
Dua Minggu berlalu.
Tepat dihari ini adalah pengumuman kelulusan kelas dua belas.
Dengan perasaan masing-masing mereka menunggu giliran.
Satu persatu murid kelas dua belas mengambil surat keputusan dari sekolah.
Setalah di rasa semua sudah di bagikan, mereka diizinkan untuk membukanya secara bersamaan.
Mereka harus menerima kenyataan apapun yang akan terjadi.
Kevin menghela nafas lega saat melihat tulisan LULUS di kertas baru saja dibagikan.
Begitu juga dengan Raffa, Evan, dan Iqbal. Mereka semua lulus dengan nilainya masing-masing.
Semua bersorak gembira saat semua siswa-siswi mendapatkan nilai yang memuaskan dan bisa lulus dengan nilai yang menurut mereka cukup memuaskan.
"Dinda ... aku lulus." teriak Kevin menghampiri Dinda yang sudah tersenyum penuh haru dan bangga karena Kevin termasuk murid paling cerdas di kelas dua belas tahun ini.
"Selamat ya." Dinda membalas pelukan Kevin.
"Harusnya kamu lulus bareng aku, tapi gara-gara kamu nolongin Raffa, kamu harus kaya gini." Bisik Kevin yang merasa kesal karena tidak bisa lulus bersama dengan Dinda yang seharusnya mereka bisa kuliah bersama.
"Gak papa, lagian ini bukan salah Raffa, aku ikhlas nolongin dia." Dinda melepas pelukannya.
Setelah mengobrol ringan dengan Kevin sesaat, kini Dinda beralih menuju Nazwa yang duduk sendiri.
"Naz, selamat ya! semoga kamu bisa sukses terus kedepannya." Dinda mengulurkan tangannya.
"Makasih ya, tapi lo kayanya gak perlu so baik kaya gini deh!" Nazwa menerima uluran tangan Dinda dengan ucapan pedas yang ia keluarkan.
"Maksud lo apa?"
"Gak usah so suci deh, lo udah rebut apa yang gue punya." Ucapnya penuh penekanan.
"Ngerebut yang lo punya? maksudnya apa?" Dinda masih belum mengerti apa yang di katakan Nazwa.
"Mending, lo jauh-jauh dari gue, soalnya gue alergi sama lo."
"Naz, kok lo berubah sih?" ujar Dinda dengan perasaan kecewa karena Nazwa yang sudah dianggap sebagi teman baiknya malah mengatakan apa yang seharusnya tidak dia katakan.
"Semua perubahan gue karena lo, lo yang mulai semuanya." Tekan Nazwa.
Nazwa pergi meninggalkan Dinda yang masih mematung menatapnya tak percaya.
"Udah, gak usah dipikirin, dia emang gitu, kamu salah saat memilihnya untuk menjadi teman." Ucap seseorang yang berhasil mengagetkan Dinda.
"Eh, Raffa?"
"Iya, kenapa? kok lo kaget gitu?" tanya Raffa.
"Kalo gue salah dalam memilih teman, lo salah milih apa?" sindir Dinda.
"Iya, gue tau! tapi gue khilaf." bisik Raffa.
"Btw, selamat ya ... nilai lo lumayan bagus, gak kaya sebelumnya." Canda Dinda.
"S*alan, lo," umpat Raffa.
"Siap-siap ya ... lo bakal di marahin lagi sama bokap lo," ejek Dinda.
"Biarin aja, udah biasa juga. Biar gue gak dimarahin, lo ikut gue ya?" Raffa tiba-tiba terlintas ide untuk bisa pergi dengan Dinda.
"Kemana?" tanyanya.
"Ke rumah gue, biar bokap gue gak bisa marahin gue." jawab Kevin.
"Gak mau, emang gue apaan, dijadiin kaya gitu," cibir Dinda.
"Jadi, mau gak? masa lo gak kasian sama gue?" bujuk Raffa.
"Hm ... gimana ya?"
