
Dinda dan Raffa berada di sebuah tempat yang Dinda tidak tau tempat itu tempat apa.
Dia hanya mengikuti Raffa, berusaha sebisa mungkin percaya Raffa tidak akan berbuat nekat atau di luar batas.
Berkali-kali Dinda bertanya, tapi Raffa sekali mengabaikannya.
Dinda kini tak mengikuti Raffa, dia takut dirinya akan semakin jauh masuk ke dalam bangunan itu dan tak tau arah jalan keluarnya.
"Heh, ngapain lo jongkok disitu?" teriak Raffa yang baru menyadari Dinda tak mengekorinya lagi.
Dinda diam. Dia tak menjawab ataupun bereaksi untuk menyahut ucapan Raffa.
Raffa yang tidak mendapat respon akhirnya menghampiri Dinda yang masih berjongkok.
"Ayo! ngapain lo malah jongkok?" ajak Raffa.
"Capek!" Dinda beralasan.
Tiba-tiba Raffa ikut berjongkok membelakangi Dinda.
"Ayo naik!" perintah Raffa.
"Naik?"
"Iya, cepat!"
"Gak, gue mau pulang aja." Rengek Dinda.
"Kalo gak mau gue tinggalin lo disini." Ancam Raffa.
Dinda yang tidak hafal jalan pulang hanya pasrah.
Dia takut jika dirinya di tinggal seorang diri di gedung tua itu.
Dinda yang pasrah di gendong Raffa hanya diam dan menutup matanya berharap ini hanya mimpi.
Raffa berhenti. Dinda yang merasakannya membuka mata.
"Kita dimana?" tanya Dinda sambil turun dari gendongan Raffa.
"Di taman!" jawab Raffa seadanya.
"Perasaan tadi kita di gedung? kenapa malah kita di sini?" tanya Dinda bingung.
"Lo tadi tidur?" tanya Raffa balik.
"Gak! cuman merem aja."
.
.
.
"Duduk yuk!" ajak Raffa.
__ADS_1
Dinda hanya mengikuti Raffa karena dia benar-benar tidak tau dirinya harus berbuat apa.
Mereka duduk di kursi panjang yang ada di sana.
Di sana benar-benar, tidak ada manusia satupun kecuali Raffa dan Dinda.
"Langsung ke intinya aja ya!" pinta Dinda.
"Yang pertama gue mau tanya, apa alasan lo suka sama gue?" Raffa memulai dengan satu pertanyaan.
"Kenapa lo tiba-tiba ngomong gitu?" Dinda merasa aneh saat Raffa menanyakan hal itu.
"Jawab aja dulu, apa susahnya jawab sih?" Kini Raffa malah mengomeli Dinda.
"Kok lo maksa sih?" Dinda tak mau kalah.
"Jawab Din," ucap Raffa penuh penekanan.
"Raff, gak ada alasan buat gue suka sama lo, begitu juga dengan rasa sayang gue sama lo, juga gak ada alasan." Dinda menjawab seadanya.
"Bukan karena gue ganteng?" tanya Raffa dengan PD-nya.
Dinda mendengus mendengar penuturan Raffa.
"Kalo masalah ganteng bisa belakangan, itung-itung bonus," sahut Dinda.
"Kenapa gak ada alasan?" tanya Raffa yang belum mengerti maksud Dinda.
"Karena perasaan itu datang tiba-tiba, gue juga gak tau pertama gue suka sama lo itu kapan, yang gue tau, gue selalu suka liat lo, liat senyum lo, saat lo tertawa dan gue setiap hari selalu memastikan kalo lo masih ada di dunia ini dan gue masih bisa menatap lo walau dari jauh." Jelas Dinda panjang lebar.
"Lo ... lo ... bener-bener tulus sama gue?" tanya Raffa tak enak hati.
"Sekarang gue yang nanya sama lo!" Tiba-tiba Dinda terbesit di pikirannya untuk menanyakan sesuatu pada Raffa.
"Asal gak aneh-aneh, bakal gue jawab." Raffa hanya bersikap santai.
"Alasan lo nolak gue apa?" Pertanyaan singkat itu terbesit di pikiran Dinda.
"Gue masih trauma."
"Kenapa?"
"Waktu gue sama Monic, gue selalu dibanding-bandingkan dengan selingkuhannya. Awalnya dia yang menyatakan cintanya, gue terima karena gue juga memang suka sama dia, gue kira dia serius, tapi ...." Raffa tak melanjutkan kata-katanya.
"Gak papa kalo lo gak mau nerusin, gue paham kok." Dinda menenangkan Raffa.
"Maaf, gara-gara gue lo harus membuka luka lama itu." Tambahnya.
"Gue minta maaf ya, gue belum ngomong makasih sama lo karena lo udah menyelamatkan nyawa gue." Raffa mengingat kejadian yang membuat Dinda hilang ingatan.
"Gue ikhlas," sahut Dinda.
"Tadi baru satu, masih ada lagi yang pengin gue tanyain sama lo," ucap Raffa kembali pada topik pembicaraan awal.
"Ya udah, lanjut!"
__ADS_1
"Lo sama Kevin pacaran?" pertanyaan itu membuat Dinda kaget.
Dia tidak menyangka Raffa akan berpikir sejauh itu.
"Gue sama Kevin ...." Dinda tak melanjutkan ucapannya karena benda pipih yang ada di dalam tasnya berbunyi.
"Gue angkat dulu ya," ujar Dinda dan di angguki Raffa.
Dinda sedikit menjauh dari Raffa yang kini masih menatap Dinda.
Matanya tak henti-hentinya menatap punggung Dinda.
Dia masih belum percaya dengan semua yang Dinda ucapkan.
Tapi, dia melihat ada kesungguhan dari mata Dinda.
Tak lama Dinda kembali setelah urusan dengan teleponnya selesai.
"Maaf lama."
"Gak papa, jadi lo sama Kevin gimana?" tanya Raffa yang sudah tidak sabar menunggu jawaban dari Dinda.
Baru saja Dinda ingin menjawab, tiba-tiba,
Ting!
Dinda membuka pesan yang masuk.
Dia membacanya sekilas dan menatap Raffa secara bergantian dengan benda pipih itu.
Wajahnya terlihat bingung, Raffa yang menyadari itu akhirnya bertanya.
"Kenapa? kaya bingung gitu?"
"Kevin suruh gue pulang sekarang, katanya ada yang penting," jawab Dinda tak enak hati.
"Dia tuh ganggu banget, pengen banget tuh orang gue buang." Omel Raffa.
"Sorry Raff, gue harus pulang, lo anterin gue ya?"
"Pulang aja sendiri." Oceh Raffa kesal.
"Raff, gue gak tau kita dimana, kalo lo gak mau anter gue pulang, setidaknya lo anter gue sampe depan jalan raya, biar gue bisa pulang sendiri." Dinda kini tak kalah emosi karena memang dia sudah sangat lelah menghadapi sifat Raffa yang selalu berubah-ubah semaunya.
"Ikutin jalan ini, nanti juga lo tau," sahut Raffa
Dinda hanya diam. Dia yang sudah bener-bener emosi, meninggalkan Raffa yang masih setia memandang kepergian Dinda.
Benar yang di katakan Raffa, dia hanya perlu mengikuti jalan tadi, dia sudah sampai di depan jalan raya.
Raffa yang kini tengah frustasi atas perasaannya sendiri hanya bisa diam.
Dia sedang mengatur perasaannya saat ini.
💦💦💦💦💦
__ADS_1
like dan komennya.. 💐💐💐
ramein yuk! .....