
Mobil Kevin sampai di depan sebuah gedung tinggi bagai pencakar langit.
Mereka berjalan masuk ke dalam gedung itu.
"Emang boleh kalo belum tamat sekolah kerja di perusahaan kaya gini?" tanya Dinda polos.
"Kata temen ku, harusnya minimal lulus SMK, tapi karena aku bener-bener butuh pekerjaan ini jadi, temen ku ngetes kemampuanku." Jelas Kevin.
"Terus?" Dinda yang begitu sangat penasaran dengan kehidupan Kevin bersama sang Ayah mulai kepo.
"Terus, ternyata aku bisa melewati tes yang di berikan nya," jawab Kevin.
"Ini perusahaan milik temen Kakak?" tanya Dinda yang masih belum yakin.
"Sebenernya sih bukan, yang punya perusahaannya itu Ayahnya." Kevin lagi-lagi menjelaskan apa yang belum Dinda tau.
"Vin!" panggil seseorang yang sedang bersama perempuan.
"Katanya lo cuti? kok kesini? terus ini siapa?" tanyanya berturut-turut.
"Eh, iya nih, ini kembaran gue, katanya pengen liat tempat kerja gue," jawab Kevin.
"Din, kenalin, ini temen aku, anak dari yang punya perusahaan ini." Kevin mengenalkannya.
"Hai, Dinda." Dinda memperkenalkan diri dan mengulurkan tangannya bermaksud salam perkenalan.
'Dinda?' batin bos Kevin alias temen Kevin.
"Gue Andi dan ini pacar gue, namanya Michel." Andi menerima uluran tangan Dinda.
Dinda kini beralih memperkenalkan diri dengan Michel.
"Yuk masuk aja," ajak Andi.
Setelah puas berkeliling Dinda dan Kevin memilih untuk istirahat.
Mereka duduk di ruangan Kevin yang sudah disediakan oleh perusahaan.
"Mau minum gak?" tawar Kevin yang melihat Dinda berkeringat karena sudah mengelilingi seluruh gedungnya.
Dinda yang begitu penasaran sangat bersemangat untuk mengelilingi gedung tersebut.
__ADS_1
Setelah semua lantai sudah mereka kunjungi, mereka kembali pada lantai pertama dengan menggunakan lift yang ada.
Sampai di lantai dua, Dinda sudah mengeluh capek, padahal awalnya dia yang sangat bersemangat.
"Mau dong!"
"Bentar ya, aku ambil dulu." Kevin bangkit dari duduknya dan berjalan keluar untuk mengambil minum.
"Kevin kok, kaya gak capek ya?" gumam Dinda.
Setelah beberapa saat Kevin kembali dengan membawa dia minuman di tangannya.
"Nih!" Kevin menyerahkan minuman itu.
"Makasih ya, kamu gak capek?"
"Udah biasa, kamu capek banget ya?" Kini Kevin bertanya balik.
"Iya, gila dua puluh lantai, kalo pake tangga gimana ya?" Dinda membayangkan orang yang bekerja di lantai paling atas saat ingin turun tiba-tiba liftnya sedang mati atau rusak dan harus melewati tangga darurat.
"Paling capek."
***
"Gak mau kemana dulu?" tanya Kevin.
"Hm ... emang gak papa? kamu gak capek?" tanya Dinda tak enak hati.
"Hari ini hari bebas pilih buat kamu."
"Kalo gitu, kita ke toko buku yuk!" ajak Dinda saat dia teringat dia ingin membeli buku novel yang sangat dia suka.
"Let's go!" Kevin berjalan mendahului Dinda.
Di perjalanan menuju toko buku, Dinda dan Kevin saling diam.
Tak ada percakapan diantara kedua.
Dinda sibuk dengan handphonenya dan Kevin fokus pada jalan.
Drrreeetttt ....
__ADS_1
Kevin segera merogoh kantongnya untuk mengambil handphonenya yang bergetar.
"Siapa?" tanya Dinda.
"Gak tau, gak ada namanya." Kevin kembali meletakkan handphonenya di sebelahnya.
"Angkat! siapa tau penting." Saran Dinda.
"Kamu aja deh."
"Gak papa?" Dinda memastikan.
"Iya, angkat aja."
Dinda mengangkat telepon dan mulai berkomunikasi dengan orang yang menelepon.
"Halo!" sapa Dinda.
"Iya, Vin, ini Nazwa."
'Nazwa?'
"Iya, Naz, kenapa? Kevin lagi nyetir mobil, jadi gue yang angkat." Dinda menjelaskan.
"Eh, iya Din, Kevin mana?"
"Kevin lagi nyetir mobil," jawab Dinda.
"Gue bisa ngomong sama dia gak?"
"Vin, ini Nazwa mau ngomong sama kamu," bisik Dinda dan sedikit menjauhkan handphonenya dari telinga.
"Bilang aja, gak bisa," sahut Kevin.
"Halo Naz, katanya gak bisa."
"Ou, gitu ya? ya udah, bilangin ke dia, suruh save nomor gue ya!?" Pesan Nazwa.
"Iya, nanti gue bilang sama dia." Dinda mematikan teleponnya.
"Bilang apa dia?" tanya Kevin datar.
__ADS_1
"Katanya kamu suruh save nomor dia." Dinda menyampaikan apa yang harus dia sampaikan.