Mengejar Cinta Ustazah Khanza

Mengejar Cinta Ustazah Khanza
Adam dan Khanza.


__ADS_3

Di Mansion Bagaskara, Adam tengah duduk dengan gusar pada sofa setelah Ummi Nabil mempersilahkan nya. Mata nya terus tertuju pada lantai dua, yang dia tau kamar Khanza ada di sana. Adam menanti tak pasti, dia tidak yakin Khanza akan menemuinya, meski Ummi Nabil sudah mengatakan jika Khanza akan turun.


Adam mengusap wajahnya dengan kasar, rasanya dia ingin naik ke atas dan langsung menemui, Khanza. Tapi, dia tidak ingin gegabah lagi, kemarahan Khanza kemarin sudah cukup membuat nya sadar untuk menjaga sikap.


Saat terdengar suara hentakkan kaki pada tangga, Adam langsung melihat nya. Dia langsung menampilkan senyuman lega, meskipun tetap merasa bersalah karna melihat raut wajah Khanza yang tampak datar dan sama sekali tidak melihat pada dirinya.


Adam berdiri saat Khanza kini berdiri di depan nya dengan jarak yang cukup jauh.


"Khanza aku--" ucapan Adam terhenti begitupun dengan langkah nya, saat Khanza mengangkat tangan nya untuk tidak Adam tetap berdiri di tempatnya.


"Kita bicara di taman saja," ajak Khanza. Dan Adam hanya mengangguk.


Sampai di taman, Khanza menyuruh Adam duduk di bangku panjang. Dia sendiri memilih untuk berdiri.

__ADS_1


Adam tampak celingak-celinguk ke dalam, takut jika pembicaraan mereka nanti nya ada yang dengar.


"Bicaralah, di sini tidak ada yang akan menguping. Karna orang di sini menghargai privasi orang lain," sindir Khanza membuat Adam mengangguk.


"Khanza, aku hanya ingin meminta maaf atas kejadian semalam. Aku benar-benar tidak sengaja, aku khilaf!" ujar Adam penuh dengan harap dan sesal.


Khanza mendelik, kemudian kembali meluruskan tatapan nya "Kenapa kamu minta maaf? Apa kamu sudah merasa menyesal?" tanya Khanza.


Khanza tersenyum sinis "Bukankah semalam aku sudah mengatakan jika perbuatan mu itu akan kamu sesali, tapi kamu menyangkalnya. Dan sekarang kenapa kamu datang ke sini dan bilang menyesal?" tanya Khanza yang membuat Adam bungkam.


"Maaf, tapi--"


"Sudah, tidak ada yang perlu di maafkan ataupun di jelaskan. Jika memang sudah selesai, maka saya akan kembali ke kamar," potong Khanza begitu cepat. Dia hendak melangkah, tapi panggilan dari Adam membuat nya kembali berhenti.

__ADS_1


"Khanza tunggu!" cegah Adam, dia ingin menggapai tangan Khanza, tapi itu hanya tergantung di udara, karna dia datang ke Mansion Bagaskara untuk meminta maaf, bukan semakin membuat Khanza kesal "Aku minta maaf, tolong jangan seperti ini. Aku hanya ingin kamu mengerti jika aku mencintaimu!" lirih Adam.


Khanza menarik nafas nya dalam-dalam "Umurmu masih sangat muda untuk mengungkapkan perasaan itu. Kamu masih belum bisa memastikan itu cinta atau hanya sekedar penasaran, dan kamu juga tidak bisa membedakan itu cinta atau nafsu. Karna pada hakikatnya cinta tidak akan memaksa dan tau bagaimana caranya menghargai orang yang di cintai," Khanza memejamkan matanya kembali "Masa depan mu masih panjang, Dam. Kamu tidak pantas mengatakan hal itu padaku, karna aku sudah menganggap mu seperti adikku. Umur ku jauh lebih tua darimu, masih ada wanita yang lebih sebanding dengan mu," tegas Khanza. Dia sudah tidak bisa lagi mendengar kata cinta dari Adam.


Adam menggeleng dengan cepat "Aku benar-benar mencintai mu bukan karna penasaran atau karna nafsu. Aku juga tidak perlu yang sebanding dengan ku jika yang lebih tua dariku sudah sangat cocok dengan ku!" sanggah Adam telak.


Khanza menggeleng "Kamu masih sangat labil, Dam. Nanti jika kamu sudah dewasa pasti akan mengerti jika perasaanmu itu mungkin hanya sebatas kagum," elak Khanza lagi.


"Apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya kepada ku?" tanya Adam dengan yakin.


"Lupakanlah rasamu untuk ku, belajar lah yang benar, buktikan jika kamu mampu menjadi seorang laki-laki yang pantas menjadi imam bagi makmum mu kelak. Wujudkan lah keinginan orang tuamu, ku rasa itu lebih bermanfaat untuk mu!" tukas Khanza. Tanpa menunggu Adam menjawab lagi, Khanza langsung pergi dari hadapan Adam.


~Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2