Mengejar Cinta Raffa

Mengejar Cinta Raffa
BAB 18


__ADS_3

Raffa tengah mencari Nazwa, pacarnya.


Di telpon, di SMS/WhatsApp, juga tidak ada balasan membuat Raffa khawatir.


"Kemana sih?" gumam Raffa.


Sampai matanya tertuju pada seseorang yang sepertinya sedang mengintip sesuatu.


"Nah, itu dia pacar gue." Raffa menghampiri Nazwa.


Raffa menghampirinya dan memanggil manggil namanya tapi tak ada sahutan dari Nazwa.


"Naz!" Sekali tak ada jawaban


"Sayang!" Kedua juga tidak ada respon sama sekali.


Yang ketiga dia memanggil dengan menepuk bahunya pelan.


"Naz, kamu lagi apa?" tanya Raffa mengagetkan Nazwa sambil menepuk bahu Nazwa.


"Eh? itu ... hm ... aku lagi pengin ke kantin," jawab Nazwa cepat.


"Ngintip siapa sih? kayanya serius banget, sampe aku panggil-panggil gak denger." Raffa mengedar pandangannya melihat siapa yang sedang di perhatikan Nazwa dari tadi.


"Gak ada siapa-siapa?" tanya Raffa.


"Emang aku gak ngintip siapa-siapa, aku tuh cuma lagi ... lagi ngumpet." Dengan gugup Nazwa menjelaskannya.


"Ngumpet dari siapa?"


"Tadi ada Pak Mahmud, kayanya dia lagi cari bantuan buat koreksi hasil ulangan harian muridnya, kan kemarin kita juga habis ulangan harian." jelas Nazwa, kini dia berusaha terlihat santai dan Raffa hanya ber'oh' ria.


"Ya udah, ayo ke kantin!" Raffa menarik tangan Nazwa.


Setelah memesan makanan mereka memilih duduk di kursi paling pojok sambil menikmati makanan yang baru mereka beli.


"Kami mau cobain ini gak?" tawar Raffa.


"Gak deh, aku ini aja udah kenyang." Nazwa menolak.


"Yang, kamu serius sama aku gak?" tanya Nazwa tiba-tiba.


"Kok gitu? aku jelas serius dong."


"Kalo gitu, kamu mau kan, ke rumah aku?"


"Mau, tapi mau ngapain?" tanya Raffa.


"Kamu ngelamar aku, langsung depan orang tua ku," ucap Nazwa mantap.

__ADS_1


Raffa yang kaget mendengar penuturan Nazwa diam. Kenapa tiba-tiba? kenapa harus sekarang? kenapa Nazwa buru-buru banget?


Pertanyaan itu terus muncul dibenak Raffa.


"Kenapa kamu tiba-tiba ngomong gitu?"


"Karena aku gak mau pacaran lama-lama, keluargaku juga gak setuju kalo aku punya hubungan yang gak pasti." Nazwa menjelaskannya.


"Gak pasti? kamu pikir aku main-main sama hubungan kita?" Raffa yang tak terima langsung emosi.


Raffa terdiam. Dia teringat akan ucapan Dinda saat dia bertemu di danau.


"Kalo lo emosi jangan di luapkan, lo tarik nafas dalam-dalam terus buang perlahan-lahan dan terus ulang kaya gitu sampai lo merasa tenang dan gak emosi lagi." Kata-kata itu yang kini sedang Raffa ingat.


Dia mulai melakukan apa yang diucapkan Dinda.


Raffa menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya secara berlahan.


Tiga kali Raffa melakukannya dan dia berhasil menetralkan emosinya.


"Bukan gitu Raff, kok kamu jadi emosi sih?"


"Gak sorry, aku kaget aja." Raffa beralasan.


"Terus gimana?" tanya Nazwa meminta kepastian.


"Kayanya aku gak bisa kalo harus sekarang, kita masih sekolah." Raffa berusaha menolak dan menjelaskan alasannya.


"Sorry, Naz, tapi emang aku gak bisa, aku gak mau di kemudian hari kita menyesal."


"Kenapa harus menyesal, kalo kamu emang udah yakin sama hubungan kita harusnya kamu gak perlu ngomong gitu." Kini Nazwa yang mulai berapi-api.


"Bukannya gitu. Aku gak tau harus jelasinnya gimana, tapi aku gak mau mengambil keputusan buru-buru." Raffa berusaha menjelaskan.


"Tapi Raff ...."


"Udah, kita bahas itu nanti lagi, kita makan dulu, makanannya udah dingin nih," ucap Raffa mengalihkan percakapan.


Nazwa hanya pasrah dan mereka melanjutkan acara makan mereka.


'Gue harus sabar, rencana ini harus berjalan secara berlahan-lahan,' batinnya.


***


Dinda dan Kevin bersiap untuk pergi entah kemana tujuan mereka.


Kevin hanya mengikuti mau Dinda, yang sampai sekarang tidak tau arah tujuannya.


Kevin menyalakan mesin mobilnya dan melesat meninggalkan sekolahan.

__ADS_1


"Kita mau kemana?" tanya Kevin meminta kepastian.


"Ke makam Papah ya!?"


"Nanti aja deh, aku tuh pengen jalan-jalan," tolak Kevin.


"Terserah kamu aja deh," sahut Dinda.


"Jangan ngambek dong, ayo mau kemana?"


"Terserah, aku ngikut aja."


"Kita ke mall yuk, kita belanja," ajak Kevin.


"Mall? emang kamu punya duit?"


"Yee ... punya dong, emang kamu!" ejek Kevin.


"Dari mana? jangan bilang kamu bobol bank."


"Eh? sembarang, aku tuh kerja," kesel Kevin yang dituduh mencuri di bank.


"Kerja? dimana? aku gak pernah liat?" Dinda terus mengintrogasi Kevin.


"Iya, kerja sambil sekolah, kebetulan aku kerja di perusahaan punya temen aku." Kevin mulai bercerita.


"Aku ambil cuti untuk beberapa hari, paling Minggu depan aku udah mulai kerja lagi." tambahnya.


"Mamah tau?" tanya Dinda.


"Tau."


"Ih ... nyebelin!" oceh Dinda.


"Kenapa?"


"Pasti aku yang gak di kasih tau."


"Aku mau ngasih tau kamu, tapi waktunya selalu gak tepat." Kevin menjelaskan.


"Gimana kalo kita liat di tempat kerjanya kamu?" usul Dinda.


"Jauh."


"Gak papa, kita bilang sama Mamah, Mamah pasti ngizinin kok."


"Ya udah, kamu telpon Mamah gih!" perintah Kevin.


💦💦💦💦💦💦

__ADS_1


jangan lupa like dan komen 💫💫💫


__ADS_2