Mengejar Cinta Ustazah Khanza

Mengejar Cinta Ustazah Khanza
Adam dan Khanza.


__ADS_3

Mendapatkan pertanyaan sedemikian rupa, membuat Khanza memberhentikan langkah nya. Tapi yang membuat nya merasa sangat marah, karna Adam dengan tanpa ada kesopanan sedikit pun menarik ujung kerudung di belakangnya hingga membuat Khanza mendongak ke atas.


"Jaga batasan mu Adam. Di mana adab dan kesopanan mu?" sentak Khanza masih dengan kepala mendongak.


Mendengar itu, Adam reflek langsung melepaskan kerudung sang ustazah "Saya hanya ingin jawaban anda," bukan nya meminta maaf, Adam malah mempertanyakan sikapnya.


"Apakah itu harus saya jawab? Bukan kah memang itu yang selama ini kamu inginkan?" tanya Khanza ketus tanpa membalikkan badannya.


Adam terdiam, tidak tau harus berkata apa. Akhirnya keturunan Nugraha ini hanya berdecak kesal, lalu meninggalkan kelas beserta Khanza yang menggeleng melihat sikapnya.


"Murid aneh." gerutu Khanza. Diapun akhirnya melangkah pergi. Sampai di dalam bilik, Khanza langsung meletakkan kitab dari tangannya, mengganti pakaian. Baru hendak sarapan, dia mendengar ada notifikasi masuk ke ponselnya.


"Bagaimana kabar Adam? Apa dia masih berulah?" pesan yang ternyata dari Mama Anggi, Mam dari Adam.


"Alhamdulillah Adam baik, Tante. Dan sekarang dia sudah rajin mengaji." balas Khanza. Bukan dia berniat berbohong, tapi dia tau harapan seorang ibu pasti ingin anaknya berubah, dan dia juga yakin jika suatu saat Adam akan berubah.

__ADS_1


"Syukur jika seperti itu, terimakasih ya nak, ini semua berkat kamu!" balas Mam Anggi lagi.


"Sama-sama Tante, kalau begitu Khanza sarapan dulu ya Tan." pamitnya. Diapun langsung sarapan yang sudah hampir menjadi makan siang.


Sementara di area para santri lelaki, kini Adam tengah terlentang di atas tempat tidur, dia sudah bertekad kini akan mencari perhatian Khanza lagi, rasanya sangat asing jika dia berisik tidak ada yang memarahi, entah kenapa dengan dirinya, yang pasti dia ingin melakukan hal tersebut.


Malam hari, selesai berjamaah magrib semua santri kini sudah siap-siap ke kelas masing-masing untuk mengaji setelah lonceng di bunyikan.


Seperti yang lainnya, Adam juga mengaji. Dia tampak lebih semangat, ayunan langkahnya kini terlihat lebar.


Sampai di dalam kelas, Adam melewati semua teman sekelasnya dengan raut wajah dingin, tanpa menyapa sedikit pun.


Adam hanya acuh tanpa memperdulikannya, dia malah ingin duduk di tempatnya.


"Entah dosa apa yang di perbuat orang tuanya sehingga mendapatkan anak seperti dia." cerca Qasim lagi.

__ADS_1


Mendengar orang tuanya di bawa-bawa, Adam mendadak panas, dia yang sudah duduk kembali bangkit dan langsung memegang leher baju Qasim.


"Maksud lo apa hah?" sentak Adam dengan tatapan nya yang begitu tajam pada Qasim.


"Lepasin, apa kamu tidak sadar, semua gara-gara kamu. Karna sikap bandel, susah di aturmu itu hingga membuat Ustazah tidak bersemangat untuk mengajar," balas Qasim juga menatap tajam pada Adam.


"Gw masih bisa terima jika lo mengatai gw, tapi gw gak akan diam jika lo mengatai orang tua gw!" teriak Adam, dan di iringi dengan satu tinjuan mengenai wajah Qasim.


Sementara di luar, Khanza baru saja melewati gerbang pembatas antara santri perempuan dan laki-laki. Tapi, pendengarannya langsung menangkap suara ribut di dalam kelas, diapun langsung bergegas masuk, dan betapa terkejutnya dia saat melihat Qasim tengah mengangkat tangan nya ingin meninju Adam. Tanpa berfikir panjang, Khanza langsung berlari.


Bugh...


"Akh..."


~Bersambung.

__ADS_1


...Wah, siapa yang kena pukul ya?...


...Bantu dukung Novel ini dengan cara like, komen, dan juga vote kakak ku semuanya....


__ADS_2