Mengejar Cinta Raffa

Mengejar Cinta Raffa
BAB 17


__ADS_3

"Eits, kamu mau kemana? kamu masih sakit," cegah Kevin saat Dinda mau menemui Raffa.


"Aku cuma khawatir sama keadaan Raffa." Dinda memohon.


"Din, apa belum cukup, semua yang udah Raffa lakuin sama kamu?"


"Vin, ini tuh salah aku, aku yang terlalu mencintainya."


"Din, sadar dong, kamu itu terlalu polos," ujar Kevin.


"Polos apa sih, aku tuh emang sayang sama dia Vin, cuma aku terlalu dalam saat mencintainya." Dinda berusaha menjaga nama baik Raffa.


"Intinya aku larang kamu buat ketemu Raffa!" Kali ini Kevin memaksa.


"Vin, please lah, aku mau liat keadaannya." Dinda masih berusaha memohon.


"Bener yang dibilang Kevin Din, lo gak perlu perhatian lagi sama Raffa, sekarang udah ada Nazwa yang jagain dia," ucap Sinta yang tiba-tiba datang.


"Dateng-dateng nimbrung," cibir Dinda.


"Kamu pulang ya? biar aku yang izinin." Bujuk Kevin.


"Gak deh, aku masih pengen sekolah." Dinda menolaknya.


"Ya udah tapi inget, kamu jangan ketemu Raffa ya!?" Peringat Kevin.


"Iya, kembaran ku yang ganteng," sahut Dinda gemas.


"Sin, kelas yuk!" ajak Dinda.


"Yakin lo gak papa?" tanya Sinta memastikan.


"Iya, Sinta, lo lama-lama kaya Kevin ya."


***

__ADS_1


Pelajaran hari ini selesai. Semua murid berhamburan keluar setelah bel berbunyi nyaring di sudut sekolah.


Tak terkecuali Dinda dan kawan-kawan.


"Gue ke kelas Kevin ya," ucap Dinda pada Sinta.


"Yuk, gue juga mau ke Evan." Sinta setuju dan mereka berjalan bersama menuju kelas dua belas.


Sesampainya di sana, Dinda masuk ke dalam kelas dan menghampiri Kevin.


Tak lupa ia melirik Raffa memastikan keadaannya yang mungkin sudah membaik.


"Ayo Vin!" ajak Dinda.


"Kenapa kesini? kan udah aku bilang, jangan temui dia, kalo kamu kesini kamu ketemu dia." Tunjuk Kevin dengan ekor matanya.


"Eits jangan di liat!" cegah Kevin saat Raffa memperhatikan Dinda.


Kevin memeluknya. Dinda yang kaget hanya diam.


Rasa rindu ingin dipeluk oleh Kevin telah terbayar.


Raffa hanya mencibir melihat itu. Dia bergegas keluar kelas bersama Iqbal, ia tak ingin melihat adegan itu lebih lama.


"Raff, tunggu!" teriak Nazwa yang ditinggal Raffa.


***


"Jalan-jalan yuk!" Kevin mengurai pelukannya.


"Kemana?" tanya Dinda.


"Kemana aja, terserah," jawab Kevin.


"Katanya mau nganter aku ke makam Papah?" Dinda menagih janji Kevin.

__ADS_1


"Minggu aja gimana? sekarang kita jalan-jalan dulu."


"Sekarang aja ya?" mohon Dinda dan Kevin tetap keukeh pada keinginannya.


Dinda hanya pasrah karena kembarannya memang punya sifat keras kepala.


"Bokap lo meninggal?" tanya Sinta yang memang baru tau.


"Iya, meninggal lusa." Dinda tampak sedih saat memberi tahu kabar ini pada sahabatnya apalagi dia mengingat kenangannya bersama sang Ayah.


"Turut berduka cita ya," ucap Sinta begitu juga Evan.


"Iya, makasih ya."


"Sin, lo mau ikut gak?" tawar Dinda.


"Gak deh, gue mau pergi sama ayang bebs," tolak Sinta sambil bergelanyut manja pada Evan sekaligus mencairkan suasana.


"Yaelah, bucin akut," cibir Dinda.


"Gue duluan ya." Dinda dan Kevin pergi dari kelas itu terlebih dahulu.


Kevin berjalan dengan tangannya yang merangkul Dinda.


Dia asik mengobrol sambil sesekali tertawa bersama.


"Ish, apaan sih kamu." Cibiran itu keluar saat Kevin menjaili Dinda.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang tengah memperhatikan mereka.


Raut wajahnya terlihat tak suka melihat itu, rahangnya mengeras. Dia terlihat begitu emosi.


Ada rasa sesal saat melihat Dinda dan Kevin tertawa puas seakan menertawakannya yang saat ini melihat kemesraan Dinda dan Kevin.


'Gue bakal dapetin lo,' batinnya setelah beberapa saat mengamati Kevin dan juga Dinda.

__ADS_1


💦💦💦💦💦


jangan lupa like dan komen 💐💐💐


__ADS_2