
Beberapa hari telah berlalu, Khanza yang sudah menjadi guru privat Adam sibuk bolak balik antara mansion nya ke mansion Adam. Meski kadang mama Anggi meminta nya untuk menginap, akan tetapi Khanza selalu menolak.
Pagi ini, Khanza sudah siap dengan kitab-kitab yang akan di ajarkan kepada Adam. Dia menemui sang Ummi untuk berpamitan.
"Ummi, Khanza pamit dulu ya!" pintanya.
Nabil tersenyum "Duduk sebentar dengan, Ummi!" pinta Nabil.
Khanza menurut, dia ikut duduk di sebelah ummi pada kursi di taman "Ada apa, Ummi?" tanya nya lembut.
Nabil tersenyum, dia memegang tangan Khanza "Kamu sekarang sudah besar Nak, tentu sudah tau mana yang baik dan yang buruk bagimu," ucap Nabil.
Dahi Khanza berkerut "Hem, apa ada sesuatu yang membuat Ummi tidak tenang!" Khanza memang pandai membaca mimik wajah, atau perasaan risau sang Ummi.
"Bukan apa, Ummi hanya khawatir karna setiap hari kamu pulang pergi ke mansion Nugraha, Ummi takut terjadi sesuatu padamu," terang Nabil.
Khanza tersenyum "Khanza paham dengan kekhawatiran Ummi, tapi kan Ummi juga tau membagi ilmu untuk orang lain itu bisa mendapatkan pahala yang besar untuk kita, lagian Khanza ingin murid Khanza menjadi orang yang sukses dan juga pandai," jawab nya menyakinkan sang Ummi.
__ADS_1
Nabil ikut tersenyum, bisa sia lihat semangat dalam diri Khanza begitu besar "Apa ada alasan lain kau mengajari Adam sesemangat ini?" tanya Nabil.
Khanza terdiam, dia langsung membuang wajah nya ke arah lain "Ummi bertanya apa, aku hanya ingin Adam menjadi seperti harapan ke dua orang tuanya," jawab nya.
Nabil mengangguk "Apakah itu harapan mu juga?" lagi-lagi Nabil bertanya yang membuat Khanza susah menelan ludah nya sendiri.
"Ummi apaan sih," kilah Khanza, dia melihat jam di pergelangan tangannya "Khanza pamit dulu ya, Ummi. Khanza sudah telat!" lanjut nya lagi sambil mencium tangan sang Ummi.
Nabil menggeleng melihat sang anak yang tampak mengelak atas pertanyaan nya "Ummi tau apa yang kamu rasakan, nak!" gumam Nabil.
Sementara di jalan, Khanza terus memikirkan perkataan sang Ummi " Harapan mu juga bukan?" pertanyaan itu terus terngiang dalam pikiran nya "Mungkin iya, Ummi!" batin Khanza.
"Kenapa datang terlambat?" tanya Adam mengintimidasi, raut wajah nya terlihat datar.
"Aku terlambat hanya beberapa menit," jawab Khanza asal.
"Itu bukan jawaban!" tegas Adam.
__ADS_1
"Aku juga tidak suka kau bertanya." sahut Khanza.
Adam terdiam, dia hanya menatap pada Khanza yang melewati dirinya begitu saja. Apa gadis itu tidak tau jika dia khawatir saat Khanza terlambat dan tidak mengangkat panggilan dari dirinya.
Adam ikut duduk pada meja bundar, mereka duduk di atas karpet berbulu "Oke, hari ini kita hanya mengulang apa yang selama ini kau hafal," ucap Khanza.
Dan seperti biasa, Adam hanya menyimak wajah Khanza, memang selama setengah bulan ini Adam hanya bisa menatap wajah Khanza. Meskipun mereka selalu belajar bersama, akan tetapi tidak sekalipun Adam berani menyentuh Khanza bahkan hanya seujung jari, karna wanita itu begitu menjaga dirinya, Khanza bahkan tidak pernah mau berdekatan dengan Adam.
"Adam, saya menyuruh mu menghafal kitab nahwu dan kitab soraf!" pekik Khanza lagi membuat Adam yang selalu terdiam menatap Khanza tersadar.
Namun, bukan nya menghafal, Adam malah mengalihkan pembicaraan "Sebentar lagi aku akan berangkat ke Maroko, apakah ada sedikit saja perasaan sedih jika nanti jauh dariku?"
Deg...
~Bersambung.
...Maaf ya jika bertele-tele. Karna membuat karya butuh proses....
__ADS_1
...Bantu dukung Novel ini dengan cara like, komen, dan juga vote kakak ku semuanya....