Baru saja Dinda ingin menjawab, Kevin datang dan langsung memeluk Dinda dari belakang. Dia sengaja melakukannya agar Raffa merasa panas dan emosi.
__ADS_1
Entah kenapa rasanya seneng kalo liat Raffa emosi, pikir Kevin.
"Din, jalan-jalan yuk, buat ngerayain kelulusan aku!?" ajak Kevin.
"Hah? jalan-jalan?" Ulang Dinda.
"Iya, pulang dari sini kita jalan-jalan." Kevin mengiyakan.
Dinda yang bingung hanya bisa menatap Raffa. Tapi yang di tatap malah cuek dan tidak peduli dengan kebingungan yang sedang Dinda alami.
'Gue harus bisa jalan sama Dinda,' batin Kevin dan juga Raffa berbarengan.
Mereka mempunyai tujuan masing-masing. Kevin tujuannya untuk bersenang-senang, merayakan kelulusannya dan sekaligus membuat Raffa terbakar oleh api cemburu, karena dia tau, Raffa itu berlahan sudah mencintai Dinda, walau masih putih abu-abu.
Sedangkan, Raffa bertujuan agar bisa jalan berdua dengan Dinda sekaligus supaya dirinya tidak mendapat omelan oleh sang Ayah.
"Gimana kalo aku sama kamu perginya nanti malem?" tawar Dinda pada Kevin.
"Maksudnya?"
"Nanti aku sama Raffa pergi dulu, kalo udah selesai baru pergi sama kamu." Jelas Dinda.
"Emang mau kemana? kok kamu lebih milih sama dia?" tanya Kevin. Sedangkan Raffa tersenyum penuh kemenangan.
"Jangan seneng dulu." cibir Kevin.
"Gak tau, tapi aku mau temenin Raffa buat ketemu sama bokapnya." jawab Dinda.
"Ngapain?"
"Bantu dia ngomong, biar dia gak di marahin."
"Ngomong apa?"
"Ya ... biar bokapnya gak marahin dia karena nilainya yang tidak terlalu memuaskan." Jawab Dinda seadanya.
Seketika Kevin menahan tawa mendengar penuturan Dinda barusan.
Raffa yang baru menyadari ucapan Dinda tadi, merasa malu. Mau marah tapi memang benar adanya. Dia hanya bisa merenggut melihat Kevin yang sedang menahan tawa.
"Beneran boleh?" tanya Kevin iseng.
"Hem."
Dengan konyolnya Kevin malah tertawa terbahak-bahak. Entah kenapa kejadian itu menurutnya lucu.
'Dasar lemot, baru ketawa setelah dapet izin,' batin Raffa.
"Yuk, mending kita pergi sekarang, dari pada ketularan gila." Raffa menarik tangan Dinda agar pergi dari tempat terkutuk itu.
"Bilangin sama Mamah ya, nanti aku langsung pulang." Teriak Dinda yang masih terus mengikuti Raffa.
Kevin mengacungkan jari jempolnya bertanda dia mengiyakannya.
Setelah kepergian Raffa dan Dinda, Kevin memilih bergabung dengan yang lain.
***
Di lain tempat.
Dinda dan Raffa sedang berada di rumah yang cukup megah.
Dinda duduk di ruang tamu sembari menunggu Raffa yang sedang bertemu dengan sang Ayah.
.
.
.
"Gimana nilai kamu?" tanya Ayah Raffa yang masih duduk di kursi kerjanya.
"Kalo Ayah pengen tau, Ayah harus ikut aku ke bawah, rapotnya ada di sana." Raffa sengaja meninggalkan nilai hasil ujiannya di ruang tamu dan menitipkannya pada Dinda.
"Bawa sini aja, Ayah masih banyak kerjaan." tolaknya.
__ADS_1
"Ya udah kalo ayah gak mau liat, aku ke bawah ya." Dengan segera Raffa keluar dari ruang kerja sang Ayah.
Begitu sampai di ruang tamu, Raffa langsung duduk di samping Dinda.
