Mengejar Cinta Raffa

Mengejar Cinta Raffa
BAB 26


__ADS_3

Sudah lima belas menit Nazwa menunggu Raffa di cafe.


Berkali-kali Nazwa menghubungi Raffa, tapi tak kunjung datang.


"Lama banget sih?" Sudah berpuluhan kali Nazwa ngedumel.


"Pulang aja deh!" Nazwa memilih untuk pulang.


Tapi, saat di pintu keluar Nazwa berpapasan dengan Raffa yang baru saja sampai.


"Raff, lo lama banget sih?" omel Nazwa.


"Kenapa? lo mau ngomong apa?" tanya Raffa langsung to the poin.


"Kita duduk dulu?" tawar Nazwa.


"Gak usah! langsung ngomong aja, gue masih ada urusan." tolak Raffa.


"Jangan di depan pintu juga dong, banyak orang."


Mereka sedikit menepi dari pintu. Nazwa diam sesaat untuk mengatakan apa yang akan dia katakan.


"Ayo cepet!" Bentak Raffa.


"Gue mau kita putus?" Ucap Nazwa tegas.


Raffa tersenyum mendengar pernyataan Nazwa.


"Putus?" Ulang Raffa.


"Iya, kenapa? lo gak keberatan kan?"


"Jelas gak lah." Kekeh Raffa.


"Bagus kalo gitu. Gue duluan!" Nazwa meninggalkan Raffa yang masih tersenyum.


'Tuh kan bener dugaan gue, Raffa tuh emang suka sama gue cuma karena nafsu,' batin Nazwa.


'Bagus deh, emang ini yang gue pengen,' batin Raffa.


***


"Eh, lo kerja disini juga?" tanya Kevin pada seseorang yang dia kenal.


"Iya." jawabnya.


"Kok gue gak pernah liat lo disini?" tanya Kevin lagi.


Orang itu hanya mengangkat bahu. "Gue duluan!"


"Eh? gue belum selesai ngomong!" teriak Kevin menatap punggung gadis itu.


"Meliana! nama yang manis." gumam Kevin.


"Tapi, cueknya gak bisa diobatin." tambahnya.


"Vin!" panggil Dinda yang baru saja datang.


"Dinda? kamu ngapain disini? ini kan udah malem?" tanya Kevin.


"Pengen jemput kamu aja."


"Jemput? kan aku bawa mobil!"


"Gak papa, emang kamu gak mau aku kesini?" Ujarnya dengan wajah sedih, tapi dimata Kevin itu adalah wajah imut Dinda.


"Pasti ada maunya!" tebak Kevin.


"Hehe, tau aja." Dinda hanya cengengesan.


"Ya udah, kamu mau apa?"


"Nanti aja kalo udah waktunya pulang!"


.


.


.


Tak menunggu waktu lama, mereka telah bersiap untuk pulang.


Mereka beriringan berjalan menuju parkiran dan lagi-lagi kevin bertemu dengan seseorang yang kalungnya ia temukan.


"Eh ketemu lagi!?" sapa Kevin.


Meliana hanya tersenyum, dia tidak menjawab sapaan Kevin.


"Hai, lo kerja disini juga?" Dinda juga tak lupa menyapanya.


"Iya." Jawabnya singkat kemudian meninggalkan Kevin dan juga Dinda.


"Eh? kok malah pergi?" gumam Dinda.


"Udah biarin aja, emang dia orangnya kaya gitu."


"Tapi cantik kan?" goda Dinda.


"Cantik? apaan sih?" elak Kevin.


"Cie ... pipinya merah." Dinda semakin menggoda Kevin.

__ADS_1


"Udah ah, yuk pulang!" Kevin memencet tombol kunci mobilnya.


***


Nazwa dengan semangat mengumpulkan semua siswa siswi yang ada disekolah.


Setelah semua berkumpul, tiba-tiba Nazwa menarik tangan Kevin yang sekarang berada di dekat Dinda dan juga Sinta.


Semua mata yang melihat, hanya mengerutkan keningnya. Apa yang akan Nazwa lakukan? Pikir mereka semua.


Nazwa mulai melancarkan aksinya.


"Vin, gue udah putusin Raffa, jadi lo harus tepati janji lo." Ucap Nazwa sembari melirik Raffa yang sedang berdiri menyaksikan drama yang dibuat Nazwa.


"Janji?" gumam Kevin.


"Iya, lo kan pernah janji ke gue, kalo gue putusin Raffa, lo bakal nembak gue?" Nazwa mengingat.


Kevin terkekeh. Ucapan Nazwa sangat lucu baginya. Yang lain masih sama, mereka hanya menautkan kedua alisnya.


Mereka mulai menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Kenapa? kok lo malah ketawa?" tanya Nazwa dibuat bingung oleh Kevin.


