
Mendengar ungkapan Adam, Khanza membalikkan tubuhnya, menaikkan alisnya sebelah "Ada apa dengan mu, Dam? Apa kamu sakit?" tanya Khanza dengan begitu serius.
"Aku baik dan tidak sakit, aku hanya mengatakan apa yang ku rasa, jika aku mencintaimu!" ungkap Adam lagi.
Mendengar itu, bukan nya terharu atau tersenyum, akan tetapi Khanza justru bergidik, bagaimana tidak, Adam mengatakan cinta kepada nya dengan mimik wajah datar. Selain itu, dia juga tidak habis pikir, bagaimana bisa anak muda yang umurnya hampir empat tahun muda darinya berani mengungkapkan cinta.
"Apa lagi yang kami rencanakan Dam?" tanya Khanza lagi. Selaku orang yang selalu di kerjain oleh Adam, wajar jika Khanza berpikiran yang tidak-tidak.
"Apa maksudmu?" balik tanya Adam.
"Maksud saya jelas, bukan kah selama ini kamu selalu ngejahilin saya, jadi katakan sekarang apa yang kamu rencanakan?" ulang Khanza.
"Aku tidak merencanakan apapun, aku hanya ingin mengutarakan isi hatiku yang benar-benar mencintai mu!" ucap Adam.
Khanza terkekeh "Belajar lah yang rajin, dan jangan memikirkan hal yang belum saatnya kamu pikirkan, dan berperilaku lah layaknya murid pada gurunya, umur mu juga masih sangat muda!" nasehat Khanza, dia ingin melangkah.
"Lihat saja, aku akan membuktikan jika aku benar-benar mencintai mu," pekik Adam.
"Jangan pernah melakukan hal yang tidak bermanfaat, karna selamanya kamu akan menjadi murid saya." setelah mengatakan hal itu, Khanza langsung pergi meninggalkan kelas.
Sementara Adam merasa sangat kesal dengan penolakan Khanza, bahkan gurunya itu sampai mengingatkan dia akan umurnya "Sekarang kau voleh mengatakan apapun, tapi suatu saat kau yang akan menarik ucapan mu sendiri!" gumam Adam lagi.
__ADS_1
Beberapa hari telah berlalu, Adam masih dengan misinya untuk mendapatkan cinta dari sang ustazah. Salah satunya dia berubah dari orang yang malas belajar, kini jadi rajin, diapun tidak pernah lagi mendapatkan hukuman karna sekarang dia sudah bisa menghafal.
Sementara itu, ust. Raka kini juga tengah menimbang-nimbang tentang perasaan nya pada Khanza, apakah harus dia utarakan atau tidak.
"Bagaimana ini, aku semakin tidak bisa mengendalikan perasaan ku. Sebelum semua jadi salah, lebih baik aku menyatakan nya!" gumam nya sendiri.
Setelah berpikir matang, ust. Raka mulai menghubungi Khanza. Terdengar berdering, tapi belum di angkat oleh Khanza. Diapun mencoba menghubungi nya kembali.
"Assalamualaikum," ucap nya setelah panggilan tersambung.
"Waalaikum salam!" jawab Khanza di seberang.
"Apa aku mengganggu?" tanya ust. Raka.
"Em ada yang ingin aku sampaikan," ujar ust. Raka.
"Katakanlah!" seru Khanza.
"Em sebenarnya aku sudah sangat lama ingin menyampaikan ini, dan aku tidak mau rasa ini menjadi salah, karna itu aku ingin mengutarakan perasaan ku, aku mencintaimu, Khanza," cecap ust. Raka.
Khanza terdiam, dalam satu minggu ini dia mendapatkan dua hal yang tidak dia sangka, mendapatkan pengakuan cinta dari murid nya dan yang kedua dari taman masa kecil nya.
__ADS_1
"Apa yang kamu katakan?" tanya Khanza.
"Aku sungguh mencintaimu!" jawab ust. Raka.
"Sejak kapan?"
"Sejak kau menduduki bangku SMP!"
"Apa!" pekik Khanza, dia benar-benar tidak menyangka dengan apa yang dia dengar.
Sementara di luar, tanpa ust. Raka tahu, Adam yang sedari tadi menguping pembicaraan nya dengan Khanza sudah mengepalkan tangan nya. Dia tidak bisa terima jika Khanza menerima ust. Raka.
Karna tidak bisa tau apa yang Khanza jawab, dengan segera Adam berjalan keluar, dan kini dia berdiri di dekat gerbang pembatas. Dia menanti tanpa sabar Khanza yang sudah dia minta bantu untuk memanggil Khanza.
"Ada apa Dam?" tanya Khanza, dia begitu tergesa-gesa saat dia di panggil dan mendapatkan kabar untuk menemui Adam.
"Jangan terima, Raka!"
~Bersambung.
...Ciah ... Gimana lu Dam, panik gak panik gak? Hahahah...
__ADS_1
...Maaf ya bila alurnya muter-muter, karna semua butuh proses...
...Komen dong, vote nya juga dan like ya jika kalian suka....