiti Mamah." Dinda memohon.
"Sudah saya bilang, gak usah ikut campur." bentaknya lagi.
"Gak Pah, dinda gak mau Mamah kenapa-napa."
Ayah Dinda yang sudah sangat emosi melayangkan tangannya bersiap menampar Dinda.
Tangannya terangkat dan saat hendak mengenai Dinda sang Ibu menghadangnya.
"Cukup Mas, Dinda gak salah apa-apa, jangan sakiti dia." Sang istri mencegah suaminya.
"Dasar anak s*alan," umpat Ayah Dinda.
Ayah Dinda pergi meninggalkan rumah.
Dinda dan Ibunya hanya menatap punggungnya yang kini semakin menjauh.
"Mamah gak papa?" tanya Dinda memastikan tubuh Mamahnya tidak ada yang luka.
"Gak papa, Ade mana?"
"Ada di luar, dia ketakutan."
"Ya ampun, kasian Ade, masih kecil harus melihat ini semua." Sang Ibu langsung menghampiri Yasmin.
"De, Ade gak papa kan?" tanya sang Ibu.
"Da apa, Ade atut." Yasmin memeluk sang Ibu.
"Ade tenang ya, ada Mamah yang bakal jagain adek." Sang Ibu berusaha menenangkan.
"Dinda keluar bentar ya Mah," pamit Dinda.
"Kemana?" tanyanya.
"Ada urusan bentar, gak lama kok," jawab Dinda.
***
"Terus gimana ini? kasian Dinda kalo sampai itu benar terjadi?" tanya Sinta.
__ADS_1
"Gue juga gak tau," sahut Evan.
Keduanya kini diam, larut dalam pikirannya masing-masing.
Sinta masih memikirkan cerita Evan tentang Raffa.
"Gue gak rela kalo sampai itu terjadi Van, Dinda udah berkorban sampai detik ini, gue pengin dia bisa mendapatkan apa yang telah dia perjuangkan."
"Gue sebenernya juga kasian sama Dinda, tapi kalo ini soal perasaan, gak bisa dipaksa."
"Gini aja deh, lo harus berusaha misahin Nazwa sama Raffa, jangan sampe mereka deket, gimana?" Sinta memberi usul.
"Kalo Raffa nekat dan malah pergi berdua sama Nazwa tanpa sepengetahuan gue gimana?"
"Ya ... lo harus awasin mereka terus, jangan sampai lolos."
"Oke, bakal gue usahain."
Mereka akhirnya setuju dengan kesepakatannya.
***
Kembali lagi pada Dinda yang kini sedang di tepi danau yang sepi.
Dia hanya menatap danau dengan tatapan kosong.
"Papah, Dinda kangen Papah yang dulu," gumam Dinda.
Dinda sedang meratapi nasibnya yang kini telah berubah.
Dinda memandang langit mendung, seakan langit ikut bersedih dengan keadaan Dinda sekarang.
"Pah, Papah tau gak?" tanya Dinda kecil.
Dinda membetulkan posisi duduknya di pangkuan sang Ayah.
"Ish, Papah," Dinda merajuk mendengar jawaban sang Ayah.
"Ya udah apa? emang anak Papah ini kenapa?" tanyanya.
Dengan malu-malu Dinda membisikan sesuatu.
"Dinda suka sama seseorang."
Ayahnya yang mendengar terkekeh. Bagaimana bisa Dinda mengerti hal begituan? Pikirnya.
"Dinda kan masih kecil, masih kelas tiga SD masa udah tau suka-sukaan?" sahutnya.
"Emang gak boleh? kan Dinda udah gede?" tanya Dinda.
"Jangan dulu ya, nanti kalo udah waktunya aja."
"Kenapa? kan Dinda suka," protesnya.
"Emang siapa sih orangnya?" tanya Ayahnya.
"Ah Papah, mau tau aja," kekeh Dinda.
"Kok Papah gak boleh tau?"
"Nanti Papah bilang sama orangnya, kan Dinda malu."
"Gak deh, Papah gak bilang, emang siapa?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Itu lho Pah, yang waktu itu pernah nolongin Dinda pas Dinda ada yang nakalin?"
"Siapa?" Sang Ayah berusaha mengingatnya.
"Ish, masa Papah lupa? kan waktu itu ada Papah!"
"Ou iya, Papah inget, namanya kalo gak salah Dika kan?"
Dengan malu Dinda mengiyakannya.
"Dinda harus inget ya, Dinda masih kecil, gak boleh suka-sukaan apalagi pacaran, itu gak boleh." Sang Ayah memperingati.
"Iya Papah, Dinda cuma suka doang kok, masa Dinda masih kecil udah pacaran," protes Dinda.
"Kalian ngapain disini?" tanya sang Ibu yang baru muncul.
"Gak papa, lagi ngobrol aja, ya kan sayang?" jawab sang Ayah.
"Mah, Dinda pengen punya adek deh," ujar Dinda.
"Iya nanti Papah bikinin."
"Emang Papah bisa bikin?" tanya Dinda polos.
"Bisa dong, ya kan Mah?" senyum jailnya terpancar di raut wajah sang Ayah.
Sang Mamah tersenyum dan mencubit suaminya.
"Aw ... sakit tau Mah." Dinda hanya tersenyum melihat tingkah orang tuanya.
"Ngapain lo disini?" tanya seseorang yang menyandarkan Dinda dari lamunannya.
"Eh?" Dinda menoleh.
"Raffa?" Dinda sedikit terkejut dengan kehadiran Raffa.
"Lo sendiri ngapain?" Dinda balik bertanya.
"Ditanya malah nanya balik," cibir Raffa.
"Disini emang tempat favorit gue," jawab Dinda.
Raffa tak menanggapi.
"Terus lo ngapain?" Dinda mengulang pertanyaannya tadi.
"Ini juga tempat favorit gue," jawabnya.
"Ou, ya udah kita duduk sini aja,"
"Ogah." Tolak Raffa.
"Tenang aja Raff, gue gak bakal ngungkit soal perasaan gue," Dinda berusaha meyakinkan Raffa.
Dinda tak ingin tempat favoritnya Raffa malah membuatnya tak nyaman akan kehadirannya.
"Apa perlu gue pergi?" tanya Dinda.
"Gak usah, ini juga tempat favorit lo, gue gak berhak ngusir lo, lagian ini tempat umum." Entah kenapa saat itu Raffa berubah 180° dari biasanya.
"Ya udah duduk."
jangan lupa like dan komen!!!
__ADS_1