
Seorang lelaki tengah berdiri di balon kamar, di malam yang sudah larut, dia masih setia menatap langit yang tampak meredup. Dia tidak bergeming, sudah sangat lama pemuda itu berdiri di sana, tanpa merasa letih atau mengantuk. Dia tengah mengutuk dirinya sendiri atas apa yang telah dia perbuat.
Yap, dia adalah Adam, setelah apa yang terjadi antara dirinya dengan Khanza bahkan sampai sekarang Adam masih belum bisa memaafkan dirinya sendiri. Masih dia ingat dengan jelas ucapan wanita yang sudah merebut hati nya itu.
"Kamu benar-benar sangat keterlaluan, Adam. Dari dulu hingga sekarang, aku selalu menjaga diriku, belum ada seorang pun yang berani menyentuh ku yang bukan mahram ku, dan malam ini dengan berani nya kau telah menyentuh ku, Dam. Aku benar-benar kecewa dengan mu!" setiap kata yang keluar dari mulut Khanza bagaikan tamparan bagi Adam. Bahkan itu lebih menyakitkan daripada tamparan tangan Khanza di wajah nya.
"Aaakhhh ... Bagaimana bisa aku melakukan hal bodoh itu, bagaimana bisa kau mengecewakan wanita yang kau cintai, Dam dan bagaimana bisa kau sama kan dia dengan wanita lain, jelas dia wanita yang mulia, solehah, harus nya kau menjaga nya, bukan malah menyakiti nya!" teriak Adam sambil menarik rambutnya dengan begitu kuat.
Ternyata benar apa yang di ucapkan Khanza, dia akan menyesal seumur hidupnya telah memperlakukan Khanza seperti itu.
Sedangkan di tempat yang lain, Khanza masih duduk di sajadah sambil menengadahkan kedua tangannya, dengan isak tangis Khanza terus memohon ampunan pada yang maha kuasa.
"Ya Allah, hamba mohon ampunilah dosa hamba atas apa yang telah terjadi. Sungguh hamba sama sekali tidak berniat melakukan perbuatan yang engkau murkai!" lirih Khanza. Sudah hampir dua jam dia berada di atas sajadah, berzikir, istighfar, agar hatinya bisa tenang.
__ADS_1
Khanza merasa sangat berdosa atas apa yang di lakukan Adam padanya tadi. Selain itu, ada rasa kecewa yang sangat mendalam Khanza simpan untuk murid nya itu. Padahal Khanza sudah bahagia melihat perubahan Adam, dan harapan nya menjadikan Adam sempurna versi dirinya, kini ternyata lenyap sudah.
"Aku pikir kamu sudah benar-benar berubah, Dam!" batin Khanza, perlahan dia merebahkan tubuhnya di atas sajadah, dengan air mata yang masih mengalir, dan tanpa sadar dia langsung terlelap.
Pagi hari, jam tujuh Adam sudah keluar dari kamar dengan pakaian casual nya. Dia ingin menemui Khanza, Adam belum tenang jika belum bisa mendapatkan maaf dari sang pujaan hati.
"Adam, tumben kamu jam segini sudah bangun? mana siap gitu lagi!" tanya mama Anggi mengintrogasi putranya. Dia yang tengah menyiram bunga di sekitar halaman rumah merasa heran, karna tidak biasanya anaknya itu jam tujuh pagi sudah bangun.
"Adam mau pergi sebentar, Ma!" jawab nya.
"Adam mau ke mansion Bagaskara," jawab Adam jujur. Tidak mungkin dia berbohong saat tengah menjalankan ibadah puasa.
Dahi mama Anggi mengerut "Untuk apa?" tanya nya yang masih sangat penasaran "Apa jangan-jangan, Khanza menangis semalam itu gara-gara kamu?" tanya Mama Anggi lagi.
__ADS_1
"Jadi, Mama tau jika semalam Khanza menangis?" tanya balik Adam. Ada rasa takut dalam hati nya jika Faris juga mengetahui nya.
"Apa? Jadi beneran Khanza nangis dan itu gara-gara kamu?" mama Anggi yang tadinya hanya sengaja bertanya kini langsung berteriak dan melototi anaknya, saat kecurigaan nya benar jika Khanza menangis semalam.
"Ma-- apa yang Mama lakukan?" tanya Adam saat sang mama menyiram dirinya dengan air selang.
"Katakan, apa yang kamu lakukan hingga Khanza menangis?" mama Anggi terus menyiram putranya yang terus mengelak.
Adam langsung ambil jalan aman, dia berlari masuk ke dalam mobil.
"Adam, mau ke mana kamu? jelaskan sama Mama dulu!" teriak mama Anggi.
"Nanti Adam ceritakan, sekarang Adam pamit dulu ya Ma!"
__ADS_1
~Bersambung.