Mengejar Cinta Raffa

Mengejar Cinta Raffa
BAB 2


__ADS_3

Dinda.


Seorang gadis SMK yang kini tengah mengejar cintanya.


Cinta pertamanya. Dia harus berjuang sendiri untuk mendapatkan cintanya.


Dia rela melakukan apapun untuk mendapatkan cinta seorang Raffa Fauzan.


Dinda bahkan rela jika harus menyatakan cintanya terlebih dahulu.


Sekali dia pernah mencoba untuk menyatakan cintanya, tapi gagal.


Raffa menolaknya mentah-mentah dan itu juga yang membuat Raffa semakin menjauh dan benci terhadap Dinda.


"Raff, gue suka sama lo," ucap Dinda saat menyatakan cintanya.


Raffa hanya diam tak berkutik, dia ingin tau apa yang akan Dinda katakan selanjutnya.


"Gue suka sama lo Raff, lo mau kan jadi pacar gue?" tambahnya.


"Lo jangan pernah mainin gue ya, mana ada cewek nembak duluan, gue gak mempan sama rayuan lo." Raffa membentak Dinda.


Spontan Dinda tergelonjak kaget. Dia tidak menyangka akan mendapat respon seperti ini.


"Lo tau gak? cewek kaya lo itu murahan, gak punya harga diri, sampah dan gak berguna, cewek kaya lo gak pantes ada di sini!" Raffa memaki-maki Dinda.


Dinda yang kaget akan ucapan Raffa berusaha bersikap santai.


Sakit hati?


Jangan di tanya. Itulah yang kini sedang dirasakan oleh Dinda.


"Raff, gue gak kaya yang lo omongin, gue tulus sama lo, gue ...."


Belum Dinda melanjutkan ucapannya, Raffa meninggalkannya tanpa sepatah katapun.


"Raff ... Raffa ... gue belum selesai ngomong," teriak Dinda.

__ADS_1


Dinda mengejar Raffa yang kini semakin menjauh karena jalannya yang lebih cepat di bandingkan dengan Dinda.


Dinda berlari agar bisa mencapai tangan Raffa.


"Raff, dengerin gue dulu." Dinda menahan tangan Raffa agar tidak pergi darinya.


Kini di sekitarnya cukup ramai.


Tadinya mereka ada di taman yang sepi, tapi karena Raffa berjalan duluan dan Dinda bisa mencapainya akhirnya mereka ribut di tengah keramaian.


"Udah deh, gue gak mau ngomong sama cewek murahan kaya lo, dasar sampah." Raffa masih saja memaki Dinda walau di sekitarnya banyak orang.


Raffa terus memaki-maki sampai beberapa orang menyaksikan keributan tersebut.


Dinda yang menyadari hal itu langsung menarik Raffa ke tempat sepi.


"Lepas, gak usah tarik-tarik, gue bisa jalan sendiri." Raffa melepas tangannya dari genggaman Dinda.


"Lo gak liat, tadi ...."


Dinda merasa tidak ada gunanya lagi dia mengejar Raffa yang kini tengah emosi.


Itu akan membuat Raffa semakin emosi dan Dinda takut Raffa tidak bisa mengontrolnya.


Mungkin Dinda akan kembali berbicara saat Raffa sudah mulai tenang dan bisa memaafkan kesalahannya yang satu ini.


***


Masalah itulah yang membuat Raffa semakin benci terhadap Dinda.


Bukan hanya itu, bagi Raffa Dinda adalah orang yang selalu mengganggunya.


Seperti serangga, pikir Raffa.


Sinta sudah berkali-kali mengingatkan supaya Dinda bisa melupakan cintanya pada Raffa, tapi Dinda menolaknya.


Dia sudah terlanjur mencintai jadi, dia juga harus mendapatkannya.

__ADS_1


Itulah yang ada dipikiran Dinda.


***


"Sin," panggil Dinda.


Sinta yang di sebelahnya hanya menengok.


Mereka sedang di perjalanan menuju sebuah restoran terdekat.


Mereka menggunakan taxi online karena motor Dinda bannya bocor dan harus ditambal.


"Gimana caranya biar gue bisa ngejelasin semuanya ke Raffa? gue gak pengin dia semakin benci." Dinda meminta pendapat Sinta.


"Gue sih sebenernya udah punya rencana untuk itu, tapi gue gak yakin," sahut Sinta.


"Ou iya, dari kemarin gue kepikiran sama Raffa terus."


"Lo mah setiap hati juga mikirin dia."


"Bukan ... gue itu kepikiran dia karena gue penasaran, kenapa dia se-benci itu sama cewek, terutama sama cewek yang nembak duluan?" tanya Dinda.


"Eh? iya juga ya? gue juga batu kepikiran."


"Tuh kan, lo aja baru sadar," sergah Dinda.


"Gue punya rencana, tapi gue gak yakin bakal berhasil."


"Apa rencananya?" tanya Dinda antusias.


Sinta membisikan sesuatu pada Dinda.


Dinda tersenyum setelah mendengar apa yang Sinta bisikan tadi.


"Gimana?"


Dinta tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2