Mengejar Cinta Raffa

Mengejar Cinta Raffa
BAB 12


__ADS_3

Hari ini hari pemilihan ketua OSIS.


Awalnya pemilihan itu dilaksanakan seminggu lalu, tapi karena Bu Dian yang mengurus semua urusan OSIS sedang sakit dan diharuskan menunggu sampai Bu Dian sembuh.


Dinda masih sama seperti dua hati lalu saat hati Dinda benar-benar hancur karena Raffa.


Dia masih belum bisa menerima semua ini dengan lapang dada.


"Din!" panggil Bu Dian.


Dinda menghampiri Bu Dian yang kini menatapnya sambil tersenyum.


"Udah kamu siapkan semuanya? hari ini pemilihan ketua OSIS."


"Eh? pemilihan ketua OSIS?" Dinda menautkan kedua alisnya.


"Iya, kan kamu disuruh jadi ketua pemilihan OSIS, gimana apa sudah siap semua?"


Dinda masih mencerna ucapan Bu Dian, dia benar-benar lupa akan hal itu.


"Ah ... iya Bu, saya lupa," ucapnya dengan malu.


"Aduh Dinda, gimana ini? pemilihannya kan harusnya hari ini," sahutnya dengan sedikit kecewa.


Untungnya Dinda adalah murid kesayangan Bu Dian karena Dinda selalu aktif dalam kegiatan sekolah, tidak seperti yang lain selalu suka bolos bahkan Sinta juga sering bolos.


"Ya udah, kalo gitu Bu Dian kasih waktu dua hari untuk mempersiapkan semuanya."


"Wakilnya?" tanya Dinda yang masih belum mengerti siapa wakilnya.


Dinda juga tak mungkin bisa mengerjakan semuanya sendiri.


Tak mungkin juga dia harus selalu meminta bantuan pada Sinta, dia tak ingin selalu merepotkan Sinta yang selalu bai padanya.


"Bu Dian sudah sepakat sama wakil ketua, yang jadi wakil pemilihan ketua OSIS Raffa."


Deg!


Ini benar-benar diluar dugaan Dinda.


Kenapa harus Raffa? kan bisa yang lain? pikir Dinda.


"Raffa?"


"Iya Raffa, gak papa kan?"


"Gak bisa diganti Bu?" mohon Dinda.


"Emang kenapa dengan Raffa?" tanya Bu Dian.


"Hm ... gak papa sih Bu." Dinda memang ingin merahasiakan masalah ini dari siapapun termasuk guru-guru di sekolah.


Ting!


Bu Dian mengambil handphone-nya yang berbunyi, menandakan adanya pesan masuk.


Bu Dian membaca pesan itu dan setelahnya Bu Dian pergi karena ada urusan mendadak, kata Bu Dian.


"Bu Dian tinggal ya, lusa harus sudah siap semua ya." Setelah berkata Bu Dian pergi meninggalkan Dinda yang masih mematung menatap langkah Bu Dian.


***


Evan, Iqbal dan Raffa berada di sebuah bangunan yang mereka anggap sebagai tempat tongkrongan mereka.


"Gue cabut dulu ya, mau urus pemilihan ketua OSIS," ucap Raffa.

__ADS_1


"Raff, berdua lah, kan ketuanya Dinda, kalian harus diskusi tentang ini," saran Evan.


"Gue mau ajak Nazwa, dia juga pasti bisa kok," sahut Raffa.


"Raff, yang dikasih tugas dinda sama lo bukan Nazwa."


"Emang kenapa? kan gak ada yang salah."


"Salah, itu salah, lo harusnya bisa bertanggungjawab sebagai laki-laki," ucap Evan.


"Iya Raff, lo harus bisa tanggungjawab," tambah Iqbal.


"Ah! tau ah, gue mau pulang aja," Raffa meninggalkan bangunan itu.


"Semoga aja berhasil ya," ujar Evan dan di angguki Iqbal.


***


Raffa terus teringat pesan Bu Dian saat dirinya dipilih menjadi wakil ketua pemilihan OSIS.


"Kalo bukan karena Ayah, gue males banget kaya gini, apalagi sama cewek gak jelas itu," kesel Raffa.


"Bu Dian pake ngancem segala, kalo Ayah lagi diluar kota udah gue tolak tuh," tambahnya.


Raffa yang selalu dituntut untuk menjadi juara satu di sekolah membuatnya merasa tertekan.


Ayahnya selalu memarahinya karena dia tidak pernah mendapatkan posisi pertama, kedua ataupun ketiga.


Karena lelah selalu memarahinya sang Ayah selalu menuntut agar dia mau menuruti perintah guru, apapun perintahnya.


Karena itu, Raffa tidak bisa menolak perintah Bu Dian.


Bu Dian juga mengancamnya kalau Raffa tidak mengikuti perintahnya.


Semua guru dan siswa sudah mengetahui masalah Raffa dan Ayahnya.


Ini juga sebagian rencana Evan dan Iqbal untuk mendekatkan Dinda dan Raffa kembali.


