
Nazwa akan mengembalikan buku fisika milik Evan di taman.
Dia sudah ada janji dengan Evan, akan bertemu di taman untuk mengembalikan buku Evan yang ia pinjam.
"Lama banget sih?" gerutu Nazwa yang sudah dari tadi menunggu Evan tiba.
"Maaf lama, tadi jalan macet," ucap Evan saat dirinya berada di samping Nazwa.
"Nih, makasih ya, lama banget gue tungguin dari tadi, sampe digigit nyamuk tuh," protes Nazwa sambil menunjukan tanda saat dia digigit nyamuk tadi.
"Iya maaf, emang lo udah selesai?" tanya Evan.
"Udah," jawab Nazwa singkat.
"Gue langsung cabut ya, masih ada urusan."
"Iya, thanks ya," sekali lagi Nazwa berterima kasih.
Evan langsung cabut begitu percakapannya dengan Nazwa selesai.
"Mau pulang males, duduk dulu deh," Nazwa memilih duduk di taman itu sebentar.
***
Raffa sedang mengendarai mobil menuju taman.
Dia bosen di rumah dan memutuskan untuk pergi ke taman.
Tadinya ia ingin pergi ke danau itu, tapi takutnya dia bertemu lagi dengan Dinda.
"Seger banget udara di sini." Raffa mulai mencari tempat duduk di sekitarnya.
Sore itu Raffa memutuskan untuk mencari udara segar. Rasa suntuknya yang menyerang membuatnya tak betah jika terus-terusan berada di rumah.
Dia mengedarkan matanya, mencari tempat duduk yang masih kosong.
Tapi matanya tertuju pada sosok yang ia kenal.
Nazwa.
Ya dia mengenalnya, dia Nazwa teman kelasnya.
__ADS_1
Dia menghampiri Nazwa yang sedang melamun menatap bunga yang ada di depannya.
"Hai," sapa Raffa.
Nazwa yang kaget menoleh dan mendapati Raffa yang berdiri sambil tersenyum kearahnya.
"Raffa? kok lo ada di sini?" tanya Nazwa yang kaget akan kehadiran Raffa.
"Emang gak boleh?" Raffa bertanya balik.
"Ya ... boleh-boleh aja sih, ini kan juga tempat umum," jawab Nazwa.
"Apa lo ngikutin gue?" tambahnya.
"Kurang kerjaan amat ngikutin lo," sahut Raffa.
"Terus ngapain?"
"Cari udara seger aja, suntuk di rumah."
Nazwa hanya ber'oh' ria. Keduanya kembali diam. Tak ada yang memulai obrolan.
Nazwa yang takut lebah berusaha menghindar sambil berteriak.
Raffa berusaha membantu Nazwa agar lebah itu pergi.
Setelah lebah itu pergi kini keduanya bernafas lega.
Tapi tanpa sengaja Nazwa tersandung batu yang cukup besar hingga akhirnya dia terjatuh dan dengan cepat Raffa menolongnya agar Nazwa tak terjatuh.
Kini keduanya saling tatap-menatap, orang-orang yang melihat akan mengira mereka sedang berpelukan karena posisi mereka seperti sedang berpelukan.
Mereka tak sadar jika ada sepasang mata yang kini sedang menatapnya.
Dinda.
Dinda melihat adegan itu dan ia juga mengira mereka sedang berpelukan.
Dinda hanya diam menatap Raffa dan Nazwa yang sedang berpelukan menurutnya.
"Ta, tata liat apa?" tanya adik kecilnya.
__ADS_1
Dinda yang ditanya hanya diam, dia seperti tidak bisa menjawab pertanyaan sang adik.
Mulutnya kini terasa sedang di kunci, matanya juga memanas siap meluncurkan air mata.
Satu tetes air mata berhasil lolos dari pelupuk matanya.
Matanya tak lepas melihat Nazwa dan Raffa yang kini masih sama tak ada pergerakan sama sekali.
"Ta, tata nangis?" Adiknya yang sadar pertanyaannya belum di jawab menoleh pada sang Kakak untuk bertanya kembali tapi yang dia lihat kini sang kakak sedang menangis.
Dinda masih belum bergeming.
"Ta ...." Teriak Yasmin—adik Dinda.
"Eh ... iya de? kenapa?" sahut Dinda kaget.
"Tata kenapa? tata nangis?" Yasmin mengulang pertanyaannya tadi.
"Ha? nangis? gak de, tadi ada debu masuk mata Kakak," jawab Dinda mengusap air matanya.
"Kita pulang sekarang ya?" ajak Dinda.
"Ya ... pulang, Ade masih pengen disini." Tolaknya khas anak kecil.
"Pulang aja ya, udah sore pasti Mamah nyariin," bujuk Dinda dan dibalas anggukan sang adik.
***
"Eh, maaf." Raffa melepaskan rangkulannya tadi saat menyelamatkan Nazwa.
"Thanks." Nazwa membenarkan posisinya.
Raffa yang salah tingkah pamit pulang lebih dulu.
Dan menyisakan Nazwa yang masih setia di taman.
'Kok gue jadi deg-degan ya?' batin Nazwa
🧬🧬🧬🧬🧬🧬
jangan lupa like dan komen
__ADS_1