
Aku dan Velia saling menatap setelah mendengar apa yang di katakan oleh Leonard tadi. Aku juga mulai berpikir, mungkin di era seperti ini aku juga harus memakai ponselku, dan membawanya kemana pun. Ya meskipun aku tidak terlalu perduli dengan isinya , tapi setidaknya itu akan memudahkan aku untuk berkomunikasi dengan para sahabatku. Jadi lebih baik aku akan membawa ponselku mulai hari besok.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah berbincang banyak di taman tadi mengenai presentasi yang telah aku lakukan seorang diri. Kita pulang ke rumah masing-masing. Aku juga pulang ke rumah kedua orang tuaku. Aku di sambut hangat oleh mereka yang senantiasa menungguku pulang.
Tak terasa hari sudah semakin larut, aku duduk di teras rumah sendirian sembari menatap indahnya langit malam dari luar rumahku. Lalu tiba-tiba aku terpikirkan ucapan dari Robert tadi sewaktu di kampus. Aku heran kenapa dia bertanya aku ada waktu atau tidak, "Kenapa dia tanya gitu ke aku? Memangnya apa yang mau dia lakukan?!" Aku bergumam sendiri. Lalu aku menoleh ketika mendengar suara ibuku yang memanggilku.
"Alana!" Panggil mama yang berjalan mendekatiku. Aku yang langsung menoleh pun menyapanya.
"Eh mama!" Kataku.
"Kamu lagi ngapain nak?" Tanya mama padaku sembari memposisikan duduk di sebuah kursi yang ada di dekatku. Rumah kedua orang tuaku memang tidak terlalu besar. Cukup sederhana dan membuatku nyaman sudah cukup bagiku. Di depan rumah ada sebuah kursi yang ada di dekat pohon rindang. Aku sering duduk di sana dan melihat bintang. Aku sering menatap bintang di atas sana dengan suasana damai yang selalu menghampiriku.
"Aku lagi lihat bintang ma!" Kataku sambil menatap ke arah bintang lagi.
"Mama mau ngomong sama kamu nak!" Kata mama yang membuatku menatapnya.
"Mama mau ngomong apa? Katakan saja ma!" Kataku yang mendesak mama untuk mengatakan tentang apa yang ada di pikiran mama.
__ADS_1
Mama menyelipkan rambutku yang terkena terpaan angin ,beliau menyelipkannya di belakang telinga ku, "Apa kamu sudah punya pacar nak??" Tanya mama tiba-tiba.
Deg,,,
Aku langsung membelalakkan mataku dan menajamkan pendengaran ku, takut kalau apa yang aku dengar itu hanyalah kesalahan saja pada pengucapan mama.
"Mama tadi ngomong apa?" Tanyaku memastikan dengan pendengaran ku.
Mama tersenyum, "Mama tanya apa kamu sudah punya pacar?!" Tanya mama lagi. Ya, ternyata tadi aku tidak salah dengar. Mama benar-benar mengatakan itu padaku. Aku harus jawab apa, tidak biasanya mama bertanya seperti ini padaku.
"Mama apaan sih? Kenapa tiba-tiba ngomong kayak gitu? Lagi pula Alana masih mau fokus kuliah ma! Nggak mau mikir masalah cowok!" Kataku yang bahkan belum merasa tertarik untuk menyukai cowok. Bahkan mendengar kata pacaran saja itu cukup membuatku risih.
"Ma, dengar ya! Alana nggak mau pacar-pacaran! Mungkin nanti kalau Alana mau dan nyaman sama satu cowok, Alana akan suruh dia buat nikahin Al langsung! Al nggak mau menghabiskan waktu yang sia-sia hanya untuk hal yang tidak penting seperti itu!" Kata ku menjelaskan pada mama panjang lebar. Berharap mama akan mengerti dan tidak lagi menanyakan tentang hal itu padaku. Aku sangat risih oke.
