
Masih di dalam ruangan perawatan Khanza dan di keadaan yang sama, yaitu para lelaki yang berebutan ingin merawat Khanza.
"Tidak ada yang perlu di debat kan lagi, sayalah yang akan mengurus Khanza," cicit Adam.
"Le--lebih baik biar saya saja, seperti kata bapak ini, saya harus di hukum," sahut Qasim yang juga ingin mempunyai waktu dengan sang guru.
"Kalian kenapa begitu kekeh merawat putri saya, kalian pikir saya akan mengizinkan kalian mendekati nya, merawat nya adalah dengan cara berjaga di depan ruangan nya tanpa boleh pergi walaupun hanya sebentar." timpal Faris saat melihat sang putri jadi rebutan.
"Saya siap!" sahut Adam dengan yakin.
"Tidak ada yang di hukum dan tidak usah ada penjagaan, ini pesantren, tidak akan ada orang jahat. Lagian ada Ustazah Mirna bersama ku!" kelakar Khanza begitu lantang. Dia sudah bosan melihat drama yang sangat berlebihan itu.
"Tapi Nak--" ucapan Faris langsung terputus saat suara lembut wanita nya terdengar menyahuti.
"Aku setuju dengan putri ku, ini pesantren mana bisa seorang wanita di jaga oleh laki-laki, takut nya itu akan menjadi fitnah!" timpal Nabil.
"Tapi sayang aku tidak menyuruh mereka mendekati anak kita," kilah Faris.
__ADS_1
"Tidak perlu, dan lebih baik kita keluar saja, biarkan dia tidur!" ucap Nabil lagi.
Akhirnya Faris diam, membuat Adam dan yang lainnya ingin tertawa, dengan orang lain saja Faris bersikap garang, dingin dan tegas, tapi dengan istri nya dia bersikap seperti kucing yang tunduk pada majikannya.
"Kalian tunggu apa lagi, keluar cepat biarkan Khanza istirahat, dan untuk kalian," tunjuk Faris pada Adam dan Qasim "Kalau sampai kejadian ini terulang lagi, maka aku yang akan langsung memberikan kalian pelajaran." tukasnya begitu tegas.
"Sebelum keluar, aku ingin bicara dulu dengan Khanza berdua," bukan nya takut dan langsung keluar, Adam malah meminta untuk berbicara berdua dengan sang guru.
"Tidak boleh," cegah Faris.
Melihat betapa keras nya sang suami, Nabil langsung mengelus lengan Faris "Kita keluar!" ajak Nabil.
Adam mendekati ranjang pasien, berdiri tidak terlalu dekat dengan sang ustazah "Kenapa kau mendorong ku, jadinya kan seperti ini, wanita kan lemah, mana sanggup menahan pukulan seperti itu," cerocos Adam panjang lebar.
Khanza melotot, bukan nya berterima kasih, murid nya yang satu ini malah menyalahkan dirinya.
"Harus nya biarkan saja saya yang di pukul Qasim, saya laki-laki, jadi tidak pantas di lindungi oleh perempuan. Kalau sudah seperti ini yang susah siapa? Yang kena marah dengan Abi mu siapa?" lanjut Adam lagi mengomel seperti emak-emak. Sebenarnya Adam bukan ingin menyalahkan Khanza, akan tetapi dia tidak tau caranya berterima kasih dan meminta maaf, terlebih Adam tidak ingin kejadian ini terulang kembali.
__ADS_1
"Sudah selesai menyalahkan saya?" tanya Khanza.
"Jika sudah maka silahkan keluar, saya mau istirahat!" cicit Khanza "Dan satu lagi, jaga kesopanan mu, aku ini lebih tua darimu, juka bukan karna aku gurumu, setidaknya hormati aku sebagai kakak mu, panggil aku Kakak." lanjut Khanza lagi.
"Kakak?" tanya Adam "Kamu itu bukan Kakak ku." ucap Adam penuh penekanan.
"Terserah, tolong panggilkan ustazah Mirna!" seru Khanza, dalam artian kata dia mengusir Adam secara halus.
Adam pun melangkah pergi, sampai di ambang pintu, dia menghentikan langkahnya "Maaf dan terimakasih!" ucapnya. Setelah itu diapun pergi keluar tanpa menoleh pada Khanza.
Sementara Khanza yang mendengar ucapan terimakasih dan maaf pertama kali dari Adam sempat tercengang, karna ini pertama e lelaki itu bicara baik dengan nya.
"Apa dia kesurupan?" gumam Khanza.
~Bersambung.
...Iya Adam kesurupan, kesurupan cinta. Wkwkwkwk...
__ADS_1
...Bantu dukung Novel ini dengan cara like, komen, dan juga vote kakak ku semuanya....