Mengejar Cinta Ustazah Khanza

Mengejar Cinta Ustazah Khanza
Adam dan Khanza.


__ADS_3

Melihat Khanza sudah di depan nya, membuat Adam seketika bungkam, suara indah, lembut nan merdunya membuat Adam kehilangan kata-kata, sedari tadi sudah merangkai kata untuk di sampaikan, malah hilang dalam seketika dengan debaran jantung yang kian berpacu cepat.


"Adam," panggil Khanza lagi.


"Iya," jawab Adam masih dengan tatapan mengagumi terhadap Khanza.


"Apa kamu mendengar ku?" tanya Khanza dengan matanya yang menyipit, Khanza merasa khawatir karna akhir-akhir ini Adam semakin aneh.


"Dengar, siapa yang mampu melewatkan suara indah yang begitu menyejukkan hati!" jawab Adam tanpa sadar.


Plak...


Khanza memukul lengan Adam dengan sajadah di tangan nya untuk menyadarkan Adam "Aku rasa semakin hari penyakit mu semakin parah!" cerca Khanza. Setelah itu, dia langsung masuk, tidak mau memikirkan tentang Adam yang sangat aneh itu.


Adam tersadar, dia sampai memukul keningnya, merutuki kebodohan yang selalu kambuh saat di depan Khanza. Harusnya dia sudah mengatakan cinta nya kepada Kahnza "Aku akan mengatakan nya nanti," gumam nya. Dia ikut masuk ke dalam dan langsung duduk pada tempatnya.


Yang di lakukan Adam sekarang hanya menatap Khanza tanpa berkedip hingga pengajian mereka selesai.


Sementara di tempat lain, setelah mendapatkan panggilan dari sang putra, Mira kini duduk di sofa, dalam pelukan sang suami, mereka kini berada di ruangan keluarga dengan tv yang menyala.

__ADS_1


"Apa yang ingin kau katakan sayang?" tanya Diki.


"Tadi Raka menghubungi ku," jawab Mira.


Diki mengendurkan pelukan nya "Apa yang dia katakan?" tanya Diki.


Mira menghela nafas "Katanya dia masih sangat mencintai Khanza, dan dia meminta agar kita melamar Khanza pada Kak Nabil juga Kak Faris," jawab Mira dengan sedikit ragu.


Mendengar itu, Diki terdiam. Dia memang tau jika Raka sangat menyukai Khanza mulai dari wanita itu duduk di bangku SMP "Apa kamu akan mengatakan pada Nabil?" tanya Diki.


"Aku ingin kamu yang mengatakan pada Kak Faris," jawab Mira.


"Apa salahnya mencoba, umur kan bukan alasan untuk tidak bisa hidup bersama!" timpal Mira.


"Sayang, aku tau itu. Tapi coba kamu pikirkan yang akan terjadi, jika Khanza menerima Raka, maka itu akan sangat bagus, tapi bagaimana jika sebaliknya, mungkin dia tidak mau menerima Raka, tapi Khanza tidak tega menolak karna kita, begitupun Faris, aku takut dia memaksa Khanza, aku tidak tega melihat Khanza sedih, karna dia juga sudah seperti anak ku sendiri!" ungkap Diki.


Mira mengangguk "Lalu kita bagaimana? Kasihan juga Raka, sudah sangat lama memendam cintanya pada Khanza!" risau Amira.


"Kita pikirkan lagi mana baiknya." jawab Diki.

__ADS_1


Di pesantren, Adam yang masih mencari kesempatan kini bergegas berdiri setelah pengajian selesai, bukan untuk keluar, akan tetapi dia berdiri di dekat pintu.


Melihat semua muridnya sudah keluar, Khanza juga ingin keluar, tapi suara Adam membuat nya berhenti "Apa aku bisa bicara sebentar?" tanya Adam.


"Ada apa? Bukan kah di dalam kelas sudah ku beri waktu untuk bertanya," sentak Khanza.


"Aku bukan ingin bertanya, tapi ingin menyampaikan sesuatu," seru Adam lagi.


"Katakan lah!" titah Khanza.


"Aku mencintaimu!"


Deg...


~Bersambung.


...Ya elah, ngungkapin cinta gak ada romantis-romantisnya. Tolak aja Khan, masih ada ust. Raka noh yang juga mencintaimu....


...Bantu dukung Novel ini dengan cara like, komen, dan juga vote kakak ku semuanya....

__ADS_1


__ADS_2