Mengejar Cinta Ustazah Khanza

Mengejar Cinta Ustazah Khanza
Adam dan Khanza.


__ADS_3

Apa yang terjadi pada Khanza ternyata tidak di anggap remeh oleh Faris. Dia keluar bersama Nabil untuk meminta izin pada Aba pimpinan guna meminta izin agar putri mereka bisa di bawa pulang. Bukan tidak mengizinkan Khanza untuk mengajar lagi, hanya saja untuk beberapa hari lebih baik Khanza istirahat di rumah untuk memulihkan kepalanya.


Sementara di dalam ruangan, Khanza tampak tengah berbincang dengan Ustazah Mirna "Abi kamu tampak sayang banget ya sama kamu," ucap ustazah Mirna.


Khanza tersenyum "Semua orang tua pasti menyayangi anaknya," jawab nya.


"Iya sih, tapi Abi kamu beda. Dia kelihatan banget benar-benar ngejaga in kamu, mungkin dia takut anak bungsunya lecet." goda ustazah Mirna.


Khanza hanya menyikapinya dengan senyuman "Abi memang sangat menyayangi keluarga nya, bukan hanya aku, tapi kak Kenzo juga, meski dia laki-laki, jika ada yang menyakiti keluarga nya, maka Abi tidak tinggal diam untuk tidak memberikan pelajaran pada orang itu, mungkin sebab itu juga, kami sekeluarga saling menyayangi dan juga melindungi," terang Khanza.


Ustazah Mirna mengangguk "Beruntung ya jadi kamu." cicitnya.


Khanza lagi-lagi tersenyum "Semua akan merasa beruntung, tergantung bagaimana cara kita bersyukur." imbuh Khanza.


"Oh ya, apa yang di katakan oleh murid mu tadi?" tanya Ustazah Mirna yang sangat ingin tau.


Belum sempat menjawab, pergantian mereka teralihkan pada pintu masuk, terlihat dua orang yang dimana lelaki masih tampak begitu tampan meski sudah di usia hampir kepala lima. Begitupun dengan sang wanita yang masih menutup wajahnya dengan niqab, mereka terlihat sangat serasi sampai sekarang.


"Nak, ayo kita pulang!" ajak Nabil.


"Apa Ummi, pulang?" tanya Khanza terkejut. Meski hal ini sudah dia yakini, tapi tetap saja dia merasa berlebihan.


"Iya, kamu harus pulang untuk memulihkan kepalamu," jawab Nabil.


"Tapi Ummi, kepala Khan sudah terasa ringan, sebentar lagi juga akan seperti biasanya, jika Khan pulang, siapa yang mengajar di kelas Khan?" protes Khanza, bukan nya menolak, hanya saja dia merasa sakit di kepalanya sudah berkurang.

__ADS_1


"Tidak ada bantahan, atau selama nya Abi tidak memberimu izin untuk mengajar lagi." sahut Faris dengan wajah dingin.


Jika Faris sudah memberi ancaman, maka Khanza hanya bisa menghela nafas pasrah, karna dia tau jika Abi tidak pernah main-main dengan ancaman nya.


"Baiklah Ummi, kita pulang." celetuk Khanza pasrah.


Mereka pun langsung keluar dari Puskestren dan masuk ke dalam mobil yang memang sudah siap membawa mereka pulang.


"Ustazah Mirna, aku pamit pulang sebentar ya!" pamit Khanza.


"Iya, jangan lama-lama ya di rumah." jawab Mirna.


Akhirnya mobil yang membawa Khanza pulang melaju dengan perlahan, meninggalkan halaman pesantren.


"Katakan kenapa Khanza di bawa pulang?" tanya Adam tanpa basa basi.


Mirna sempat terkejut "Maaf, apa anda bertanya pada saya?" tanya balik Mirna. Dia tau Adam bertanya padanya, tapi sengaja karna geram melihat Adam tanpa sopan santun sedikit pun.


"Tidak, saya bertanya pada rumput yang bergoyang," jawab Adam dengan kesal.


"Oh, ya sudah permisi!" imbuh Mirna, dia hendak melangkah, tapi Adam menghalangi nya "Permisi, saya mau bertanya apa kenapa Khanza di bawa pulang?" ulang Adam dengan kesal, karna rasa penasaran nya terhadap Khanza, dia harus seperti orang memohon.


"Nah kan enak di dengar. Dia di bawa pulang karena harus melewati masa pemulihan," jawab Mirna.


"Pemulihan? Bukankah dia hanya terkena pukulan sekali?" tanya Adam lagi.

__ADS_1


Mirna hanya megedikkan bahunya "Saya tidak tau, permisi!" pamit Mirna.


"Tunggu, tunggu!" cegah Adam "Tapi dia kembali lagi ke sini kan?" tanya nya.


"Kenapa? Apa kamu tidak rela jika dia tidak lagi kembali ke sini?" tanya Mirna mengintrogasi Adam.


Mendapat pertanyaan seperti itu, membuat Adam salah tingkah, dia seperti terjebak dengan ucapan nya sendiri "Mana ada, gw hanya tidak ingin ada guru pengganti yang lain lagi, pasti akan lebih mengesalkan dari pada dia," jawab Adam asal.


"Yang benar?" tanya Mirna.


"Iya lah!" jawab Adam.


"Em ... Kata Khanza tadi sih, dia akan kembali jika muridnya berakhlak mulia, khususnya murid yang bernama Adam, dia sudah kewalahan dengan murid yang satu itu," ucap Mirna, dia sengaja berbohong untuk menyadarkan Adam.


"Apa, dia bilang begitu?" tanya Adam tampak terkejut, bagaimana jika memang benar Khanza tidak kembali lagi karna ulahnya.


"Iya, saya permisi. Ini sudah malam saya tidak ingin ada yang salah paham melihat kita di sini!" Mirna langsung pamit pergi.


Tinggal lah Adam yang tengah berpikir apa yang baru saja di katakan oleh wanita yang dia tau teman gurunya "Apa benar tergantung pada gw, kalo memang benar, tidak ada salahnya mencoba,"


~Bersambung.


...Cie cie yang sudah mulai terkhankhan....


...Bantu dukung Novel ini dengan cara like, komen, dan juga vote kakak ku semuanya....

__ADS_1


__ADS_2