
Hari demi hari mereka lewati seperti biasa.
Dinda juga mulai terbiasa dengan keadaanya yang sekarang harus melihat kemesraan Nazwa dan Raffa.
Dia mulai bisa menerima takdirnya dengan lapang dada.
Hubungan Sinta dan Evan juga tak kalah romantis dari Raffa.
Evan selalu memberi kejutan kecil untuk Sinta dan Sinta sangat bersyukur mempunyai evan di hidupnya.
Sinta juga sangat pengertian, dia akan manja, romantis, atau apapun pada Evan saat tidak bersama Dinda.
Sinta sangat tau perasaan Dinda sampai saat ini. Dinda yang belum juga bisa move on dari Raffa membuat Sinta sangat perihatin melihatnya.
Kevin, dia masih sama.
Tak ada perubahan darinya, mempunyai kekasih saja belum.
Tapi, ada yang sedikit berbeda darinya, akhir-akhir ini dia sering melamun dan melakukan hal yang romantis pada Dinda.
Seperti sedang latihan untuk sang pacarnya nanti kelak, pikir Dinda.
"Vin, hari ini kamu jadi ujiannya?" tanya Safira—Ibunya.
"Iya, jadi Mah, kenapa?"
"Gak papa, jangan lupa berdoa ya, biar semua berjalan lancar." Pesan sang Ibu.
"Iya Mah, Kevin berangkat ya!?" pamitnya.
"Hati-hati di jalan."
Kevin berangkat menggunakan mobilnya.
Hari ini hari ujian bagi kelas dua belas dan kelas sepuluh dan sebelas di liburkan atau belajar di rumah.
"Din, bantu mamah yuk!" ajaknya.
"Ngapain Mah?" tanya Dinda yang baru keluar dari kamar.
"Kevin udah berangkat?" Tambahnya.
"Udah tadi, kamu bantuin Mamah jaga Yasmin yah!?" pintanya.
"Emang Mamah mau ngapain?"
"Mamah mau bikin kue, buat cemilan di rumah, kan yang kemarin habis."
"Ok, Mah, ayo De sama Kakak!" Dinda menggendong Yasmin.
"Yasmin Kakak ajak keluar yah Mah?"
"Jangan jauh-jauh ya," pesannya.
"Dinda mau ajak Yasmin ke rumah Sinta, boleh?" tanya Dinda.
"Pake apa?"
"Taxi."
"Jangan lama-lama ya."
"Ok, Mamah, yuk kita berangkat!" Dinda mengambil handphonenya untuk memesan taxi online.
***
Kevin dengan mudah mengisi jawaban pada lembar jawab.
Tak ada sedikit keraguan atau merasa kesulitan saat mengerjakannya.
Dia sudah belajar banyak dari temannya yang sudah lulus SMK, terutama pada Andi yang menjadi bosnya di kantor.
Dengan bekerjanya Kevin pada perusahaan itu, dia dapat banyak sekali ilmu yang belum dia tau.
Selain itu, dirinya memang sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi ujiannya. Semalam dia belajar hingga larut malam, jadi tidak salah jika Kevin dapat mengerjakannya dengan mudah dan cepat.
"Huh, selesai!" Kevin meletakkan bolpoin-nya saat soal yang di berikan guru sudah ia isi semua dengan kemampuannya.
__ADS_1
"Udah selesai Vin?" Bisik seseorang yang selama ini jadi teman dekat Kevin di sekolah.
"Udah Di," jawab Kevin santai.
"Buset, cepet amat?" Aldi menatapnya dengan tatapan tak percaya.
Kevin hanya senyum. Waktu yang tersisa memang masih setengah jam lagi. Dia memanfaatkan waktunya untuk tidur di kelas.
"Vin!" panggil Aldi lagi, tentunya dengan berbisik.
Kevin yang baru saja menidurkan kepalanya di atas meja kembali mendongakkan kepalanya lagi dengan kesal.
"Liat dong, gue belum selesai." bisik Aldi lagi.
Kevin menatapnya malas. "Kerjain sendiri."
"Lo pelit amat Vin," bisik Aldi dengan raut wajah di buat-buat sedih.
Kevin tak merespon, dia kembali melanjutkan acara tidurnya karena dia sangat ngantuk, semalam belajar sampai jam satu lebih.
Baru saja mau masuk ke alam mimpi, lagi-lagi dia dibuat bangun oleh seseorang.
Dia menoleh dengan kesal.
"Kerjain sendiri!"
Pengawas menatapnya dengan tajam, membuat Kevin semakin salah tingkah dibuatnya.
"Eh Bapak, kirain si Aldi tadi."
"Ngapain kamu malah tidur? bukannya ngerjain, malah tidur." Omelnya.
"Udah selesai Pak, dari pada saya gak ngapa-ngapain, mending tidur." Kevin memberi penjelasan dan menyerahkan lembar jawabnya yang sudah ia isi.
Bapak pengawas itu memeriksanya. Dia mengangguk-angguk menatapi lembaran kertas yang Kevin berikan.
Aldi menatapnya dengan harapan kosong. Harapannya untuk mencontek pada Kevin gugur karena Kevin telah menyerahkannya pada pengawas kelas.
"Baik, silahkan lanjutkan tidur, ini langsung di kumpulkan, biar gak ada yang nyontek." Bapak pengawas itu menatap Aldi.
