
Setelah pertemuan nya dengan Khanza beberapa hari lalu, Adam sekarang menjadi lebih betah di rumah, karna dia sudah mendapatkan nomor untuk menghubungi Khanza. Rasa senang nya hingga membuat dia tidak berniat lagi untuk keluar rumah walaupun hanya untuk minum kopi bersama teman nya. Bahkan banyak dari teman-teman Adam sebelum ke pesantren untuk mengajak bertemu, tetapi Adam lebih memilih mengabaikan mereka.
Terkadang banyak teman-teman dalam satu grup wa mengejek dirinya sok alim karna sudah ke pesantren, tapi Adam sama sekali tidak perduli, bahkan dia sudah keluar dari grup chat tersebut saat Vanya ikut menimpali dan seolah-olah minta perhatian dari nya.
Adam benar-benar tidak perduli lagi dengan dunia nya yang dulu, baru dia sadar kegiatan nya dulu sungguh sangat tidak bermanfaat. Mending sekarang, dia bisa berbalas pesan dengan sang ustadzah walaupun sering juga di abaikan.
Dan semenjak Adam lima hari memasuki bulan Ramadhan, Adam sudah puasa full, tidak seperti dulu, dia tidak pernah puasa, walaupun di depan mama dan papanya selalu berpura-pura puasa, karna dulu dia tidak tahan saat haus setelah capek balapan bersama teman-teman nya.
Terlebih sekarang ada Khanza yang setia mengingatkan dirinya untuk berpuasa, dia tidak tau entah darimana Khanza bisa tau jika dia dulu tidak pernah puasa.
Tapi hari ini Adam tampak bermalas-malasan sambil terus menatap ponselnya, sebab biasanya Khanza tetap membalas pesan dari dirinya meskipun singkat dan lama, tapi hari ini dari jam delapan Adam mengirim pesan, sampai sekarang jam sepuluh belum juga di balas, bahkan pesan nya masih abu-abu, tanda belum di baca.
Tidak tau harus bagaimana lagi mendapatkan balasan, Adam sampai mengatakan jika dia akan ke mansion Khanza.
Karna belum mendapatkan balasan, Adam memutuskan untuk benar-benar ke mansion Khanza. Saat ini dia sudah siap dengan pakaian lengkap dan hendak melangkah mendekati pintu.
"Kamu mau kemana, Dam?" tanya Mama Anggi.
"Keluar sebentar, ada urusan!" jawab nya.
"Jangan keluar dulu, nanti ad--" belum sempat mama Anggi meneruskan ucapan nya, audah terdengar suara bell yang di pencet dari luar.
__ADS_1
Adam yang semula melihat pada sang mama kini beralih pada pintu.
"Buka saja pintu nya!" seru mama Anggi.
Adam menghela lalu mengangguk, kemudian tangannya terulur untuk membuka pintu.
Ceklek...
Sesaat suana menjadi sunyi, Adam kini menatap pada orang di balik pintu tanpa berkedip dengan jantung yang berdegup ke dalam, dia bahkan sampai memukul pipinya sendiri karna orang yang selalu membuat nya gegana kini sudah berdiri di depan nya.
"Khanza!" panggil Adam.
"Siapa Dam, kenapa tidak suruh masuk ke dalam?" tanya mama Anggi yang saat ini tengah melihat televisi.
"Ah iya, mari silahkan masuk!" ucap Adam.
Khanza mengangguk dan mulai melangkah masuk "Assalamualaikum, Tante!" tukas Khanza.
"Waalaikum salam. Eh Khanza, sudah datang rupanya, ayo duduk dulu!" ajak mama Anggi sambil bangun.
Khanza langsung menyelonong masuk ke dalam, dan langsung di susul oleh Adam.
__ADS_1
"Dam, kamu tidak jadi pergi kan? karna Khanza sudah datang," tanya mama Anggi.
Dengan patuh Adam menurut, matanya masih fokus pada Khanza "Mama kamu yang sedang bicara, Dam, bukan saya!" protes Khanza karna selalu mendapatkan tatapan dari Adam.
Adam tergagap saat mendengar itu, sementara mama Anggi hanya bisa menertawakan anaknya itu.
"Hekhem, memang nya ada acara apa, Ma, Khanza datang ke mari?" tanya Adam.
"Oh iya, Mama belum bilang sama kamu, mulai hari ini Khanza akan menjadi guru ulang kamu selama puasa ini, hitung-hitung persiapan untuk kamu ke Maroko!" jawab mama Anggi santai, tapi tidak dengan Adam, dia tampak tidak percaya dengan apa yang yang di katakan sang mama.
"Mama serius?" tanya Adam.
Mama Anggi mengangguk "Apa kamu mau?" tanya nya.
"Adam mau, Ma!"
~Bersambung.
...Ya pasti maulah, secara kan Adam memang senang banget kalau bisa melihat sang pujaan hati setia harinya. Wkwkwkwk...
...Bantu dukung Novel ini dengan cara like komen dan juga vote kakak ku semuanya....
__ADS_1