Mengejar Cinta Raffa

Mengejar Cinta Raffa
BAB 5


__ADS_3

Hari-hari Dinda selalu diwarnai dengan Raffa, walau Raffa masih cuek padanya.


Menurut Dinda hanya memandangnya saja itu udah cukup.


Apalagi jika Dinda melihatnya tersenyum dan tertawa lepas, Dinda memang menginginkan itu untuk Raffa


Melihat Raffa tersenyum dan tertawa itu sudah cukup, apalagi kalo dia bisa mendapatkannya.


Bisa jadi, dia wanita paling bahagia di dunia ini.


"Raff ... gak tau kenapa gue selalu sayang sama lo tapi, kenapa lo gak bisa buka hati buat gue? gue sebenernya juga pengin lupain lo tapi, setiap gue mau lupain lo selalu gagal, selalu aja ada yang menggagalkannya, gue capek kaya gini terus." Dinda bergumam sembari memandangi foto Raffa yang berada di dinding kamarnya.


"Gue sayang banget sama lo, walau gue gak bisa milikin lo tapi, setidaknya gue masih bisa liat lo ada di dunia ini," tambahnya.


"Din ... Dinda ...." Suara seseorang terdengar memanggil nama Dinda.


Dinda yang tersadar akan penggilan itu buru-buru bergegas menemui orang yang memanggilnya.


"Ada apa sih Mah? kenapa teriak-teriak?" tanya Dinda yang kini sudah berada di depan Ibunya.


"Ini, Mamah mau keluar sebentar, kamu tolong jaga Yasmin ya!?"


"Mamah mau kemana?" tanya Dinda.


"Mamah mau ke rumah Tante Sindi dulu," jawabnya.


"Ya udah, hati-hati ya!"


Beberapa saat Dinda bermain dengan Yasmin —adik Dinda, dia mulai merasa bosan. Akhirnya dia mengajaknya keluar untuk jalan-jalan.


"Yasmin, gimana kalo kita keluar, jalan-jalan?" tanya Dinda pada anak yang baru berumur tiga tahun.


Yasmin hanya mengangguk.


***


"Bagus kan?" Dinda mengajak ngobrol Yasmin.


"Iya ta, badus banet." Yasmin menyahut dengan khas anak kecil. (Iya Kak, bagus banget.)


"Beli es krim yuk!" ajak Dinda.


Anak kecil yang ada di sampingnya mengangguk antusias.


Dengan semangat, Dinda menggendong Yasmin menuju supermarket terdekat.

__ADS_1


Yasmin memilih es krim yang dia suka, begitu juga dengan Dinda.


Mereka menuju kasir.


"Yasmin diem di sini ya, jangan ke mana-mana!" Dinda memberi peringatan pada Yasmin agar menunggunya.


Yasmin menatap sang Kakak yang sedang bertransaksi dengan kasir.


Karena supermarket-nya terlalu penuh tanpa sadar Yasmin terdorong oleh orang-orang yang keluar masuk supermarket.


Yasmin yang tidak tau apa-apa hanya diam tak melawan dorongan orang-orang tadi.


Yasmin yang tidak melihat Kakaknya panik, dia mencari Kakaknya sebisa mungkin.


"Ta ... tata di ana?" Yasmin menangis mencari sang Kakak yang kini belum di temukan. (Kak ... Kakak di mana?)


"De, kamu sama siapa di sini?" tanya seseorang.


"Ama tata." Anak kecil itu masih menangis. (Sama Kakak.)


"Terus mana Kakaknya?" tanya orang itu lagi—Raffa.


"Da tau, tata ilang." Tangis Yasmin makin pecah. (Gak tau, Kakak ilang.)


"Ya udah, sama Kakak dulu ya, kita nunggu Kakak kami di situ." Raffa menunjuk bangku kosong yang ada di supermarket.


"Nama kamu siapa?" Raffa berbasa-basi.


"Yasmin." Lancar sekali dia menyebut namanya.


Raffa sempat bingung, kenapa bocah ini tidak cadel saat menyebut namanya?


"Yasmin ... Yasmin ...." teriakkan seseorang terdengar cukup keras.


"Itu taya-nya tata." Yasmin mengusap air matanya yang sudah membasahi wajahnya. (Itu kayanya Kakak.)


"Itu suara Kakak kamu?" tanya Raffa memastikan.


Yasmin mengangguk.


Raffa langsung menggendong Yasmin menuju sumber suara.


"Yasmin ... Yasmin ... kamu di mana de?" teriak Dinda.


"Itu Kakak kamu?" tanya Raffa saat melihat Dinda berteriak memanggil nama Yasmin.

__ADS_1


Yasmin mengangguk, Raffa dengan cepat membawa Yasmin pada Dinda.


"Ehem." Raffa berdehem.


"Raffa?" Dinda tergelonjak kaget saat mendapati Raffa ada di belakangnya.


"Yasmin kok bisa sama lo?" tambahnya.


"Makanya kalo punya adek itu di jaga yang bener, masih untung gue yang nemuin," ketus Raffa.


"Sini Yasmin, sama Kakak." Dinda mengambil Yasmin dari gendongan Raffa.


"Makasih ya Raff," ucap Dinda. "Apa lo udah berubah pikiran?"


"Berubah pikiran apa?" Raffa mengerutkan keningnya.


"Hm ... apa ... lo udah suka sama gue?" Dengan hati-hati dinda mengatakannya.


"Gak akan pernah." Setelah itu Raffa pergi meninggalkan Dinda dan juga Yasmin.


"Heh ...." Dinda menghembuskan nafasnya dalam sekali hentakan. "Makasih ya."


"Itu ciapa tata?" tanya Yasmin. (Itu siapa Kakak?)


"Itu temen Kakak, pulang yuk!"


"Es trimnya ana?" tanya Yasmin lagi. (Es krimnya mana?)


"Ini, tapi udah agak cair, gak papa?"


"Iya da apa." (Iya gak papa.)


Dinda membuka plastik es krim yang di belinya tadi dan menyerahkan es krim itu pada Yasmin.


.


.


.


.


.


Maaf ya kalo ceritanya ngebosenin...

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen


biar author semangat buat ceritanya...


__ADS_2