
Waktu berlalu haripun berganti, di pesantren Ar-raudhatun muta'alimin kini tampak senyap di saat para santri tengah mengikuti pengajian. Jika santri yang lain diam menyimak penjelasan yang di ajarkan oleh ustadz maupun ustazah, maka berbeda dengan seorang remaja yang menatap tak berkedip pada seorang ustazah dengan perasaan jantung yang berdebar kencang, bahkan dia sampai menopang wajah dengan tangan nya.
Adam yang baru menyadari kecantikan sang ustazah begitu tergoda dan rasanya tak akan jenuh melihat Khanza. Dia yang dulu malas mengaji, sekarang bahkan rasanya ingin selalu berada di dalam kelas mengikuti pengajian sang ustazah.
"Jadi seperti itu murid sekalian, apa kalian paham?" tanya Ustazah Khanza.
"Paham, ustazah!" sahut mereka serentak.
"Adam, apa kamu paham?" tanya Khanza lagi khusus pada satu orang.
"Adam," pekik Khanza karna murid yang satu nya itu tidak merespon.
"Iya," jawab Adam begitu cepat karna reflek.
"Apa kamu sudah paham?" ulang Khanza.
Adam mengangguk "Paham," jawabnya.
__ADS_1
"Apa yang kamu pahami?" tanya Khanza lagi.
"Cantik, baik, manis, anggun, suara lembut, enak di dengar, hingga aku ingin selalu memandang wajah mu," celetuk Adam tanpa sadar, matanya masih tidak berkedip melihat Khanza.
Mendengar itu, Khanza langsung melotot "Apa yang kamu katakan? Siapa yang kamu maksud!" sentak Khanza yang merasa marah.
"Kamu, Khanza ku!" jawab Adam santai.
Brak ....
Khanza bangun langsung menggebrak meja, dia sungguh merasa marah dengan perkataan Adam, bukannya menyimak dia malah berbicara yang tidak sopan.
"Jangan marah, karna kecantikan mu semakin bertambah!" cerocos Adam lagi.
Semakin lama di dalam kelas, Khanza merasa semakin geram, diapun akhirnya langsung keluar dari dalam kelas.
"Hati-hati Khanza ku," pekik Adam saat Khanza di pintu memakaii sendal yang sengaja dia lepas.
__ADS_1
Sambil menyentak kakinya di atas tanah Khanza langsung pergi dari depan kelas.
"Kamu kenapa Dam, jangan-jangan kamu sudah kesengsek sama ustazah Khanza?" tanya teman sekelas Adam. Merekapun merasa aneh dengan tingkah Adam yang sangat aneh.
Wajah yang tadi tersenyum-senyum sendiri kini langsung berubah datar tanpa ekspresi "Bukan urusan kalian!" sentak Adam. Dia langsung bangun dan melangkah menerobos teman-teman yang mengerumuninya.
Sambil berjalan Adam bersenandung kecil, meluapkan rasa bahagia nya karna bisa melihat ustazah Khanza setiap hari, bahkan hampir setiap waktu. Bibirnya masih terus melengkung kala mengingat bagaimana Khanza marah dan melototi nya yang membuat wanita itu tampak semakin cantik.
"Aku benar-benar gila, bagaimana bisa aku terus memikirkan nya, tidak mungkin aku mencintainya bukan!" gumam Adam sendiri di depan pintu bilik, tangannya bahkan sudah menyentuh handel pintu, memutar dan membuka nya.
Langkah pertama saat dia pijak dalam bilik langsung terhenti saat mendengar suara ust. Raka berbicara dengan seseorang di balik sambungan telepon.
Awalnya Adam tidak ingin memperhatikan apa yang di bicarakan ust. Raka, tapi percakapan ust. Raka mengalihkan perhatian Adam saat lelaki itu mengatakan tentang perasaan nya terhadap seseorang. Dengan perlahan Adam mendekati kamar yang ada di dalam bilik tempat khusus ust. Raka.
"Bagaimana ini Bunda, Raka sudah tidak bisa lagi memendam perasaan ini. Bertahun Raka menunggu dirinya dan sekarang dia kembali, dan sampai sekarang Raka masih sangat mencintanya, Raka tidak ingin cinta ini salah dengan mengungkapkan nya, tapi Raka ingin kita langsung melamar Khanza!"
Deg...
__ADS_1
~Bersambung.
...Nah kan, udah ada saingan lu Dam. Aku sih setuju sama ust. Raka, secara diakan ustadz dan umur pun lebih dari Khanza, daripada elu Dam, masih berondong, ngajipun gak pernah serius....