
Mendengar nama Khanza di sebut oleh laki-laki lain, apa lagi dia mengatakan mencintai wanita itu membuat sudut hati Adam terasa nyeri juga jantung nya seketika berdetak cepat., entah sebab apa, yang jelas dia tidak rela jika Khanza di miliki oleh orang lain.
"Apa hati ini sudah benar-benar jatuh pada Khanza? Apakah aku sungguh mencintainya?" tanya Adam pada diri sendiri sembari memegang jantung nya yang masih berdetak kencang.
"Hati dan pikiran ku selama ini selalu terbayang dan teringat Khanza, jantung ku juga selalu berdetak lebih cepat jika nama nya di sebut. Itu artinya aku benar-benar mencintai nya. Jika begitu, aku harus lebih dulu menyatakan cinta ku sebelum Raka, dan aku tidak akan membiarkan siapapun merebut wanita ku!" cecap Adam, dia sudah membuat tekat untuk mengakui perasaannya pada Khanza. Beberapa hari ini sudah cukup untuk membuktikan jika dia benar-benar mencintai Khanza.
Adam kembali menempelkan telinganya di daun pintu kayu itu, dia kembali mendengar perbincangan ust. Raka dengan Bunda nya.
"Baiklah Bunda, aku akan menunggu apa kata Abi Faris, dan setelah itu aku akan mengatakan perasaan ku pada Khanza!" ucap ust. Raka.
Selesai mendengar percakapan ust. Raka, Adam langsung duduk di depan meja belajar nya, bukan untuk belajar, akan tetapi untuk mencari cara mengatakan pada Khanza. Adam yakin seratus persen jika dirinya akan dengan mudah di terima oleh Khanza, karna pada kebiasaan nya tidak ada wanita yang mampu menolak pesona Adam Naven Nugraha, yang begitu tampan, dan berbadan tegap meski umurnya masih sangat muda. Bahkan dulu dia pernah menjalin kasih dengan wanita yang umumnya dua tahun lebih dari dirinya.
"Adam, sudah lama kamu di sini?" tanya ust. Raka pada Adam. Dia ragu jika Adam mendengar percakapan nya dengan sang Bunda.
__ADS_1
"Hemm," jawab Adam singkat.
"Apa kamu mendengar sesuatu?" tanya ust. Raka lagi.
"Iya banyak. Suara santri bersholawat, bernyanyi, tertawa dan juga berbicara!" jawab Adam panjang lebar, dia bahkan tidak melihat pada ust. Raka sama sekali.
"Maksud saya, apa kamu mendengar perbincangan saya dengan Bunda saya?" lagi-lagi ust Raka bertanya pada Adam, meskipun tak mendapatkan respon apapun dari laki-laki muda itu.
Ust. Raka tersenyum, dia memang tipikal orang yang ramah, dan juga sabar "Bagaimana pendapat mu, apa Khanza akan menerima ku?" belum puas, ust. Raka lagi-lagi bertanya.
"Aku tidak tau, dan jangan tanya apapun lagi padaku," sentak Adam "Tapi satu hal, sebelum kau memiliki nya, mungkin orang lain lebih dulu mendapatkan Khanza!" tekan Adam, langsung membuat ust. Raka terdiam. Sembari langkah kakinya di ayun keluar, mending mencari makan daripada harus mendengar pertanyaan ust. Raka yang semakin membuat hatinya memanas.
"Siapa? Dan kenapa anak itu selalu hemat bicara!" gerutu ust. Raka.
__ADS_1
...----------------...
Malam hari, Adam yang memang sekarang ini selalu awal masuk ke dalam kelas, kini sengaja memperlambat, dia tengah berdiri di samping pintu masuk, tujuan nya hanya satu, dia ingin mengungkapkan perasaan ada Khanza.
Dari mulanya Adam berdiri penuh dengan rasa pd, seketika lenyap saat melihat Khanza datang dan mendekat.
"Adam, kenapa belum masuk?" tanya Khanza dengan begitu lembut.
~Bersambung.
...Pd bener kami Dam, udah yakin aja Khanza mau sama kamu, mungkin kamu memang tamvan, tapi akhlak mu suka bikin Khanza naik pitam. Wkwkkw....
...Bantu dukung Novel ini dengan cara like, komen, dan juga vote kakak ku semuanya!...
__ADS_1