"Jadi ... lo udah putusin Raffa?" Kevin memastikan sembari memamerkan senyum manisnya.


"Iya, jadi kalo lo nembak gue, gue bakal terima lo." ucap Nazwa dengan percaya diri.


Siswa siswi yang menonton drama itu, mulai berbisik satu sama lain.


Tak terkecuali, Sinta, Dinda dan Evan.


Mereka juga masih bingung dengan apa yang sedang terjadi, tapi tidak dengan Raffa dan Iqbal, mereka sangat tau apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Naz, gue ...." Semua menunggu apa yang akan Kevin ucapakan selanjutnya.


"Gue ...?" ulang Nazwa.


"Gue ... gak pernah janji sama lo." Ucap Kevin cepat. Tak lupa senyum yang ia selalu bawa kemanapun.


"Vin, lo kan pernah janji!?" Nazwa berusaha mengingatkan Kevin.


"Kan lo yang bilang gini 'gue rela ninggalin Raffa demi lo Vin' gitu kan?" Kevin mencoba menirukan suara Nazwa.


"Tapi ...."


"Udah! gue gak pernah janji apapun sama lo, kalo gak percaya tanya aja sama Iqbal, dia ada waktu lo sama gue diparkiran waktu itu." Kevin melirik Iqbal yang masih setia menonton drama itu.


"Iya, bener yang Kevin bilang, dia emang gak pernah janji sama Nazwa, dia juga gak nyuruh Nazwa putusin Raffa, semua yang dia lakuin atas kemauannya sendiri." Iqbal membetulkan ucapan Kevin.


Saat Nazwa menghampiri Kevin, sebelumnya Kevin bertemu dengan Iqbal, jadi Kevin yakin Iqbal mengerti semua yang Nazwa ucapan, secara Iqbal orangnya kepo maksimal.


"Vin, lo udah janji, lo gak boleh ingkari janji lo." rengek Nazwa.


"Beneran? lo mau Naz?" tanya Udin antusias. Dia terlihat sangat senang, sampai dia memperlihatkan gigi-giginya yang sudah menghitam dan ompong.


Nazwa hanya bergidik ngeri melihat Udin. Udin memang orang baik, cuma dia kurang dalam hal fisik.


Karena kebaikannya, dia banyak teman dan banyak yang sering membantunya jika dia dalam kesusahan.


"Vin, ayo!" Nazwa terus menagih janji yang tak pernah Kevin janjikan.


"Udah deh Naz, lo itu gak cocok sama Kevin, dia itu cocoknya sama gue." teriak salah satu siswi.


Semua menyorakinya. Karena kekonyolannya dia harus menerima sorakan dari satu sekolah yang sedang ada di sana.


"Udin, lo mau Nazwa gak?" tanya Kevin pada Udin yang masih terus memperhatikan Nazwa.


"Hah? mau lah, masa gue nolak cewek cantik." ucapnya sembari memberi kedipan sebelah mata pada Nazwa.


Lagi-lagi Nazwa bergidik ngeri melihatnya.


"Ya udah, lo bawa dia deh, terserah mau lo bawa kemana, yang penting bisa jauh-jauh dari gue." Tanpa di suruh dua kali, Udin sudah mendekat ke arah Nazwa.


Nazwa mundur saat Udin mendekatinya, berlahan tapi pasti, Nazwa berhasil di pegang Udin.


"Ayo! gue pengen ke resto, gue yang traktir, tenang duit gue banyak." Ajak Udin sembari memperlihatkan kantongnya yang sangat tebal.


"Wih ...." Semua bersorak kagum melihat kantong Udin yang berisi uang.


Udin mempunyai keluarga yang lengkap dan selalu tercukupi kebutuhannya.


Tak salah jika Udin memamerkan uang sakunya yang diberikan orang tuanya.


Tak jarang juga, dia sering dipalak oleh Kakak kelas yang suka iseng.


"Raff, lo beneran udah putus sama Nazwa?" Bisik Evan.


"Iya, dia yang minta." Jawabnya santai seperti tak ada beban.


"Lo beneran suka sama dia?" bisik Evan lagi.


"Dulu sih iya, gak tau kenapa sekarang gak."


"Sekarang lo sukanya sama siapa?" sindir Evan.


Raffa melirik Dinda yang tersenyum melihat tingkah lucu Udin dan juga Nazwa.


"Dinda?" tebak Evan.


"Eh? apaan sih? gak lah." Elak Raffa.

__ADS_1


"Aelah, tinggal ngomong aja gengsi." Senggol Evan.


"Liat tuh!" Raffa mengalihkan pembicaraan dengan menyuruh Evan melihat adegan Nazwa dan Udin.


"Ca' ilah, gengsi amat jadi orang."


.


.


.


Kembali lagi pada Nazwa dan Udin.


