Mengejar Cinta Ustazah Khanza

Mengejar Cinta Ustazah Khanza
Adam dan Khanza.


__ADS_3

Ahmad Bajaj, seorang pengusaha sukses di umur nya yang baru 23 tahun. Dia kini memegang perusahaan properti Bajaj Grup, yang di wariskan oleh sang Ayah yang sudah setahun meninggal.


Hari ini padahal dia ada meeting yang sangat penting, tapi keinginan sang ibu juga tidak bisa dia tolak. Sempat Ahmad berpikir kenapa sang ibu meminta dirinya untuk menjemput, karna biasanya wanita yang dia sayangi itu kemana-mana selalu di antar dan di jemput supir.


Wajah nya tampak datar saat menjemput sang ibu, karna sebenarnya dia teringat akan jadwal meeting nya yang harus di batalkan. Akan tetapi, wajah datar nya langsung sumringah saat melihat wanita yang berdiri di samping sang ibu.


"Khanza," panggil nya saat menyadari jika wanita itu adalah teman nya saat masih sekolah SD, walaupun sudah lama, Ahmad masih ingat jelas wajah Khanza yang sama sekali tidak berubah.


"Ahamd," balas Khanza.


"Kalian sudah saling kenal?" tanya ibu Ahmad yang bernama Melati.


"Iya, Bu. Dia Khanza teman sekelas Ahmad dulu," jawab Ahmad semangat.


"Oh ... Syukur kalau gitu, jadi Ibu tidak perlu capek-capek memperkenalkan kalian," jawab ibu melati lagi.


Ahmad tersenyum, dia sekarang paham apa maksud sang ibu menyuruh nya menjemput, dia mengulurkan tangannya ingin bersalaman dengan Khanza "Apa kabar Khan?" tanya nya sambil menatap Khanza.


Namun, yang di tanya justru mengatupkan tangan nya di depan dada.


Melihat itu, Bu Melati langsung memukul tangan sang putra "Jangan sentuhan tangan, cukup bicara saja," tegur nya, dia merasa malu atas kelakuan sang anak.


Ahmad segera menarik tangan nya, kenapa dia bisa lupa, Khanza adalah wanita yang sangat menjaga diri dari para laki-laki. Jangan kan bersentuhan, berbicara dengan lawan jenis pun dari dulu Khanza selalu menundukkan pandangan nya.


"Baik," jawab Khanza.


Ahmad memejamkan sejenak matanya mendengar suara Khanza bak lantunan merdu masuk ke dalam telinga nya.


"Bu, saya permisi dulu. Ummi saya sudah menunggu di Rumah," pamit Khanza pada ibu Melati. Dia tidak ingin terlalu lama berada di hadapan seorang pria yang bukan mahram nya.


"Biar kami antar saja, Nak!" usul ibu Melati lagi.

__ADS_1


"Terima kasih bu, tapi saya bawa mobil sendiri!" tolak Khanza secara halus.


"Yah, gagal dong!" ujar ibu melati.


"Apanya yang gagal Bu?" tanya Ahmad.


Bu Melati tersadar "Eh tidak. Nak, lain kali kamu jangan bawa mobil ya, biar nanti Ibu dan Ahmad yang mengantar mu pulang," seru bu Melati.


Khanza hanya tersenyum "Saya permisi, Bu. Assalamualaikum!" Khanza langsung pamit.


"Waalaikum salam," jawab Ahmad dan ibu Melati.


Khanza masuk ke dalam mobil, niat nya ingin cepat-cepat sampai ke Mansion nya. Khanza memang tidak betah jika berada di hadapan laki-laki yang bukan mahram nya, apalagi Ahmad terus saja melihat pada nya.


Sampai di mansion, Khanza turun dari dalam mobil dan melangkah masuk. Jika di tanya kenapa Khanza di biarkan membawa mobil sendiri. Karna itu memang keinginan nya. Meski Abi Faris sudah memaksa Khanza untuk di antar oleh anak buahnya, akan tetapi Khanza tetap menolak. Khanza hanya ingin menjadi seperti orang biasa, yang bebas kemanapun tanpa pengawal.


