
Sudah dua hari ini, kelas yang di duduki Adam terlihat senyap, mereka tampak tidak semangat, terlebih yang menjadi guru ganti mereka selama Khanza pulang adalah ustadz Yusuf. Terutama Adam, pria itu memang tengah dalam fase yang sangat membosankan. Entahlah sejak Khanza pulang ke rumah, Adam seperti merasakan ada yang hilang dalam dirinya.
Saat merasakan itu, Adam masih berusaha keras melawan jika dirinya tidak merindukan Khanza, akan tetapi dia memvonis jika dia hanya ingin Khanza yang mengajar karna wanita itu tidak lagi mengaturnya.
Waktu yang Adam lewati terasa begitu tidak mengenakkan, dia merasa seperti saat pertama pergi ke pesantren tersebut, bosan, dan juga malas. Jika beberapa hari lalu dia masuk mengaji tepat waktu, tapi sekarang dia kembali jadi murid yang tidak tertib.
Rasanya pesantren itu begitu hampa, terutama di dalam kelas, kadang dia masih bisa melihat Khanza yang mengajar di depan, meski itu adalah guru laki-laki.
"Bisa aku bertanya?" tanya Adam pada uts. Raka saat mereka di dalam bilik.
Mendapati pertanyaan seperti itu dari Adam, membuat ust. Raka mengerutkan keningnya "Tumben kamu mau bertanya," sindir ust. Raka, pasalnya Adam adalah santri yang sangat minim bicara.
Mendengar ejekan ust. Raka, membuat Adam mendengus "Ya sudah tidak jadi," imbuhnya.
"Tanyakan saja!" seru ust. Raka.
__ADS_1
"Apa aku boleh pinjam hp mu sebentar?" tanya Adam, padahal bukan itu tujuan awalnya.
"Untuk apa?" tanya balik ust. Raka.
Adam diam sejenak, dia tidak mungkin bilang untuk menanyakan kabar Khanza "Mau bicara dengan Mamaku," bohong Adam.
Lagi-lagi ust. Raka melihat hal aneh pada diri Adam, biasanya laki-laki itu tidak pernah mau bicara dengan orang tuanya. Tapi, karna tidak ingin bertanya lagi, akhirnya ust. Raka memberikan ponselnya pada Adam "Kalau sudah selesai letakkan saja di atas meja belajar, saya mau mandi sebentar!" seru ust. Raka.
Adam hanya menanggapi dengan anggukan, memang kesempatan yang pas menghubungi Khanza.
"Et, apa benar aku akan menghubungi nya? Lalu apa yang akan aku katakan, nanti dia pikir aku merindukan nya," gumam Adam pada dirinya sendiri. Saat dia sudah mendapatkan nomor Khanza.
"Kalau pesan nya telat dia balas, nanti terbaca oleh Raka, itu artinya dia akan tau kalau gw menghubungi Khanza," gumam Adam lagi. Dia sampai menghapus pesan yang sudah dia ketik tadi.
"Akh ... Kenapa ribet banget sih mau tau kabar dia aja." pekik Adam menjambak rambutnya frustasi.
__ADS_1
Setelah berpikir sejenak, akhirnya Adam memutuskan untuk menelpon Khanza, daripada dia tidak tenang, tidak ada salahnya menanyakan kabar sang guru sebagai bentuk balas jasa bukan?
Tut ... Tut ...
Terdengar nada yang menandakan panggilan Adam terhubung pada ponsel Khanza. Adam kini berdiri dengan gelisah, dia jadi salah tingkah sendiri dengan jantung yang berdebar-debar, seakan jantungnya itu ingin keluar, bukan hanya itu, bahkan tangan nya juga terasa dingin, padahal Khanza belum menjawab panggilan dari nya.
Sementara Khanza yang baru keluar dari dalam kamar mandi langsung melihat pada ponselnya yang berdering nyaring. Dia pun mendekati benda pipih itu "Ust. Raka? Tumben dia menelpon," gumam Khanza.
Tanpa pikir panjang, Khanza langsung menggeser tombol hijau untuk menjawab "Halo assalamualaikum ust. Raka!" sapa nya dengan begitu lembut.
Deg!
~Bersambung.
...Nah loh beneran kan udah terkhankhan. Makanya dulu jangan sok bg, kan udah gw santet lo pakek cintanya Khanza, wkwkkwkwkw....
__ADS_1
...Bantu dukung Novel ini dengan cara like, komen dan juga vote kakak ku semuanya....
... ...