
Pulang sekolah!
Raffa dan kedua sahabatnya baru keluar dari kelas.
Begitu juga dengan Sinta, begitu keluar kelas, dia langsung menghampiri kelas Raffa dan kawan-kawan.
"Kak Raffa!" Panggil Sinta.
"Hem?"
"Lo apain Dinda kemarin?" tanya Sinta.
"Apain Dinda? maksud lo?" tanya Iqbal.
"Hari ini Dinda gak masuk sekolah, katanya kemarin habis ketemu lo!?" jelas Sinta.
"Gue gak ngapa-ngapain dia, dia itu kemarin kesandung sesuatu gue juga gak tau apa terus dia nabrak pohon ...."
Belum selesai Raffa bercerita kedua sahabatnya malah tertawa mendengarnya.
"Kenapa?"
"Gak papa, lucu aja ngebayangin Dinda nabrak pohon, iya kan Van?" Evan mengangguk sependapat dengan Iqbal.
"Temen kena musibah malah ketawa," cibir Sinta.
"Van ...." Sinta tak melanjutkan kata-katanya.
"Van?" tanya Raffa dan Iqbal berbarengan.
"Gak maksud gue Kak Evan," sahut Sinta.
'Udah gue bilang, kalo di sekolahan manggilnya Kak, kalo di luar sekolah manggil nama aja, kenapa malah sekarang keceplosan?' batin Evan.
__ADS_1
Saat Evan dan Sinta bertemu, Evan menyarankan untuk memanggilnya dengan sebutan nama jika di luar sekolah, lain jika mereka sedang di sekolah.
'Aduh, kok gue bisa kelepasan sih,' gerutu Sinta dalam hati.
"Kak Raffa ngapain Dinda?" tanya Sinta lagi.
"Raff, lo gak macem-macem kan sama Dinda?" tanya Iqbal cemas jika sahabatnya melakukan sesuatu yang tidak wajar.
"Enak aja, gak lah." Raffa akhirnya menceritakan kejadiannya sedetail mungkin agar tidak terjadi kesalahpahaman.
"Lagian kenapa lo tega banget sih? kan kasian Dinda jatuh," protes Iqbal.
"Lo suka sama Dinda?" tebak Raffa.
"Eh? kok jadi gue yang suka dia? gue itu gak suka aja kalo ada cewek dapet perlakuan kaya gitu,"
"Sekarang Kak Raffa harus tanggung jawab,"
"Gak! masih untung kemarin gue tolongin, kalo gak gue tolongin dia tuh bisa di bawa buaya," omel Raffa yang tak terima disalahkan.
"Ada kok, yang bunyinya kaya gini 'aku gak bisa hidup tanpa kamu.'" kekeh Evan.
"Ya kali, itu mah laki-laki buaya, anj*r," sahut Iqbal.
"Nah, lo semua tau, udah ah gue mau pulang," Raffa pergi meninggalkan mereka semua
"Raff!"
"Kenapa lagi sih,gue bilang gak mau ya gak mau," jawab Raffa, dia mengira yang memanggilnya adalah Sinta tapi nyatanya ....
"Raff, lo gak mau minjemin gue buku?" Kali ini Raffa sangat kenal dengan suaranya.
"Eh Nazwa, maaf ya, gue kira Sinta tadi."
__ADS_1
"Jadi boleh minjem gak?" tanya Nazwa lagi.
"Bo ...."
"Boleh dong, nih gue pinjemin," samber Evan.
Evan sengaja tak mengizinkan Raffa meminjamkan bukunya pada Nazwa, dia ingin melancarkan rencananya untuk menjauhkan Nazwa dari Raffa.
"Apaan sih Van? kan dia minjem-nya ke gue, kenapa jadi lo yang ngasih?" protes Raffa.
'Kayanya Raffa emang suka sama ni orang deh,' batin Evan begitu juga dengan Sinta yang melihat kejadian itu.
"Udah, gak papa kan kalo minjem buku gue?" tanya Evan pada Nazwa.
"Iya gak papa, sama aja," jawab Nazwa.
"Tuh, Nazwa aja gak papa,"
Raffa tak lagi menjawab, dia meninggal semua orang yang ada di tempat ini.
Iqbal menyusul Raffa dengan langkah cepat.
"Gue balik duluan ya, btw makasih bukunya Van," Nazwa juga ikut pergi meninggalkan Dinda dan Evan yang masih setia di sekolah.
Evan dan Sinta mengangguk.
"Sin, jangan sampe lo keceplosan lagi ya," ucap Evan saat di sekitarnya mulai sepi.
"Iya maaf, gimana kalo Dinda tau?"
"Semoga aja gak tau, kasian dia," balas Evan.
"Iya, gue juga kasian."
__ADS_1
***