
Setelah kepergian Raffa dari danau itu Dinda memutuskan untuk pulang ke rumah karena hari sudah menjelang malam.
Dinda mengarahkan motornya menuju arah jalan rumahnya.
Sesekali dia teringat Raffa.
'Kok Raffa berubah-ubah ya? kaya bunglon aja,' batinnya sambil terkekeh.
Sesampainya di rumah Dinda memarkirkan motornya ditempat biasa.
Dinda menautkan kedua alisnya saat melihat sebuah mobil terparkir di halaman rumahnya.
"Ada siapa?" gumam Dinda.
Karena penasaran Dinda dengan cepat melangkah ke dalam rumah dan betapa terkejutnya dia saat mendapati seseorang yang dia rindukan selama ini.
"Kevin?" ucapnya kaget.
"Kapan kamu dateng? kenapa gak ngabarin?" tambahnya sedikit kesal.
"Iya maaf, aku sengaja gak kasih tau kamu, biar jadi surprise." Laki-laki itu memeluk Dinda yang kini masih mematung tak percaya.
Pasalnya orang yang selama ini ia rindukan ada di depan mata.
Dinda mengurai pelukannya dengan mata berkaca-kaca.
"Mamah kenapa gak kasih tau Kakak?" kini pertanyaan itu beralih untuk sang Ibu.
"Aku suruh Mamah buat gak kasih tau kamu, kan udah dibilangin biar surprise." Kevin segera mejelaskan agar tidak ada kesalahan pahaman.
"Kamu jahat!" Rajuk Dinda bagai anak kecil.
"Kan udah minta maaf," ucapnya.
"Iya-iya, tapi gak dimaafin sekarang," sahut Dinda.
"Lho, kok gitu?"
"Ada deh, kamu harus ganti kejahatan kamu sama aku, AKU AKAN HUKUM KAMU!" Setelah mendengar kata-kata itu Kevin terdiam.
Entah hukuman apa yang akan Dinda kasih pada kembarannya itu.
***
"Gue ke toilet dulu ya," pamit Sinta pada Evan.
"Kok gue lagi?"
"Eh, lupa, maksudnya aku ke toilet dulu ya." Sinta mengulang kalimatnya yang menurut Evan salah.
"Iya jangan lama-lama, nanti aku tinggal kamu sendirian di resto ini," ancam Evan.
__ADS_1
"Iya ih, galak banget sih." Sinta bergegas pergi ke toilet.
Sinta di toilet sibuk mengutak-atik handphone.
Dia tengah sibuk chating-an dengan Dinda.
Drrreeetttt ....
Dinda yang sepertinya tidak sabar langsung menelpon Sinta.
"Halo Din," ucap Sinta.
"Jadi gimana? lo beneran udah jadian?" tanya Dinda di sebrang sana memastikan.
"Iya, kaya yang gue bilang di chat tadi, gue udah jadian sama Evan dan orang pertama yang gue kasih tau itu lo."
"Uuu ... sweet banget sih?" goda Dinda.
"Udah dulu ya, gue cuma mau ngomong itu, by." Sinta langsung mematikan sambungan teleponnya.
'Kok gue jadi deg-degan lagi sih?' batin Sinta.
Sinta akhirnya kembali lagi pada Evan yang masih setia menunggunya di meja tadi.
***
Dinda dengan pakaian rapi siap berangkat ke sekolah.
Dia benar-benar masih tidak percaya kalau kembarannya pulang.
Kenapa sang Ayah mengizinkan Kevin untuk pulang kesini?
Padahal dari dulu Ayahnya yang sangat melarang jika Kevin ikut dengan sang Ibu.
Semenjak Ayahnya berubah menjadi sosok yang sangat keras kepala, Ayahnya sangat melarang Kevin untuk bertemu dengan sang Ibu, Dinda bahkan Yasmin.
Dinda tak memikirkan hal itu lagi, ngapain dipikirin, yang penting Kevin balik kesini lagi, pikir Dinda.
"Kevin," teriak Dinda.
"Apa sih teriak-teriak? aku denger kali." jawab Kevin yang sedang sarapan di meja makan.
Dinda duduk disebelah Kevin untuk sarapan bersama.
"Ish, pagi-pagi udah ngomel aja," cibir Dinda gemas.
"Ngapain pake seragam kaya aku? kamu sekolah di sana?" tambahnya.
"Kata siapa?"
"Lah terus kamu pake seragam yang sama mau apa?"
__ADS_1
"Kata siapa aku gak sekolah di Garuda emas?"
"Ish, kamu ngeselin ya ...." Dinda mencubit pinggang Kevin.
"Udah jangan berantem terus, berangkat sana, nanti kalian telat." Lerai sang Ibu.
"Iya Mah, bentar lagi, nunggu Dinda selesai makannya."
"Yasmin mana?" tanya Dinda dengan mulut penuh makanan.
"Telen dulu, baru ngomong," ujar Kevin.
"Ade masih tidur, tadi habis nangis," jawab SafiraβIbu ketiga anak itu.
"Ou iya, kenapa Papah bolehin Kevin tinggal disini? biasanya kan Papah yang paling ngelarang Kevin tinggal disini?" tanya Dinda yang teringat akan pertanyaan yang tadi muncul di benaknya.
Kevin dan Safira diam, mereka saling pandang memandang seperti meminta persetujuan satu sama lain.
"Kenapa diem aja?" tanya Dinda lagi.
"Papah ...." ucapan Safira terhenti.
"Papah meninggal," jawab Kevin cepat tanpa melihat kearah
Deg!
Jantung Dinda seakan berhenti berdetak.
Hatinya terasa sakit mendengar kabar itu.
Tak terasa setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya.
"Din, gak perlu nangis, Papah udah tenang di sana." Safira mengusap punggung Dinda sembari menenangkannya.
"Ngapain nangisin Papah sih? Papah aja udah gak sayang kita," omel Kevin yang masih kesal dengan sang Ayah.
"Vin, gak boleh gitu." Safira mengingatkan.
"Bener kan Mah? Papah aja udah gak memperdulikan kita." Kevin masih pada pendiriannya.
"Udah, nanti pulang sekolah kamu anterin aku ke makam Papah," ucap Dinda meleraikan.
"Dinda berangkat ya Mah," pamitnya pada Safira di susul Kevin.
"Hati-hati ya, belajar yang bener, jangan lupa berdoa sebelum belajar, Kevin juga harus jagain adeknya ya," pesan sang Mamah.
"Siap Mah, aku bakal jagain adek aku yang cerewet ini." Kevin berusaha mencairkan suasana.
Dinda hanya merespon dengan senyum tipis.
tanpa banyak basa basi mereka pergi berangkat ke sekolah.
__ADS_1
π¦π¦π¦π¦π¦
jangan lupa like dan komen πππ