Kenapa bisa tau, pikir Aldi.
Tanpa disuruh dua kali, Kevin melanjutkan acara tidurnya yang sudah tertunda dua kali.
Raffa hanya menatap Kevin dengan tatapan tak suka.
Dia masih belum terima dengan takdirnya, yang membuat Dinda dekat dengan Kevin.
Sampai saat ini hanya Sinta dan Dinda yang mengetahui Kevin adalah saudara kembar Dinda.
Bahkan Sinta tak memberi tahu Evan, karena menurutnya itu tak penting untuk di bahas dalam hubungannya, itu juga urusan Dinda yang tidak seharusnya Sinta ikut campur.
***
Dinda sudah berada di depan rumah Sinta yang lebih besar dari rumahnya.
Rumahnya berlantai dua dan ada gerbang yang menjulang tinggi.
Dinda memencet bel rumah Sinta dan tak menunggu lama gerbang di buka oleh seorang laki-laki, yang tak lain dan tak bukan adalah satpam rumah Sinta.
"Eh, non Dinda," sapa satpam yang bernama Marto terlihat dari tag mananya.
"Iya Pak, Sinta nya ada kan?" tanya Dinda.
"Ou, ada non, silahkan masuk aja." Pak Marto mempersilahkan Dinda begitu juga Yasmin masuk.
Tanpa ragu atau Mali Dinda masuk ke dalam rumah berlantai dua itu.
Dia mencari keberadaan Sinta sampai dia bertemu dengan wanita paruh baya—orang tua Sinta.
"Pagi Tan, Sinta nya ada Tan?" sapa Dinda basa-basi.
"Ada, bagaimana kabar Safira?" tanyanya menanyakan kabar Ibunya Dinda.
"Baik Tan, Tante sendiri gimana? sehat?" Dinda balik bertanya.
"Seperti yang kamu liat, Tante sehat."
__ADS_1
"Sinta dimana Tan?"
"Di kamar," jawabnya.
"Langsung masuk kamarnya aja." pintanya lembut dan ramah.
"Iya, Tante," Dinda bergegas menemui Sinta yang berada di kamar.
Dinda dan Sinta memang baru beberapa bulan dekat, tapi hubungan antar keluarganya sangat dekat.
Orang tua mereka memang pernah satu sekolah dulu.
Rina—Ibu dari Sinta, dan Safira—Ibu dari Dinda pernah satu sekolah waktu SMK.
Sekarang menurun pada anaknya.
Dorrrr ....
Dinda tanpa punya malu dia langsung membuka pintu kamar Sinta dan mengagetkan Sinta yang kini sedang menonton film di laptopnya.
"Astaga." Refleks Sinta menoleh ke arah pintu dan mendapati Dinda dan Yasmin.
"Ih, ngagetin aja, kalo gue mati jantungan gimana?" ucapnya sebel.
Yasmin kini tertawa melihat Sinta hang tafi tergelonjak kaget.
"Hahaha, berhasil kan dek?" Dinda bertos ria dengan sang adik.
"Lo tuh ya, gak punya sopan-sopannya di rumah orang," omel Sinta yang masih kesal.
"Maaf, kan lo tau, hobi gue bikin Lo kesel." Dinda meminta maaf dengan mata yang berair karena tertawa.
"Yasmin! ngapain kamu ketawa?" kini Sinta mengomeli Yasmin.
Yasmin yang diomeli malah tertawa terbahak-bahak. Mungkin Yasmin menganggap Sinta sebagai badut yang sedang marah.
"Ish, kok ketawa sih? kenapa gak nangis aja?" gemes Sinta.
"Eh, kalo adek gue nangis lo yang tanggung jawab, dia kak nangis berhentinya lama lho," ujar Dinda.
"Gak papa nangis, nanti gue uang tuh bocah ke kolam renang." Sinta masih mengomel.
"Eh, lo lagi apa sih?" tanya Dinda mengalihkan pembicaraan.
"Drakor dong!" Sinta dengan bangganya menunjukan laptop yang kini sedang menayangkan film Korea.
"Lo masih suka?"
"Iya lah, masih suka, gue kan penggemar setia."
"Yaelah, cuma film juga." Cibir Dinda.
Dinda menurunkan Yasmin agar dia bermain sendiri di kamar Sinta yang terbilang cukup luas.
"Tapi, pemerannya itu lho Din," sahut Sinta.
"Emang pemerannya kenapa?"
"Ganteng bangetttttttt." Dengan lebay Sinta mengatakannya.
"Lebay lo." cibir Dinda.
"Udah ah, lo mana paham." Sinta kembali sibuk pada layar laptopnya.
"Temen ke sini bukannya di kasih minum apa cemilan, ini malah asik sendiri." gumam Dinda.
"Kalo mau minum bilang, gak usah manyun tuh bibir." celetuk Sinta yang mendengar ucapan Dinda barusan.
"Eh? lo denger?" tanya Dinda.
"Iya lah, lo ngoceh mulu dari tadi."
Dinda hanya bisa menutupi wajahnya yang kini bersemu merah karena rasa malunya yang sudah menjalar di seluruh tubuh.
💦💦💦💦💦
like dan komennya .... ❣️❣️
__ADS_1