
"Kamu?" Kataku padanya, dia tersenyum manis ke arahku. Mungkin kalau yang melihat senyuman itu adalah wanita selain aku, pasti mereka sudah di buat meleleh karena senyuman manis itu. Tapi entah kenapa aku hanya biasa saja menatap pria yang sudah mencuri hati Velia ini.
"Apa kau nanti malam ada waktu?!" Tanyanya padaku. Aku mengernyitkan dahi ku bingung. Aku menyelidiki apa tujuannya mengatakan hal seperti itu padanya. Sampai akhirnya aku menjawab.
"Aku sibuk, jangan ganggu aku!" Ketus ku padanya, lalu setelahnya aku langsung pergi begitu saja melewatinya.
Robert tersenyum kecil melihat gadis itu pergi melewatinya begitu saja, dirinya bergumam, "Gadis yang menarik!" Lirihnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah melenggang pergi meninggalkan Robert. Aku berjalan melamun kan ucapan Robert barusan yang tiba-tiba menanyakan apakah diriku sibuk atau tidak malam ini. Apa tujuannya bertanya padaku seperti itu?
Aku tak mengerti mengapa dia mengatakan hal itu padaku. Saat aku tak melihat ke arah depan tiba-tiba saja ada sebuah suara yang membuatku langsung tersentak dan menoleh ke arah belakang.
"Alana!!" Panggil suara itu yang tak lain adalah Velia. Ya, dia berlari ke arahku diikuti oleh Leonard yang berjalan dengan gontai menuju ke arahku juga. Namun ternyata aku menyadari kalau Robert tidak ada di tempatnya tadi. Padahal aku pikir Robert akan berada di sana untuk menemui Velia. Aku juga bahkan berpikir, apakah tadi Robert ingin menanyakan dan membahas mengenai Velia. Haish, aku jadi bingung dan merasa kesal sendiri mengingat aku sudah sangat ketus padanya tadi. Padahal tadi bisa saja dia ingin mengetahui tentang Velia. Dan mungkin aku juga bisa mendekatkan Robert pada Velia. Dengan begitu Velia akan senang bisa mendapatkan pria yang dia cintai dan idam-idamkan itu.
Aku malah terbengong dan tanpa sadar Velia dan Leonard telah tiba di depanku. Aku tersadar dari lamunanku ketika Velia menepuk pundak ku.
"Alana? Kenapa malah bengong sih? Ada apa?!" Tanya Velia yang langsung membuyarkan lamunanku.
Aku tersentak, "Ah, eh nggak ada apa-apa kok! Kamu gimana? Kondisi kamu udah baikan?!" Ucapku yang langsung mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ya begini, aku nggak apa-apa kok!" Jawab Velia dengan entengnya. Aku bersyukur Velia tidak bertanya banyak mengenai aku yang melamun tadi.
__ADS_1
"Ya sudah kita ke taman aja yuk, nih tadi aku udah beli minuman sama makanan!" Ajak ku pada Velia yang langsung membuat mata Velia berbinar melihat banyaknya cemilan yang aku beli. Velia langsung mengambil alih beberapa cemilan yang ada di tanganku dan langsung membawanya.
"Ayo!" Ajaknya yang malah jalan duluan menuju taman yang ada di kampus. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Velia itu. Sampai akhirnya aku sadar kalau Leonard juga ada di sana. Aku lihat Leonard menatapku dengan tatapan cemberut seperti anak kecil yang menginginkan permen.
"Kamu kenapa?!" Aku bertanya padanya sambil mengajaknya untuk berjalan bersama mengekor di belakang Velia yang sudah melangkah terlebih dahulu.
Leonard menghela nafas beratnya, "Velia ngeselin banget! Dari tadi marah mulu kerjaannya tahu nggak!" Kata Leonard dengan wajah masamnya.
Aku memperhatikan dia, ya aku tahu kalau Leonard ini memang suka sekali menjahili Velia, wajar saja kalau Velia itu suka marah padanya.
