
Di mansion Nugraha.
Papa Ammar tersenyum pada istrinya setelah menutup panggilan telpon dengan Khanza, dia sengaja mengatakan itu pada Adam, supaya anaknya tidak lagi selalu berbuat onar, di tambah sekarang ini dia yakin dengan guru yang mengajari anaknya. Terlebih saat mendengar ceritanya cerita jika Khanza begitu berinisiatif mengajar di kelas Adam, dan papa Ammar akan menghargai usaha Khanza, maka dari itu dia membantu anak salah satu rekan bisnis nya itu dengan cara menekan Adam untuk menurut.
Selama ini papa Ammar tidak tegas dengan Adam, karna ustadz yang mengajari anaknya, selalu kalah telak dengan Adam, tapi kali ini dia yakin seratus persen pada putri Faris itu.
"Apa kamu yakin anak kita akan mendengarkan seorang wanita?" tanya mama Anggi pada sang suami.
Papa Ammar tersenyum, merangkul pundak sang istri "Aku tidak yakin sama dia, tapi aku yakin sama anak nya Faris. Kamu tau, Faris adalah orang yang tidak akan menyerah jika sudah menginginkan sesuatu, aku rasa itu di wariskan oleh anak-anak nya!" jawab papa Ammar.
Mama Anggi hanya menghela nafas panjang, berharap apa yang di katakan oleh sang suami akan terbukti.
Yap, Abi Faris lah yang menghubungi papa Ammar dan mengatakan jika putrinya sudah mengajar di kelas Adam. Sebagai seorang Abi yang sangat menyayangi putri nya, abi Faris langsung mencari tau siapa saja murid dalam yang akan di ajarkan oleh Khanza, terutama Adam.
Setelah tau jika Adam adalah anak rekan bisnisnya yang juga sangat berpengaruh di negara ini, dia pun langsung memberitahu pada papa Ammar, dan dengan senang hati papa Ammar akan membantu Khanza.
...----------------...
Sedangkan di dalam kelas, Khanza baru menutup kitab safinatun naja, dan dia menyuruh semua muridnya membuka kitab tentang ilmu sharaf, tak terkecuali Adam.
Lelaki 19 tahun itu masih dengan wajah dingin menatap Khanza, karna sudah hampir satu jam dia berdiri tanpa di izinkan duduk, dan dia di haruskan untuk menulis arti dari kitab tersebut.
Kini para santri di suruh Khanza untuk menghafal isim dhomir yang 14. Semuanya serentak dan berirama melantunkan huruf itu satu-satu.
__ADS_1
هُوَ, هُمَا, هُمْ, هِيَ, هُمَا, هُنَّو أَنْتَ, أَنْتُمَا, أَنْتمْ, أَنْتِ, أَنْتُمَا, أَنْتُنِّ, أَنَا, نَحْنُ.
Seisi kelas terasa berdengung saat mereka seketika berhenti.
"Untuk hafalan selanjutnya, kalian baca di tasrif sepuluh ya," uajr Khanza pada seluruh murid nya
"Baik, Ustazah!" jawab mereka serentak.
"Baiklah, Semuanya boleh keluar, terkecuali Adam!" ucap Khanza.
Adam langsung melotot, sudah tidak di izinkan duduk, sekarang malah tidak di izinkan turun "Apa-apaan sih lo, hah? Kenapa lo ngelarang gw turun?" tanya Adam sengit.
"Karna kamu tidak ikut menghafal dhomir 14 tadi, dan sekarang kamu hafal seorang diri!" jawab Khanza ketus.
Langsung saja, santri di kelas itu seketika bangun dan hendak menyalami tangan Khanza, namun terlebih dulu Khanza mengangkat tangan nya, agar mereka tidak mencium tangan nya.
Saat semua sudah keluar, kini Khanza melihat pada Adam, dia bangun dan melangkah pada laki-laki itu "Tafadhol, ustadz Adam!" seru Khanza, dia berdiri masih memberi jarak dengan Adam, tapi dengan jahilnya Adam mengikis jarak di antara mereka, hingga kini mereka begitu dekat dan saling menatap.
Walaupun Adam lebih muda daripada Khanza, tapi tubuhnya tetap lebih tinggi dari Khanza.
"Ada masalah apa lo sama gw? Hingga lo begitu benci, apa karna tadi siang gw kerjain lo? Sekarang lo mau balas dendam? Jangan harap, dan kita lihat saja, lo tak kan bertahan lama di kelas ini!" sarkas Adam menatap dalam manik Khanza.
"Jaga batasan mu, Adam!" sentak Khanza sambil memberi jarak kembali "Di sini tempat mengaji bukan ajang pembalasan dendam, saya melakukan ini karna memang kamu tidak menghafal seperti teman-teman mu. Hafal sekarang, atau kamu tidak turun di sini sampai besok!" seru Khanza begitu tegas.
__ADS_1
Tidak ada debaran jantung, tidak ada yang grogi, hanya saja Khanza yang risih karna terlalu dekat dengan seorang laki-laki, dia tidak terbiasa juga takut dosa, namun berbeda dengan Adam, dia tidak paham apa itu dosa, yang jelas dia akan berbuat sesuka hati nya.
Adam berdecak kesal, mau tidak mau dia harus mematuhi apa yang di ucapkan wanita di hadapannya itu. Tapi dia bingung karna dia masih belum bisa, selama ini dia tidak tau apa-apa, karna tidak pernah mengikuti pengajian selama dia berada di pesantren tersebut.
"Apa kamu tidak bisa?" tanya Khanza.
Adam tidak menjawab, hanya membuang wajahnya ke arah lain.
Khanza sampai menggeleng kepala, lalu dengan begitu sabar dia mengajari Adam satu persatu, hingga laki-laki itu bisa.
"Ini sudah hampir jam 11, kamu boleh keluar sekarang. Dan ingat, besok kamu harus hafalkan lagi, jika tidak maka saya akan menyuruh mu berdiri di tengah-tengah asrama putri!" ancam Khanza, tanpa memperdulikan pelototan dari Adam.
"Wanita ini," batin Adam, dia tidak bisa meremehkan gurunya itu.
"Awas saja kau, akan ku balas perbuatan mu ini!" lanjut nya lagi membatin.
.
.
~Bersambung.
...Yakin kamu bisa Dam? Guru mu sekarang bukan sembarang guru loh....
__ADS_1
...Jangan lupa Like dan juga Vote kakak ku sayang....