Nazwa sampai sekarang masih tak mau ikut dengan Udin tapi Udin terus memaksanya dengan dukungan Kevin dan juga beberapa murid yang sedang menonton.


"Ayo, lo mau belanja apa aja gue turuti, asal lo mau ngedate sama gue." Udin masih merayu Nazwa yang keukeh dengan pendiriannya.


Dinda maju menemui Kevin dan berbisik padanya.


"Kasian, jangan gitu ya?" bujuk Dinda agar tidak terus memaksa Nazwa ikut dengan Udin.


"Biarin aja Din, itu memang hukuman yang pantes buat dia." Kevin ikut berbisik.


Nazwa yang melihat itu, amarahnya langsung memuncak.


Dia sangat kesal dengan Dinda yang malah bermesraan dengan Kevin.


Nazwa sampai sekarang belum tahu status Kevin, begitu juga dengan yang lain kecuali Sinta.


"Udah ya? aku mohon, ini demi aku." Dinda terus membujuk Kevin. Dia kasihan melihat Nazwa yang seperti tersiksa dan tertekan menghadapi Udin yang terus memaksanya.


"Iya deh, demi kamu apa sih yang nggak?" Kevin akhirnya menuruti kemauan kembarannya.


"Udin, jangan sama Nazwa deh, mending lo sama Sinta aja." Kevin melempar ke sembarang arah, yang semula Nazwa kini menjadi Sinta.


Orang yang barusan menjadi sasaran melotot menatap Kevin dan Dinda bergantian.


"Enak aja, Sinta punya gue." Evan membela Sinta. Sinta yang panik langsung berhamburan memeluk Evan.


"Kalo gitu sama Devi aja, dia kan jomblo." Kevin melirik Devi yang sedari tadi diam.


"Kok gue Vin? lo anak baru sok-sok an." omelnya.


Devi adalah siswa yang suka mem-bully adik kelas atau orang yang lemah.


Semenjak ada Kevin, dia tidak berani mendekati Dinda karena setahu dia, Dinda itu pacar Kevin. Bisa habis kalo dia berani mem-bully Dinda, pikirnya.


"Nazwa, mending lo pergi, sebelum gue berubah pikiran." Usir Kevin.


"Eh, bentar." Raffa tiba-tiba angkat bicara.


Semua menatap Raffa. Mereka menatap dengan raut wajah kebingungan.


"Naz!" Panggil Raffa.


"Iya, Raff, kenapa?" sahut Nazwa antusias.


"Gak papa, gue cuma mau bilang, orang kaya lo kayaknya gak pantes deh di sini, mending lo pergi sekarang." Raffa tak kalah mengusir Nazwa.


"Bener gak?" Raffa meminta pendapat seluruh siswa yang ada di sana.


"Bener ...." sahut semua kompak.


"Eh, kok kalian gitu sih? ini kan temen kalian?" Dinda membela Nazwa.


"Naz, kita ke kelas lo aja yuk, kalo di sini lo bakal makin panas." Dinda yang sudah tidak tahan dengan drama ini akhirnya membela Nazwa, teman dekatnya.


Dinda memegang tangan Nazwa, bermaksud mengajaknya ke kelas.


Tapi, Nazwa dengan kasarnya menepis tangan Dinda.


"Naz? lo kenapa?" tanya Dinda.


"Gue bisa sendiri." Ketusnya dan pergi meninggalkan tempat.


"Nazwa ... Naz ...." Teriak Dinda.


"Udah Din, lo gak usah pikirin dia." Kevin mengusap bahu Dinda yang masih menatap Nazwa.


"Ini gara-gara kamu, Nazwa jadi marah kan sama aku." Kesal Dinda.


"Din, kenapa kamu malah nyalahin aku?" tanya Kevin bingung.


"Kan kamu yang mulai." Ucapnya berkaca-kaca. Dia merasa kasihan melihat Nazwa yang menjadi korban bully banyak orang.


Kevin yang mengerti Dinda akan segera menumpahkan air matanya, segera memeluknya. Dia mendekatkan kepala Dinda pada dada Kevin yang bidang.


Dengan segera Kevin membawa Dinda dari semua siswa yang ada di sana.


"Jangan nangis, gak enak diliatin orang." bisik Kevin sembari menuntun Dinda menjauh dari kerumunan.


Yang melihat adegan itu, mendadak meleleh dengan keromantisan mereka.


"Aaaa ... Sweet banget ...." Ucap salah satu dari mereka.


'Sweet apaan? yang ada alay,' batin Raffa.


"Kenapa lo Raff?" tanya Evan yang melihat raut wajah tak suka dari Raffa.


"Gak papa." Ketus Raffa.

__ADS_1


"Yaelah, kalo cemburu bilang aja bos."


__ADS_2