
Saat keluarga Syakir tengah berbincang hangat, tiba-tiba mereka mendengar suara orang yang mengucapkan salam dari arah pintu.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikum salam," jawab mereka serentak. Saat melihat siapa yang datang, semuanya tersenyum hangat, namun berbeda dengan Khanza, tidak tau kenapa jantung nya langsung berdebar saat tatapan nya beradu pada sepasang mata yang tengah menatapnya. Sambil berucap Khanza langsung memutuskan pandangan.
"Mari silahkan masuk," titah Ummi Nabil pada tamu yang ternyata keluarga Nugraha.
Mereka semua masuk, langsung saja bersalaman untuk saling memaafkan, tak lupa juga Adam meminta maaf pada ust. Raka, dia merasa selama di pesantren sikapnya sangat buruk pada ustadz itu.
"Maafkan semua kesalahan ku," pinta Adam. Meski dia meminta maaf, akan tetapi caranya seperti sedang mengajak orang untuk berkelahi.
"Iya, saya juga meminta maaf!" sahut ust. Raka.
"Om, Tante, minal aidzin wal Faidzin," ucap Adam lagi pada Ummi Nabil dan Abi Faris, Kenzo, juga pada Mira, Diki. Saat di depan Khanza, Adam yang hendak meminta maaf langsung melihat Khanza yang mengatup tangan di depan dada.
"Mari, silahkan duduk dan silahkan di minum," seru Ummi Nabil.
Namun, belum sempat Papa Ammar, Mama Anggi dan Adam duduk, dari arah pintu terdengar suara orang mengucapkan salam kembali.
"Assalamualaikum,"
__ADS_1
"Waalaikum salam," jawab mereka semua yang ada di ruang tengah, meski dengan sedikit heran dan tidak kenal, tapi mereka tetap mempersilahkan masuk.
"Ibu Melati, Ahmad, silahkan masuk!" seru Khanza.
Sontak mereka yang ada di sana langsung melihat pada Khanza "Kamu kenal sayang?" tanya Abi Faris. Sebenarnya Abi Faris memang sudah tau siapa yang datang, karna baru beberapa hari lalu anak dan ibu itu mendekati sang putri.
"Perkenalkan saya Melati ibunya Ahmad. Saya ini termasuk ibu-ibu yang mengikuti pengajian Nak Khanza. Jadi, boleh kan saya bertamu? Karna saya ingin menyalami tangan guru saya," bukan Khanza yang menjawab, akan tetapi ibu Melati.
"Apa yang kau lakukan, Bu? Tentu saja boleh, mengapa harus bertanya seperti itu," cerocos Ummi Nabil. Dia sampai bangun dan mendekati ibu Melati, dia langsung mengulurkan tangan untuk bersalaman.
Hati Ibu Melati merasa hangat, ibu dan anak sama-sama baik dan juga ramah, ibu Melati jadi tidak sabar untuk menjadikan Khanza sebagai menantu nya.
"Kamu Ahmad yang satu Sekolah Dasar dengan kita kan?" tanya ust. Raka yang masih mengenal Ahmad.
"Tadi memang agak susah mengingat nya," imbuh ust Raka lagi.
Akhirnya mereka pun kembali bersalaman. Dan kini mereka masing-masing sibuk bercerita, di kediaman Bagaskara terlihat sangat hangat dan juga rame.
Tapi, di sela senyaman mereka yang hangat, ada rasa kesal di dalam hati Adam saat melihat sedari tadi Ahmad terus menatap Khanza yang kini tengah berbincang dengan Nazifa.
Sekarang ini memang hanya mereka yang ada di sana, sementara Kenzo dan Raka sudah pergi entah kemana.
__ADS_1
Adam sekuat tenaga menahan rasa marah di hati nya, karna sebagai lelaki dia paham tatapan Ahmad pada Khanza. Dia bahkan sampai mengepalkan tangannya "Sabar, Adam, jika tidak ingin Khanza semakin marah sama kamu," batin Adam menguatkan dirinya sendiri.
"Mari, sebaiknya kita makan dulu," ajak Ummi Nabil.
Dan mereka semua kini berada di meja makan, tampak hidangan di atas sana begitu banyak dan juga lezat. Mereka kembali melanjutkan berceloteh di sela-sela makan siang mereka, dan di iringi dengan tawa hangat memenuhi meja makan.
Sementara yang lain tertawa, namun berbeda dengan Adam. Dia lagi-lagi mengepalkan tangannya saat melihat Ahmad kembali menatap Khanza tanpa berkedip.
"Huh ... Ingin rasanya aku mencongkel mata itu dengan garpu ini, beraninya menatap wanita ku," batin Adam menggerutu.
Sementara Ahmad yang sedari tadi terus menatap pada Khanza tanpa sengaja dia melihat pada Adam yang tengah menatapnya dengan tajam.
"Gluk," Ahmad sampai susah menelan ludah nya karena terkejut dengan tatapan membunuh dari Adam. Dia tidak tau kenapa anak muda itu menatap nya begitu, tapi dia yakin jika jika ini ada hubungannya dengan Khanza.
Selesai makan, mereka semua izin pamit, Adam yang sedari tadi ingin mencuri kesempatan berbicara berdua dengan Khanza kembali merasa kecewa, karena lagi-lagi Khanza seolah menghindar darinya.
Tidak ada cara lain, Adam hanya mengetik beberapa kata pada via WhatsApp nya dan mengirim pada Khanza.
"Lusa aku akan berangkat, jika kamu tidak keberatan kamu bisa mengantar ku atau datang ke mansion ku, aku ingin melihat mu untuk terakhir kalinya,"
~Bersambung.
__ADS_1
Wah ... Adam akan pergi nih, gimana Khanza, akan rindu Adam gak ya??
Bantu dukung Novel ini dengan cara like komen dan juga vote kakak ku semuanya.