
Entah kenapa rasanya Raffa tak terima melihat Kevin dan Dinda yang begitu perhatian menurutnya.
"Eh, lo kalo main hati-hati dong, jadi kena Dinda kan!" Kevin mendorong Raffa.
"Salah siapa dia lewat sini." Raffa yang tak terima di dorong akhirnya mendorong balik tubuh Kevin.
"Lo laki kan? masa gak mau disalahin sih? jelas-jelas lo yang salah, malah nyalahin cewek," ketus Kevin.
"Kenapa? gak terima? emang dia siapanya lo?"
Kevin yang merasa tertantang akhirnya menonjok pipi Raffa spontan dan Raffa membalasnya.
Mereka ribut di tempat. Dinda dan yang lain berusaha melerai mereka.
"Vin udah," ucap Dinda tapi tidak mendapat respon dari Kevin.
"Raff, udah, jangan kaya anak kecil dong." Kini Dinda beralih untuk menenangkan Raffa.
Nazwa hanya diam melihat itu. Dia tidak melakukan apapun selain menonton adegan yang membuat beberapa murid heboh dengan sendirinya.
Karena tak ada pilihan lain Dinda masuk di tengah-tengah mereka yang tengah berantem.
Bug!
Satu hantaman Raffa mengenai pipi Dinda yang mulus itu.
"Aw ...." pekik Dinda.
"Din, kamu gak papa?" tanya Kevin yang khawatir akan keadaan Dinda.
"Gak, gak papa," jawab Dinda.
"Tapi kami berdarah." Kevin mengusap darah yang mengalir dari ujung bibir Dinda.
"Gak papa Vin," jawab Dinda karena tak ingin Raffa semakin di salahkan.
"Ini semua gara-gara lo ya, gue akan bikin lo perhitungan," ancam Kevin.
"Eh, dia yang salah, kenapa gue yang disalahin?" ucap Raffa tak terima.
"Udah!" Lerai Dinda.
Kevin dan Raffa saling diam untuk beberapa saat.
"Kita ke ruang kesehatan ya," ajak Kevin.
"Biar gue yang tanggung jawab." Raffa menarik tangan Dinda spontan.
"Raff, biar gue sama Kevin aja."
Deg!
Ternyata begini rasanya di tolak sama orang, pikir Raffa. Apalagi orang itu sudah tulus padanya.
"Udah sama gue aja." Raffa memaksa.
"Kalo gak mau jangan di paksa," ujar Kevin penuh penekanan.
__ADS_1
"Terserah!" Raffa pasrah.
***
"Vin, harusnya lo gak perlu pake berantem segala," ucap Dinda yang sedang di obati Kevin.
"Aw ... sakit, pelan-pelan kek," rintih Dinda.
"Kalo orang kaya dia dibiarin bakal ngelunjak."
Ting!
Satu notif untuk Sinta. Dia segera membuka handphone-nya.
"Gue keluar duluan ya," pamit Sinta.
"Iya deh, yang sekarang udah ada yang punya," kekeh Dinda.
"Apaan sih Din, jangan bikin malu ih." Sinta memalingkan wajahnya yang kini udah mirip udang rebus.
"Gue duluan ya," tambahnya.
"Kamu itu berdarah," tunjuk Dinda pada dahi Kevin.
"Biar aku obatin ya."
"Din!" panggil seseorang yang baru masuk ke ruang kesehatan.
"Nazwa? ngapain lo kesini?" tanya Dinda yang kaget akan kehadiran Nazwa.
"Iya Naz, gue baik-baik aja kok."
"Raffa gimana? apa dia juga udah di obatin? tadi gue liat hidungnya ngeluarin darah!?" tanya Dinda.
"Udah Din," jawab Nazwa.
"Din, gue mau ngomong berdua sama lo," tambahnya.
Dinda mengernyit, "ngomong apa?"
Nazwa tak menjawab, dia melirik Kevin yang masih terdiam menyimak percakapan Dinda dan Nazwa.
"Vin, kamu keluar dulu ya?" mohon Dinda.
"Kenapa? aku masih pengin sama kamu."
"Vin!" Dinda memberi kode pada Kevin.
"Iya-iya, aku keluar," sahutnya. "Lo jangan pernah macem-macem sama Dinda."
"Vin, dia temen baik aku."
"Jangan kamu pikir aku gak tau masalah kamu." Kevin pergi dari ruang kesehatan.
Deg!
Dinda tak menyangka kembarannya akan tau semua masalahnya selama ini.
__ADS_1
Tapi kenapa dia tidak bilang? kenapa harus ditutupi? pikir Dinda.
Dinda melupakan urusannya dengan Kevin, kini dia beralih pada Nazwa yang masih menunggunya.
"Kenapa Naz? apa yang mau lo omongin?" tanya Dinda.
"Din, maafin gue ya." Nazwa dengan spontan memeluk tubuh Dinda.
"Eh? Naz, kenapa?" Dinda mengerutkan keningnya.
Dinda melepas pelukannya.
"Din, maafin gue, gue bener-bener gak tau kalo lo suka sama Raffa," ucap Nazwa dengan derai air mata.
"Gue emang jahat, gue emang udah rebut apa yang udah lo perjuangin selama ini."
"Gue udah tau semuanya dari Evan, mulai dari lo yang udah ngorbanin diri lo sampai lo amnesia sampai lo ditolak Raffa berkali-kali dan Raffa maki-maki lo." Nazwa menghela nafasnya.
"Udah Naz, semua udah berlalu, gak perlu ada yang disesali." Dinda menenangkan Nazwa.
Dia memang sudah merelakan Raffa untuk Nazwa, walau masih terasa sakit saat melihat kemesraannya.
"Emang Evan ngadu sama lo?" tanya Dinda.
"Gak Din! gue yang nanya karena gue ngerasa kalo Raffa itu kaya gak tulus sama gue," jawab Dinda.
"Naz, Raffa tuh tulus sama lo, gue yakin itu, cuman caranya aja yang berbeda dari yang lain terutama mantan-mantan lo."
"Lo tau tentang mantan-mantan gue," tanya Nazwa.
"Iya, Raffa cerita sama gue, waktu gue sama dia gak sengaja ketemu, dia keliatan frustasi banget setelah berdebat sama lo." Dinda meyakinkan Nazwa.
"Din, gue bener-bener minta maaf ya, kalo lo masih mau perjuangin cinta lo, gue bakal putusin Raffa sekarang juga," ucap Nazwa mantap.
"Eh, jangan Naz, gue udah gak ada perasaan apa-apa sama dia kok," tolak Dinda cepat, walau dalam hatinya masih sakit.
"Apa karena ada Kevin?"
"Bukan, Kevin aja sau ...." ucapan Dinda terhenti saat suara dering telepon Nazwa berbunyi.
"Bentar ya Din, gue angkat telepon dulu." Nazwa sedikit menjauh dari Dinda.
Setelah beberapa saat Nazwa menerima telepon, dia kembali pada Dinda yang masih setia menunggunya.
"Din, gue harus ke sana sekarang, katanya Raffa pingsan," ucap Nazwa saat selesai menelpon.
"Raffa pingsan?" tanya Dinda memastikan.
"Iya, gue ke sana duluan ya," pamit Nazwa.
"Iya, kabarin gue kalo ada kabar selanjutnya tentang Raffa."
Nazwa mengacungkan jari jempolnya mengiyakan ucapan Dinda barusan.
💦💦💦💦💦
jangan lupa like dan komen 💐💐💐
__ADS_1