"Gimana?" tanya Dinda.
"Bokap gue gak mau turun."
"Yah ... terus gimana?".
"Mana? mana nilai hasil ujian kamu?" tanya sang Ayah yang baru saja turun.
"Ayah, dateng-dateng langsung mau ngambil aja, udah gak dateng ke acara kelulusan aku, sekarang malah langsung ngerampas aja." cibir Raffa.
"Diem! atau Ayah gantung kamu di pohon toge?" Ancamnya membuat Raffa takut, tapi tidak dengan Dinda, dia malah menahan tawa sat mendengar ancaman itu.
"Sore Om," sapa Dinda. Lupa dia berjabat tangan dengan Ayah Raffa.
"Iya sore, kalo gak salah kamu Dinda kan? yang waktu itu pernah dateng ke sini sekali?" ucapnya ramah sambil mengingat kejadian beberapa tahun lalu.
"Iya Om," jawab Dinda.
"Kamu lulus juga?" tanyanya.
"Gak Om, saya masih kelas 11, ini batu naik kelas dua belas." Jelas Dinda.
"Ou, Om kira kamu sekelas sama Raffa."
Setelah berbincang sebentar dengan Dinda, Ayah Raffa mulai membuka nilai hasil ujian Raffa.
"Hah ... lagi-lagi kamu selalu gak bisa jadi nomor satu." Ayah Raffa menghela nafas berat.
"Harusnya kamu bisa kaya Kakak kamu, dia sekarang sekolah sambil kerja lho, di perusahaan lagi." tambahnya.
"Itu juga karena perusahaannya punya bokap angkatnya." celetuk Raffa.
"Tapi dia selalu dapat juara, gak kaya kamu." Siapa sangka Ayah Raffa masih saja memarahinya.
Raffa dan Dinda hanya diam. Dinda yang sedari tadi menyimak sekarang menatap foto anak kecil yang dia kenal.
"Maaf Dinda, saya harus membentak Raffa depan kamu, tapi memang dia gak bisa diatur." ucapnya ramah.
"Gak papa Om, tapi kalo boleh saran, Raffa jangan terus di tekan ya, gak baik buat mentalnya Raffa." saran Dinda tak kalah ramah.
Ayah Raffa menghela nafas. "Kalo dia nurut, Om juga gak bakal paksa dia, tapi dia suka membangkang, suka ngelawan."
"Raff, lo juga harus nurut sama patuh sama orang tua lo, selagi itu bener lo harus nurut." Kini Dinda menatap Raffa.
"Kamu pacarnya Raffa? kalo gitu, tolong sering bilangin ke Raffa supaya dia nurut ya, soalnya dia susah sekali diatur." tebak Ayah Raffa.
"Ga ...." Ucapan Dinda terhenti saat Raffa menyekanya.
"Iya, dia pacar aku yah, cantik gak?" jawab Raffa cepat.
Deg!
Di luar dugaan.
Kenapa Raffa malah mengatakan demikian? Ini sungguh di luar dugaan Dinda.
"Iya cantik, kamu beruntung dapetin dia, tapi gak tau dia untung atau malah buntung."
"Hahaha ... Ayah kok tau sih? dia itu beruntung banget bisa milikin aku." Raffa tak mau kalah.
"Hm ... Om saya bukan ...." Lagi-lagi Raffa menyeka ucapan Dinda.
"Kalo gitu, kita mau jalan-jalan dulu yah, buat ngerayain kelulusan aku."
"Ya udah, tapi jangan lama-lama, dia anak orang, dia juga gadis gak boleh pulang larut malem." Pesen Ayahnya.
"Eh ... kok rame? kenapa gak bilang? bentar biar Ibu buatin minuman dulu." Sapa seseorang yang baru saja turun dari lantai atas.
"Gak usah Bu, aku sama Dinda mau pergi keluar." tolak Raffa.
"Ya udah, hati-hati, jangan malem-malem pulangnya." Pesannya.
__ADS_1