Mengejar Cinta Raffa

Mengejar Cinta Raffa
BAB 6


__ADS_3

"Din, kantin yuk!" ajak Sinta saat bel istirahat berbunyi.


"Yuk, gue juga udah laper banget."


Mereka ke kantin untuk mengisi perut yang sedari tadi sudah meminta jatah.


Setelah membeli makanan, mereka memilih kursi yang masih kosong dan mulai melahap makanan mereka masing-masing.


"Maaf, boleh gabung gak?" tanya seseorang yang baru saja datang.


Sinta dan Dinda menoleh dan mendapati seseorang yang mereka tidak kenal.


Mereka hanya mengerutkan keningnya tanpa menjawab.


Perempuan yang baru saja datang, tau maksud raut wajah Dinda dan Sinta.


"Maaf, gue di sini murid baru, gue juga belum punya temen, lagian di sini mejanya besar masa diisi dua orang?" Orang itu memperkenalkan diri.


"Murid baru?" gumam Dinda.


"Iya, murid baru kelas dua belas." Murid baru itu menimpali.


"Eh, iya silahkan kalo mau gabung." Dinda mempersilahkannya.


"Makasih ya, btw, nama gue Nazwa, kalo kalian siapa?"


"Gue Dinda dan ini Sinta." Dinda memperkenalkan diri sekaligus mewakili Sinta.

__ADS_1


"Kalian kelas berapa? gue gak liat kalian di kelas gue tadi?" tanya Nazwa.


"Gue kelas sebelas, kalo Dinda sebenernya kelas du ...." Dinda menendang kaki Dinda yang ada di bawah meja.


"Sama, gue kelas sebelas." sergah Dinda cepat.


Mereka menikmati makanan mereka masing-masing, sampai tak terasa makanan mereka telah habis tak tersisa.


'Berarti dia sekelas sama Raffa, kok gue jadi gak tenang ya? gue takut aja kalo Raffa malah suka sama dia.' batin Dinda.


'Tapi belum tentu, emang dia kelas dua belas apa?' tambahnya dalam hati.


***


Ting!


Suara notifikasi terdengar dari HP Sinta.


"Sin, gue mau ngomong sama lo tapi, jangan sama Dinda ya, ada yang penting." Isi pesan itu


'Ngapain Evan mau ketemuan sama gue? penting? ada apa ya?' batin Sinta.


"Sin ... Sinta ... ngapain bengong? ayo cepetan, kalo gak gue tinggal nih," teriak Dinda yang kini telah siap dengan motornya.


Sinta menghampiri Dinda, "Din, lo pulang duluan deh, gue masih ada urusan."


"Kok mendadak?" tanya Dinda masih tidak percaya.

__ADS_1


"Iya, gue juga gak tau, tadi Pak Fadhil WA gue, katanya gue suruh latihan voly." Bohong Sinta.


"Gitu ya? beneran gak papa ditinggal? apa mau gue tungguin?" tawar Dinda.


"Eh, gak usah Din nanti lo dicariin sama nyokap lo terus Yasmin gimana?" tolak Sinta cepat.


"Gue bisa izin nyokap, Yasmin bisa sama nyokap gue."


"Udah, lo pulang aja ya, lo kan katanya capek?" Sinta mengingat Dinda yang dari tadi mengeluh karena badannya yang seharian ini sangat lelah.


"Beneran gak papa?" tanya Dinda memastikan.


"Iya Din, lo pulang aja ya."Sinta memohon supaya Dinda pulang lebih dulu.


Sinta benar-benar kepo dengan apa yang akan Evan katakan, kenapa Dinda gak boleh ikut?


"Ya udah, gue pulang ya." Dinda menyalakan mesin motornya dan melesat pergi meninggalkan Sinta.


"Ada apa ya? tumben banget Evan pengin ketemu gue?" gumam Sinta.


Dengan segera Sinta menemui Evan yang sudah menunggunya di taman sekolah.


Sinta masih bertanya-tanya dengan semua ini.


"Kenapa Dinda gak boleh ikut?" gumam Sinta.


Sinta berhenti sejenak sebelum melanjutkan perjalannya menuju taman sekolah.

__ADS_1


Dia ragu, apakah pilihannya untuk menemui Evan adalah pilihan yang tepat?


"Udah ah, dari pada penasaran mending gue langsung samperin aja tuh Evan." tambahnya.


__ADS_2