Mengejar Cinta Ustazah Khanza

Mengejar Cinta Ustazah Khanza
Adam dan Khanza.


__ADS_3

Kini keadaan di dalam mobil tampak hening, tidak ada yang bersuara, baik Khanza maupun Adam mereka sama-sama bungkam dengan pikiran mereka masing-masing. Sementara Mam Anggi juga tidak tau harus memulai membuka suara, karna dia melihat Khanza dan Adam sama-sama tegang.


Khanza yang duduk di kursi belakang kini tengah berusaha mengalihkan pandangan ke samping, karna sejak masuk Adam selalu melihat dirinya pada kaca di dalam mobil. Andai dia tau jika Adam akan ikut, mungkin dia akan mencari alasan lain lagi untuk menolak ajakan Mama Anggi. Tapi sekarang nasi sudah menjadi bubur, tidak mungkin kan dia minta turun di tengah jalan.


Sedangkan Adam yang sudah sangat rindu akan gurunya itu tidak bisa berkata-kata saat melihat Khanza, hanya jantung yang berdetak begitu cepat. Bahkan dia merasa khawatir jika suara jantung nya akan di dengar oleh sang Mama yang duduk di sebelah nya. Adam tidak tau harus memulai pembicaraan apa, dia hanya bisa menatap wajah Khanza pada spion dalam mobil.


"Kalian kenapa jadi diam sih? Adam, kamu kan sudah lama tidak bertemu dengan Ustazah Khanza, harusnya kamu tanya kabar nya atau apa gitu jangan sok cuek seperti itu!" cerocos mama Anggi yang sudah tidak tahan dengan keheningan yang terjadi.


Adam tertegun, dia kembali melihat Khanza yang selalu membuang wajah pada jendela mobil "Apa kabar?" tanya Adam kaku.


"Alhamdulillah baik," jawab Khanza.


Setelah itu tidak ada pertanyaan yang lain lagi, meskipun banyak yang ingin Adam tanyakan, tapi dia ingat ada mama nya di sebelah nya yang akan mengintrogasi dirinya jika bertanya banyak hal.


Sementara mama Anggi sampai memutar bola mata malas, anak nya itu benar-benar kaku, tidak bisa manis sedikit pun.


Sampai di swalayan, Khanza buru-buru keluar setelah mobil terparkir, di ikuti Mama Anggi dan juga Adam "Ayo," ajak mama Anggi.

__ADS_1


Khanza mengangguk, dia langsung melangkah di sebelah mama Anggi.


"Mah, aku ikut!" pinta Adam.


Mama Anggi mengernyit, tumben anak nya itu ingin ikut, biasanya kalaupun dia di akak ke swalayan maka Mama Anggi yang belanja seorang diri, sementara Adam lebih memilih di dalam mobil "Ayo!" hanya itu kalimat yang terdengar dari mulut mama Anggi.


"Silahkan Mama dan Khanza berjalan duluan!" serunya.


"Adam, jaga kesopanan mu. Dia itu guru mu dan juga lebih tua darimu, jadi panggil dia dengan sopan!" tegur mama Anggi, ini yang ke dua kali Adam memanggil Khanza dengan sebutan nama.


Adam menghela nafas"Baiklah, silahkan Mama dan ustazah!" ucapnya.


Adam langsung mengangguk, jika Khanza sudah berbicara maka dia akan menuruti semua nya, bahkan tidak menanyakan sebab atau alasannya, karna Khanza lebih tahu daripada nya.


Mereka sudah mulai masuk ke dalam swalayan, mama Anggi berbelanja keperluan dapur dan lainnya, meski ada pembantu di mansion, tapi dia senang berbelanja sendiri. Begitupun juga Khanza, diapun ikut membeli keperluan dirinya, karna untuk keperluan dapur mansion dia tidak tau apa yang harus di beli.


Setelah berputar-putar hampir dua jam, mereka kini membayar, tampak Adam beberapa kali menghela nafas karna semua belanjaan ada di tangan nya, Adam kesal saat Mama Anggi menertawakan dirinya, seolah wanita yang telah melahirkan dirinya itu sengaja mengerjai dia. Untung saja badan dan lengan nya besar, jadi masih penuh tenaga untuk mengangkat beban. Tapi yang membuat dia tidak capek atau pegal karna bisa menatap wajah Khanza dengan begitu lama, dia tidak perduli meskipun Khanza keberatan, tadi dia bahkan sengaja mengambil apapun yang ingin Khanza beli.

__ADS_1


"Sebelum pulang kita makan dulu yuk, Tante sudah lapar!" ajak Mama Anggi.


Khanza pun hanya menurut saja, begitupun juga Adam, dia malah lebih senang karna banyak menghabiskan waktu bersama Khanza. Ketiganya pun kembali masuk ke dalam mobil untuk mencari restoran agar bisa mengisi perut mereka.


Mobil yang di Kendarai Khanza kini berhenti di salah satu restoran yang terkenal akan banyak nya menu dan juga lezat. Adam turun lebih dulu, memilih meja dan menarik kursi lalu mempersilahkan mama Anggi dan kemudian Khanza.


"Tumben kamu baik, Dam!" puji Mama Anggi..


Adam hanya diam tidak menyahuti, sikap cuek dan dingin memang sudah melekat pada dirinya. Khanza tersenyum kaku saat dia di persilakan duduk oleh murid nya sendiri.


"Mama dan Khanza pesan lah dulu, Adam mau ke toilet sebentar!" pamit nya.


Mama Anggi mengangguk, setelah punggung Adam tidak terlihat lagi, Mama Anggi menatap pada Khanza "Setelah lebaran idul Fitri, Adam minta untuk pindah, dia ingin mengaji di Maroko!"


Deg...


~Bersambung.

__ADS_1


...Apa Khanza tidak salah dengar? Adam ingin mengaji ke Maroko?...


...Bantu dukung Novel ini dengan cara like komen dan juga vote kakak ku semuanya....


__ADS_2