Mama menghela nafasnya setelah mendengarkan ucapan ku barusan, "Baiklah kalau itu mau kamu! Mama tidak akan memaksa kamu! Tapi kamu ingat ya! kalau ada apa-apa kamu harus langsung kasih tahu mama, mama akan menjadi teman curhat buat kamu oke!" Kata mama dengan tingkat kepedean nya.
"Ish, mama apaan coba? Kenapa jadi narsis kayak gini?!" Kataku heran sambil meledek mama. Kami berdua duduk dengan tenang sambil memandang bintang dan sesekali tertawa bersama karena saling melempar candaan. Saat itu papa tengah sibuk di ruang kerjanya, ada beberapa berkas yang masih harus dia cek lagi, karena besok akan ada meeting penting dengan klien nya.
Ya, papaku adalah seorang pengusaha. Walaupun tidak memiliki gedung pencakar langit, namun penghasilan dari dia berusaha pada bidang konfeksi itu membuatnya bisa mencukupi kehidupan kami. Papa mendirikan sebuah pabrik konfeksi yang tak lumayan besar. Itu semua hasil dari jerih payahnya sendiri yang selama ini dia tekuni. Aku salut dengan papa yang tak pernah mengeluh karena sudah bekerja keras untuk menghidupi aku dan mama. Aku bangga padanya, kelak jika aku sudah lulus kuliah, aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi seorang yang pekerja keras seperti papa. Meskipun aku seorang wanita, itu tidak menciutkan nyaliku untuk membuat sebuah perusahaan milikku sendiri nantinya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari telah berganti, mentari pagi telah menyinari bumi. Jendela kamarku yang sudah di buka oleh mama waktu itu membuatku merasa silau. Ya, biasanya di hari libur kampus, mama sengaja tidak akan membangunkan aku dan akan membiarkan aku beristirahat dengan tenang sampai aku terbangun dengan sendirinya. Itu karena mama sering sekali melihatku lembur dengan beberapa tugas yang di berikan oleh dosen.
Hari ini adalah hari minggu, aku tidak tahu dan belum menjadwalkan diriku akan melakukan apa hari ini.
Pagi itu aku ,mama dan juga papa sarapan bersama di meja makan. Aku yang sebenarnya ingin bangun di siang hari tapi tidak bisa, entah kenapa kalau di hari libur aku malah tidak bisa tidur hingga siang hari. Justru sebaliknya, aku akan bangun pagi dan tak jadi menuruti mataku yang menginginkan tidur sampai siang hari menjelang.
"Pa, ma! Kayaknya Alana mau keluar deh! Ya jalan-jalan aja ke taman yang nggak jauh dari sini itu!" Kataku setelah mama selesai menaruh makanan di meja makan.
"Mau sama siapa nak?" Tanya papa penasaran.
Aku langsung menjawab, "Ya sendiri lah pa! Lagian mau sama siapa lagi?!" Tanyaku.
"Ya siapa tahu kamu ngajak sahabat kamu itu, ah siapa namanya? Oh iya Velia! Kenapa nggak ngajak dia?" Ucap mama yang malah membahas mengenai Velia.
"Haish, gadis manja itu selalu bangun siang hari ma ,kalau nggak ada jam kampus ya gitu kerjaannya! Tidur terus!!" Jawabku memberi tahu mama dan papa.
Setelah itu kami bertiga melanjutkan untuk makan sarapan bersama. Hingga makanan yang di sajikan oleh mama di piringku habis tak bersisa. Aku kenyang, ya semua orang tahu kalau tidak ada siapa pun yang bisa menandingi seorang ibu dalam hal memasak. Masakan ibu selalu menjadi primadona bagi para anak-anaknya, termasuk aku.
__ADS_1
Setelah selesai sarapan, aku membantu mama untuk mencuci piring kotor yang kami gunakan tadi. Sampai akhirnya aku selesai membantu mama, dan memutuskan untuk jalan ke sebuah taman yang letaknya tak jauh dari rumah keluargaku.