Mengejar Cinta Ustazah Khanza

Mengejar Cinta Ustazah Khanza
Adam dan Khanza.


__ADS_3

Ahmad tercekat mendengar ucapan sang Ibu "Jangan bilang Ibu ingin aku menikahi nya karna tau jika dia keluar kaya. Bu, Khanza itu wanita baik-baik dan juga sangat berharga, aku tidak ingin mempermainkan dirinya hanya karna harta. Apa Ibu belum merasa cukup dengan kekayaan yang sudah kita miliki?" tanya Ahmad.


Plak...


Satu pukulan langsung mendarat di bahu Ahmad "Kamu kalo ngomong nyinyir banget ya, sudah seperti perempuan saja. Siapa yang ingin hartanya Khanza. Ibu bilang nya agar kamu terus berjuang, karna Ibu sangat suka dengan Khanza, dia wanita baik-baik dan juga sangat kental agama nya. Karna Ibu pernah dengar, dulu istri nya Tuan Faris juga sering membuat pengajian bersama ibu-ibu," bantah nya. Dia tidak terima di tuduh sedemikian rupa oleh anaknya sendiri.


Ahmad tercengir "Kirain, bu." jawab nya dengan rasa bersalah.


Bu Melati hanya menggeleng dengan sikap sang putra. Dari cara Ahmad membela Khanza, dia yakin jika anak nya itu memang memendam rasa kepada Khanza.


Malam hari, selesai berbuka dan Khanza juga sudah membaca kitab suci Alquran, dia kini tengah duduk masih di sajadah, Khanza melirik jam yang sebentar lagi sudah masuk waktu solat tarawih. Diapun bergegas bangun, niat nya untuk wudhu kembali.


Akan tetapi, saat kakinya hendak melangkah ke dalam kamar mandi, Khanza mendengar suara notifikasi yang masuk pada ponselnya. Karna penasaran, Khanza terlebih dulu menyambar benda pipih tersebut.


Khanza membaca pesan yang ternyata dari Adam. Ada seulas senyuman yang terbit dari bibir Khanza. Setelah kejadian di mana Khanza meminta Adam agar melupakan dirinya, barulah kini Adam mengirimkan dirinya pesan.


Sebelum nya Khanza merasa risih karna setiap saat mendapatkan pesan dari anak didiknya itu. Tapi, setelah beberapa hari Adam tidak memberikan pesan, Khanza menjadi hampa, seperti ada sesuatu yang hilang pada dirinya.

__ADS_1


Setelah membaca pesan pengingat makan dan solat dari Adam, Khanza meletakkan kembali ponsel tersebut, dia pun langsung melangkah ke dalam kamar mandi, tanpa berniat membalas pesan dari anak remaja itu.


Khanza tidak ingin Adam salah paham lagi dengan sikap peduli Khanza terhadap nya. Entah Khanza akan senang dengan pilihan nya atau tidak, yang jelas wanita itu hanya ingin Adam menjadi lelaki yang patut di banggakan.


Sementara Adam yang sudah memikirkan berpuluh-puluh kali, akhirnya dia memutuskan untuk mengirim pesan pada sang ustazah. Mulai beberapa hari ini dia terus perang antara hati dan pikiran nya. Hatinya selalu ingin menanyakan kabar Khanza, tapi otaknya selalu berpikir untuk jangan mengganggu sang wanita.


Setelah perdebatan, akhirnya hatilah yang menang. Dan sekarang ini dia tengah merasa menyesal karna menuruti hati nya, karna sampai sekarang pesan nya belum juga di balas oleh Khanza.


"Nah kan, harusnya tadi aku gak usah ngirim dia pesan, ujung-ujungnya sakit hati sendiri kan karna tidak di balas!" gerutu Adam pada dirinya sendiri sambil matanya menatap pada layar ponsel.


Hari terus berlalu, malam pun selalu berganti. Setelah menjalani puasa selama sebulan penuh, kini tiba lah di hari kemenangan. Khanza beserta keluarga besarnya baru saja pulang dari masjid setelah melaksanakan solat idul Fitri. Keluarga yang hangat itu tampak selalu tersenyum dan juga penuh haru, terlebih saat Kenzo dan Khanza meminta maaf pada kedua orang tua nya.


Yap, Kenzo juga sudah pulang dari Mesir. Membuat keluarga mereka terasa lengkap.


"Maafkan segala dosa Raka, Abi!" pinta Raka pada abi Faris. Kini Diki, Mira, Raka, dan juga Nazifa juga berada di mansion Bagaskara. Mereka tampak salam-salaman dan bermaaf-maafan.


"Maafkan aku ya Khan, jika aku banyak salah padamu!" pinta Raka.

__ADS_1


Khanza tersenyum kaku saat Raka di depan nya dan meminta maaf "I--iya, aku juga minta maaf ya!" balas Khanza juga.


Hari lebaran adalah hari yang sangat berkesan juga penuh kehangatan, di mana keluarga yang jauh akan berkumpul, kebersamaan yang jarang terjadi maka di hari itu akan banyak waktu untuk bersama.


"Kapan kita ke rumah Nenek dan Kakek?" tanya Kenzo pada sang Abi.


Setiap tahun mereka selalu pulang ke rumah Kakek Zainal dan Nenek Fatimah, kedua orag tua Nabil. Sementara Kakek Adinata sudah meninggal setahun yang lalu.


"Nanti sore saja, kita masih ada tamu sebentar lagi," jawab Abi Faris.


Kenzo tidak mempertanyakan lagi, karna dua sudah tau dan juga paham jika sang Abi adalah orang yang terkenal, tentu saja banyak orang yang datang ke Mansion mereka.


Semuanya kembali berbincang hangat, hingga terdengar suara orang dari pintu masuk.


"Assalamualaikum," ucap orang itu.


"Waalaikum salam," jawab mereka serentak.

__ADS_1


Deg....


~Bersambung.


__ADS_2