Tapi, tanpa sepengetahuan Khanza, Abi Faris tetap memberikan penjagaan yang ketat untuk sang putri, dia selalu menyuruh bodyguard pribadi untuk menjaga putri kesayangan nya itu, sebab, keturunan Bagaskara memang harus di kawal, baik itu perempuan atau laki-laki. Karna banyak nya musuh dalam dunia bisnis Abi Faris.


Tapi, kedua anaknya tidak ada yang tau jika mereka selalu di jaga dengan keamanan ketat.


Abi Faris tidak perlu sibuk-sibuk mencari informasi tentang siapa Ibu Melati dan juga Ahmad. Karna, Jane dengan senantiasa menerangkan semua nya.


Yap, Jane masih ada sampai sekarang. Cuma bedanya layar canggih itu kini di pasangkan di kantor, karna Ummi Nabil risih dengan benda itu jika masih berada di dalam kamar.


"Seperti wanita itu menginginkan Khanza menjadi menantu nya," ucap Abi Faris pada Diki yang masih menjadi asisten nya. Karna sampai saat ini Abi Faris masih belum pensiun di karenakan Kenzo masih di Mesir. Jadilah Abi Faris tidak mengizinkan Diki untuk berhenti.


"Bagaimana, apa anda menerima lelaki itu?" tanya Diki. Meski putra nya sendiri sudah kecewa akibat penolakan Khanza, tapi dia tetap menghargai keputusan anak dari tuan nya itu.


Abi Faris menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi nya, menarik nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskan kembali "Huf ... Seperti Raka, aku serahkan keputusan pada putriku. Sampai kapan pun aku tidak akan memaksa anak-anak ku dalam urusan pasangan hidup, terkecuali jika itu lelaki yang kejam, dan menyeleweng dari jalan agama," jawab abi Faris.


"Bukannya dulu anda juga menyimpang dari agama," batin Diki.

__ADS_1


"Apa kau mengatai ku, Diki?" tanya Abi Faris.


Diki tersentak "Ti--tidak Tuan," jawab nya.


"Aku harap keputusan Khanza yang menganggap Raka seperti saudara sendiri tidak membuat nya atau kamu sakit hati," ujar Faris lagi.


Diki mengangguk "Raka sudah mengikhlaskan nya. Memang rasa itu seharusnya tidak dia benarkan," jawab Diki lagi.


"Raka tidak salah, karna rasa akan datang dan pergi kapan pun dia mau. Tapi, mungkin mereka memang tidak berjodoh!" tukas Abi Faris dan Diki hanya mengangguk, membenarkan ucapan sahabat sekaligus atasan nya.


Sementara di kediaman Bajaj. Ibu Melati langsung heboh berceloteh pada sang putra.


"Ibu senang banget kamu sudah saling kenal dengan Nak Khanza. Kamu tau, Ibu sangat menyukai nya, dia wanita baik-baik, soleha, pintar lagi," cecap nya.


Ahmad hanya menyimak setiap ucapan dari sang ibu.


"Kenapa dari dulu kamu tidak bilang jika dia teman masa SD?" tanya ibu Melati lagi.


Ahmad menghembuskan nafas panjang "Dia bukan wanita biasa, Bu. Dari dulu dia selalu menjaga jarak dengan laki-laki. Kami bertemu hanya di sekolah dasar, karna setelah itu, Khanza di pindahkan ke Kairo Mesir untuk mendalami ilmu agama," jawab Ahmad.


"Masya Allah, sungguh menantu idaman. Ibu sangat ingin dia menjadi menantu ibu," tukas ibu Melati.


"Ibu tau dia putri siapa?" tanya Ahmad pada sang ibu.


Ibu Melati menggeleng "Memang nya siapa?" tanya nya penasaran.


"Namanya Khanza Az-Zahra Adinata Bagaskara," jawab Ahmad yang langsung membuat ibu Melati melebarkan matanya.


"Ja--jadi dia anak nya konglomerat Bagaskara?" tanya Ibu Melati dengan perasaan shock.


"Iya," jawab Ahmad.

__ADS_1


"Kamu harus hati-hati jika berurusan dengan keluarga Bagaskara, kamu harus mendapatkan nya!"


~Bersambung.


__ADS_2