"Kamu kan emang orangnya ngeselin, jadi mungkin Velia marah-marah ya gara-gara kamu ngeselin?!" Kataku dengan asal menebak. Tapi ku lihat Leonard malah bertambah kesal.
"Kau sama saja dengannya! Bisakah kalian tidak mengatakan itu padaku? Aku bahkan tak melakukan kesalahan apapun!" Katanya dengan suara penuh penekanan.
"Udah kamu nggak usah ambil hati omongan aku tadi dan juga omongan Velia yang menurut kamu nggak enak! Kita ini sahabat, jadi terlalu membawa hati ketika bercanda, nanti yang ada malah sakit dan persahabatan kita malah hancur!" Aku berusaha menasehati Leonard agar dia tidak terus salah paham dengan keadaan ini.
Dia menghela nafasnya dengan kasar "Baiklah, aku tidak akan ambil hati!" Ucapnya pasrah.
Kemudian kami bertiga sudah sampai di taman kampus. Velia duduk di kursi taman, aku sendiri juga duduk di dekatnya. Akan tetapi tidak dengan Leonard yang memilih duduk di bawah. Ya, dia memang suka begitu.
Kita memakan cemilan yang sudah aku beli tadi.
"Jadi kamu tadi aku cariin pergi ke kantin?!" Ucap Velia yang mengawali pembicaraan kita di taman, sembari memakan cemilan.
__ADS_1
Aku mengernyitkan dahi, bukankah aku yang seharusnya bertanya? Kenapa mereka sudah pergi tanpa menungguku dulu?
"Aku juga cariin kalian tahu nggak!" Aku membalikkan ucapannya. Ya memang benar aku tadi langsung mencarinya kalian tahu itu kan?
"Haish, muter-muter kan jadinya! Lagian kamu di telepon kenapa nggak di angkat sih?" Kata Leonard menyela ucapan kami berdua.
Aku terkekeh, "Hehe, aku nggak bawa ponsel! Jadi ya nggak aku angkat lah!" Kataku tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Astaga, terus kami punya punya ponsel gunanya buat apa sih ,Al?" Tanya Velia.
"Aku nggak tahu, aku bahkan mungkin nggak butuh ponsel itu! Aku sendiri nggak tahu mau buat apa sih ponsel itu" kataku santai sambil meminum minuman yang ada di tanganku.
Velia dan Leonard menatapku dengan tatapan bingungnya, seakan mereka tak tahu lagi harus menghadapi aku bagaimana.
"Al, jangan gitu kenapa sih? Ponsel itu penting lo! Apalagi di era teknologi yang maju kayak gini! Atau jangan-jangan kamu gaptek lagi!" Kata Velia dengan mulutnya yang tak bisa diam.
Aku mendengus, "Ya nggak gitu juga kali Vel!" Kataku dengan nada malas meladeni Velia dengan ucapannya.
Leonard kembali menengahi percakapan kami, "Sudahlah! Kenapa malah berdebat sih? Kamu Velia, jangan paksa Alana untuk selalu membawa ponsel kalau dia nggak mau! Dan kamu Alana, sebaiknya kamu pikirkan lagi ucapan kamu tadi yang tidak terlalu menganggap penting tentang ponsel!" Kata Leonard yang mendadak bijak dalam menengahi kami berdua yang sedang berdebat tadi.
Aku dan Velia saling menatap setelah mendengar apa yang di katakan oleh Leonard tadi. Aku juga mulai berpikir, mungkin di era seperti ini aku juga harus memakai ponselku, dan membawanya kemana pun. Ya meskipun aku tidak terlalu perduli dengan isinya , tapi setidaknya itu akan memudahkan aku untuk berkomunikasi dengan para sahabatku. Jadi lebih baik aku akan membawa ponselku mulai hari besok.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Setelah berbincang banyak di taman tadi mengenai presentasi yang telah aku lakukan seorang diri. Kita pulang ke rumah masing-masing. Aku juga pulang ke rumah kedua orang tuaku. Aku di sambut hangat oleh mereka yang senantiasa menungguku pulang.