Bu Dian yang juga diancam Evan dan Iqbal akhirnya mengalah untuk menuruti perintahnya.


"Bu Dian kalo gak mau, bakal saya aduin ke Ayah Raffa," ucap Evan saat mereka sedang berdiskusi tentang pemilihan ketua OSIS.


"Iya-iya, kok jadi kalian yang ngancem guru?" Heran Bu Dian.


"Ya udah kalo Bu Dian gak mau, tinggal telpon Pak Alex," ancam Evan lagi.


"Eh, jangan dong, nanti sekolah ini gimana? kalian mau sekolah ini tutup karena kekurangan biaya? selama ini yang selalu membantu sekolah ini kan pak Alex," ucap Bu Dian.


"Kalo sekolah ditutup sih kita gak masalah, kita bisa cari sekolah lain, tapi Bu Dian gimana?" Bu Dian yang awalnya juga mau mengancam balik Evan malah dia salah umpan.


"Iya sudah, iya nanti Bu guru bilang sama Dinda dan juga Raffa."


"Tapi Bu Dian jangan bilang kalo ini ide kita," Evan kembali mengancam Bu Dian.


"Iya-iya." Bu Dian menghela nafas lega setelah menghadapi murid seperti Evan, Iqbal dan Raffa.


Dia selalu kualahan saat mengurus mereka karena mereka yang mempunyai kuasa di sekolah.


***


Ting!


Dinda membuka handphone-nya untuk melihat siapa yang mengirim pesan.


Setelah melihat siapa yang mengirim pesan ada rasa benci dan senang.

__ADS_1


Raffa.


[Gue tunggu lo di cafe deket sekolah.]


Hanya itu yang Raffa kirim pada Dinda lewat via WhatsApp.


Dinda yang membaca pesannya kembali sedih karena Raffa masih cuek padanya dan dia teringat kembali saat-saat Raffa menyatakan cintanya pada Nazwa.


Sakit itu masih membekas di hati Dinda.


Tapi Dinda tak kuasa untuk membenci Raffa karena cintanya yang begitu besar.


Tanpa membalas pesannya Dinda langsung bersiap-siap untuk menemui Raffa yang sudah menunggunya di cafe.


Sesampainya di sana ternyata Raffa belum terlihat, Dinda memilih menunggu sambil menikmati es coklat yang dia pesan sembari menunggu Raffa.


"Lama banget, kirain gue yang ditungguin ternyata gue yang nunggu," gerutu Dinda yang sudah 15 menit menunggu Raffa.


"Kita langsung mulai aja," ucap seseorang dari belakang Dinda.


"Bisa gak sih, kalo dateng tuh sapa dulu kek, bikin kaget aja," omel Dinda yang kaget akan kehadiran Raffa yang seperti hantu menurutnya.


"Gak usah banyak basa-basi, kita langsung mulai aja," ketusnya.


"Lo gak pesen dulu?"


"Gue bilang langsung aja, bawel banget sih," sentak Raffa.


"Iya, galak banget sih kaya orang lagi pms." Dinda berusaha santai menanggapi Raffa yang kini emosi.


Raffa dan Dinda mulai membicarakan tentang pemilihan ketua OSIS yang akan di adakan lusa.


Obrolan mereka perlahan-lahan mulai menghangat dan santai.


Sampai tiba-tiba ada suara yang membuat Dinda ingin tertawa geli.


Kruyukkkk ....


"Kalo laper mah makan aja, gak udah malu," ucap Dinda sambil menahan tawanya.


"Berisik lo." Raffa bangkit dari duduknya dan memesan cemilan.


"Kenapa harus ke sana? kan pesen dari sini juga bisa!?" sindir Dinda saat Raffa kembali duduk.


"Gue bilang jangan berisik, gak bisa dibilangin ya lo," geram Raffa.


Pesanan Raffa datang.


Raffa melahap makanannya, Dinda hanya melihat Raffa yang tengah makan sambil mengobrol.


"Liatin mulu, lo denger gue ngomong gak?" cetus Raffa.


"Denger kok, lagian siapa juga yang liatin lo, gr banget," cibir Dinda.


"Waktu gue nembak Nazwa lo kemana?" tanya Raffa iseng.


"Gue ada, mungkin lo gak liat gue kali," sergah Dinda.


Mood Dinda yang tadinya membaik sekarang malah dirusak Raffa dengan pertanyaan yang tidak ingin Dinda dengar.


"Lo gak cemburu kan?" Raffa sengaja bertanya soal itu pada Dinda karena dia ingin membuat Dinda tidak betah dekat dengannya dan acara di cafe ini cepat selesai.


"Cemburu sih iya, tapi kan itu hak lo," jawab Dinda berusaha santai.


"Bagus deh kalo lo tau," jawab Raffa kesel karena Dinda menyahutnya dengan santai.

__ADS_1


💦💦💦💦💦💦


Jan lupa like dan komen 🙏


__ADS_2