
Jantung Khanza berdetak begitu kencang, dia membuang wajah nya untuk menghilangkan rasa gugupnya "Belajar yang rajin, dan jangan memikirkan hal yang tidak perlu kau pikirkan!" elak Khanza.
"Itu bukan jawaban," timpal Adam.
"Aku rasa tidak perlu memberikan jawaban, karna saat ini kau harus fokuskan belajar mu. Dan ingat, pergi ke Maroko untuk belajar, untuk dirimu sendiri, kesuksesan mu, harapan orang tua mu, bukan untuk membuktikan pada seseorang atau untuk menggapai sesuatu!" ucap Khanza dengan tegas.
Adam terdiam beberapa saat "Baiklah, jika memang itu yang kau inginkan, maka akan ku lakukan, karna menurut ku, setiap ucapanmu, adalah perintah bagiku," jawab Adam dengan lantang.
Jantung Khanza kembali berpacu dengan cepat, tapi dengan segera dia menampik nya "Sekarang cepat kau ulang hafalan mu!" titahnya kemudian.
Adam mengangguk, dia mengulang semua hafalan yang sudah Khanza ajarkan, mulai dari kita. Soraf, nahwu, dan juga fiqih, Adam begitu patuh, seolah dia anak kecil yang mematuhi semua ucapan sang ibu.
Khanza tersenyum, dia memang mengakui jika Adam termasuk remaja yang pandai, cepat tanggap, dan juga mempunyai ingatan yang sangat kuat. Dia bahkan bisa menghafal kitab soraf dalam sehari, dan hal itu membuat Khanza menjadi salut akan murid nya itu.
"Oke, hari ini sampai di sini dulu. Kamu hanya perlu mengulang lebih giat lagi, karna tidak lama lagi kau akan berangkat," seru Khanza.
Adam lagi-lagi mengangguk, memang tidak lama lagi dia akan ke Maroko, karna sekarang sudah di akhir bulan Ramadhan.
"Tante, saya pamit dulu," ucap Khanza pada mama Anggi.
"Malam ini kamu buka puasa di sini saja, Khanza," pinta mama Anggi.
__ADS_1
"Tidak usah, Tan, lagi pula kasihan Ummi dan Abi di rumah hanya berdua," tolak Khanza dengan begitu sopan.
"Kamu tidak perlu khawatir, Khanza, karna Om sudah mengundang Ummi dan Abi mu untuk berbuka puasa di sini," sahut Papa Ammar yang baru saja pulang.
Khanza tertegun, kini dia tidak tau harus beralasan apa lagi.
"Sudah kamu jangan pikirin yang tidak-tidak, sebentar lagi Abi dan Ummi kamu pasti akan datang!" timpal mama Anggi lagi.
Khanza menarik nafas panjang, mau tidak mau dia harus menerima tawaran Mama Anggi "Baiklah, Tante!" jawab nya.
Sementara Adam yang sejak tadi mendengar percakapan antara Mama nya dan Khanza merasa sangat senang "Yes, akhirnya aku bisa berbuka bersama sayang ku," gumam Adam.
Waktu terus berlalu, tanpa terasa siang telah menjelang sore, Khanza yang sedari tadi gelisah menunggu kedua orang tuanya tersenyum saat melihat mobil sang Abi sudah berhenti di depan pintu utama mansion Nugraha.
"Abi, Ummi!" panggil Khanza, dia mendekat, mencium tangan keduanya, kemudian langsung memeluk mereka, sikap Khanza seolah sudah satu tahun tidak bertemu dengan Abi dan Ummi nya. Tapi, itulah ke unikan Khanza, dia memang sangat manja dalam hal tersebut.
Melihat bagaimana sikap sopan dan santun Khanza pada kedua orang tua nya, membuat Adam, Mama Anggi dan papa Ammar mengembangkan senyuman.
Dalam benak Adam, dia sangat beruntung bisa mencintai wanita sebaik Khanza, lembut dan sopan santun.
Sementara mama Anggi dan Papa Ammar, mereka bahagia saat membayangkan jika anak-anak mereka juga seperti itu.
__ADS_1
"Kalian sudah datang, mari silahkan masuk!" ajak papa Ammar.
Abi Faris mengangguk, dia segera melangkah masuk, begitupun dengan Ummi Nabil, dia memberikan rantangan yang sudah ada berbagai macam lauk di dalam nya.
"Hais, kenapa repot-repot, kami mengundang untuk berbuka di sini, bukan untuk tukeran masakan," protes mama Anggi saat Nabil memberikan rantangan tersebut.
"Tidak apa-apa, agar tidak bosan menunggu Mas Faris pulang kerja," jawab Nabil.
Mendengar jawaban Nabil, Adam langsung membisikkan sesuatu pada Khanza "Kini aku tau kenapa suaramu begitu lembut, itu karna di wariskan oleh Ummi mu itu,"
Khanza mendelik "Suaraku memang sama seperti Ummi, tapi sikap ku tidak selembut Ummi, jika ada berani macam-macam padaku, maka akan ku beri dia pelajaran yang tidak akan dia lupakan!" tegas Khanza.
"Oh ya? Contoh nya?" tanya Adam, dan salam detik itupun Khanza langsung menikam perut Adam dengan sikunya, membuat Adam menjerit "Aakhhh!"
Mama Anggi dan yang lainnya langsung melihat pada Adam "Kamu kenapa, Dam?"
~Bersambung.
...Hahaha makanya Dam, jangan macam-macam, Khanza mah keliatan nya saja lembut, padahal dia sama kek abi Faris....
...Bantu dukung Novel ini dengan cara like komen dan juga vote kakak ku semuanya....
__ADS_1