
Selesai solat magrib, mereka semua langsung menuju pada meja makan, mereka semua ingin mengisi perut setelah sehari menahan rasa lapar dan dahaga. Mama Anggi langsung mengisi nasi ke dalam piring dan memberikan nya pada Papa Ammar, begitupun dengan Nabil yang dengan sepenuh hati melayani Faris.
Sementara Khanza juga mengambil piring kemudian menyendok ke dalam piring tersebut, tanpa dia sadar jika Adam sedari tadi menatap dirinya.
Adam tengah berkhayal jika nanti dirinya di layani oleh Khanza layaknya seorang istri pada suami nya. Hingga tanpa sadar jika semua mata kini tertuju padanya.
"Kamu mikirin apa, Dam?" tanya Papa Ammar.
Adam tersentak, dia langsung melihat pada semua orang.
"Iya, tadi saat solat juga sibuk menghayal sampai lupa duduk!" timpal mama Anggi. Dan itu sukses membuat semua orang terkekeh.
Tak terkecuali Khanza, dia sampai menutup mulutnya, ya karna dia juga tau jika Adam lupa saat solat tadi.
Adam tercengir, tak terbayang entah seberapa malunya dia "Mama," protes nya.
"Sudah-sudah, lebih baik kita makan agar makanan nya tidak dingin!" ajak papa Ammar.
Semua pun makan dengan begitu lahap, terkadang terdengar tawa gurauan di meja makan tersebut.
Selesai makan malam, mama Anggi mengajak Khanza dan Nabil duduk di ruang keluarga, sementara para lelaki duduk di ruangan yang tidak jauh dari mereka untuk membahas masalah pekerjaan.
Berulang kali Adam menghela nafas panjang, dia sangat bosan dengan keadaan nya sekarang, biasanya setelah berbuka Adam langsung merebahkan tubuhnya, tapi sekarang dia harus duduk dalam waktu yang lumayan lama. Dan yang membuat Adam bosan karna dia tidak paham tentang bisnis yang di bicarakan oleh Papa Ammar dan juga Faris.
__ADS_1
Tapi, ada satu hal yang membuat nya betah duduk di sana, karna dia bisa melihat sang pujaan hati meski dari samping. Dia bisa melihat senyuman di bibir wanita itu yang sangat manis dan menyejukkan.
Khanza kini tengah mendengar ucapan Mama Anggi yang tampak begitu bahagia dengan perubahan sikap Adam.
"Jujur saya sangat bahagia sekarang ini, tidak sia-sia saya memasukkan Adam ke pesantren, dan ini juga berkat kamu, Nak!" ujar mama Anggi, dia memegang tangan Khanza yang duduk di sebelah nya.
Khanza tersenyum "Semua atas kehendak Allah, Tante. Dan juga berkat doamu, bukan kah doa seorang ibu cepat di kabulkan oleh Allah," jawab nya tanpa mau di puji.
Mama Anggi dan Nabil yang duduk di sisi kanan dan kiri Khanza mengembangkan senyuman "Kamu benar, Nak. Mungkin Allah mengirim mu untuk mengubah Adam dan juga mengabulkan permintaan, Tante. Karna, jujur saja dulu Adam adalah orang yang sangat susah di atur, sekolah tidak benar, pergaulan nya juga tidak benar, yang ada setiap harinya dia hanya ikut balapan dengan teman-teman nya, dulu dia bahkan tidak mau berpuasa. Tapi, setelah Khanza mengambil alih kelas yang di duduki Adam, dia sekarang menjadi anak yang penurut, tidak suka keluar lagi dan sekarang juga sudah mulai berpuasa!" curhat mama Anggi begitu panjang lebar pada Nabil dan Khanza.
"Alhamdulillah jikalau begitu, mungkin memang sudah saatnya Adam berubah," sahut Nabil dengan senyuman di balik niqab yang dia pakai.
Mama Anggi begitu terharu melihat keluarga Nabil, di mana orang lain suka dengan pujian, tapi mereka malah menolak untuk di puji.
Bukan nya tidak bangga anak nya di puji seperti itu, tapi Nabil sengaja mengatakan hal itu agar Khanza tetap menjadi orang yang rendah hati, tidak merasa bangga dengan pujian.
"Ke toilet sebentar!" jawab Nabil.
Faris mengangguk dan memilih untuk menunggu sang putri tercinta nya.
Sementara Khanza kini tengah berusaha lepas dari Adam yang memegang tangannya. Dengan penuh amarah Khanza melawan sekuat tenaga.
"Apa yang kamu lakukan, Dam? Lepaskan saya!" sentak Khanza, dia benar-benar marah karna Adam sudah berani menyentuh tangan nya mulai saat dirinya keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Tidak akan, sebelum kamu menjawab kenapa kamu menolak ku?" tanya balik Adam, dia begitu kekeh bertanya karna penasaran. Dia bahkan menghiraukan tatapan penuh amarah dari Khanza.
"Kau tidak berhak bertanya seperti itu, Dam," tukas Khanza dengan begitu menggebu.
"Lalu siapa yang berhak? Raka?" tanya Adam juga tidak kalah sengit. Sejak tadi melihat Khanza membuat Adam tidak bisa mengendalikan perasaan nya, rasa ingin memiliki Khanza seutuhnya membuat Adam kembali mengutarakan perasaan nya.
"Lepas, Adam. Ini tidak benar, jangan sampai kau melakukan hal yang akan kau sesali selamanya!" peringat Khanza, dia sudah sangat sedih karna pertama kalinya tangan nya di sentuh oleh seorang pria selain kakak dan juga Papanya. Tapi, meski sudah berusaha melawan sekuat tenaga nya, namun pegangan tangan Adam begitu kuat, hingga susah untuk lepas.
"Kenapa? Kenapa akan aku sesali, justru sebaliknya aku akan menyesal jika melepaskan mu begitu saja," elak Adam.
Grebb...
Tes...
Khanza kini terdiam dengan tubuh kaku dan juga air mata yang kian menetes saat Adam menariknya ke dalam pelukan pria itu. Khanza kini terdiam tanpa berbicara atau melawan lagi, runtuh sudah pertahanan nya selama ini, Khanza hanya bisa menyesali tindakan bodoh nya yang pamit ke kamar mandi, harusnya dia menahan diri sampai di rumah.
Merasakan Khanza terdiam dan tidak mengatakan apapun lagi, membuat Adam bertanya. Dia melepaskan pelukan nya dan betapa terkejutnya dia saat melihat Khanza menangis, hati Adam serasa ter iris saat melihat tatapan kekecewaan dari Khanza.
"Kamu kenapa menangis, Khanza?" tanya Adam panik.
Plak
~Bersambung.
__ADS_1
...Ih ....Adam, kamu benar-benar ya, awas kamu sudah bikin Khanza nangis....
...Yang suka dengan cerita ini bantu Like, komen dan hadiah dong, biar aku semangat ngetik nya. Salam sayang ku untuk kalian semua....