
"Vel, apa kau mau memaafkan ku?!" Tanya Leonard pada Velia yang masih duduk di sebelahnya.
Velia langsung tersentak "Ah, eh iya tentu aku akan memaafkan mu, asalkan Alana juga memberimu maaf!" Kata Velia lalu setelahnya juga beranjak dari duduknya dan menyusul Alana yang sudah lebih dulu pergi dari sana.
"Haish!!! Kenapa malah jadi seperti ini sih?!" Kelas Leonard akan apa yang telah dia perbuat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di hari berikutnya, Velia mengatakan padaku kalau dia sudah berhasil dekat dengan Robert. Dirinya bahkan saling bertukar pesan lewat aplikasi chat. Tapi ada yang aneh dengan itu, aku bahkan pernah melihat Robert bergandengan tangan dengan seorang wanita di koridor. Aku tidak tahu siapa dia, tapi aku akan tetap waspada dengan apa yang nantinya akan dia lakukan pada Velia.
Kelas berlangsung dan aku merasakan ingin buang air kecil sehingga aku memutuskan untuk ijin ke toilet.
"Haahh! Lega sekali!" Kataku setelah keluar dari toilet dan merapikan baju yang aku kenakan. Aku akan kembali ke kelas, namun tiba-tiba saja sebuah tangan menarik ku dan membawaku ke suatu tempat.
Aku tersentak saat tau dia adalah Robert. Dia membawaku ke sebuah lorong yang mengarah ke gudang, aku tahu kalau lorong itu sangat sepi dan tak banyak yang datang ke sana.
"Robert?!" Kataku saat melihatnya. Kita saling bertatapan dengan Robert yang tiba-tiba memegang tanganku, aku tersentak.
"Apa yang kamu lakukan?!" Tanyaku bingung dengan apa yang dia lakukan, pasalnya dia tak pernah bersikap seperti itu padaku, bahkan dia tak pernah akrab denganku. Bagaimana bisa dia langsung bersikap seperti itu padaku?.
"Alana, aku ingin mengatakan sesuatu padamu!" Ucapnya yang membuatku mengernyitkan kening bingung.
"Kamu apa-apaan sih! Lepaskan tanganku! Kalau ngomong ya langsung ngomong aja nggak usah pakai kayak gini segala!" Kataku berusaha melepaskan tanganku dari genggamannya. Tapi dia masih tetap memegang kedua tanganku dengan erat.
"Dengarkan aku dulu Alana!" Katanya memaksa. Aku bingung dengan sikapnya itu, kalau Velia tahu akan hal ini dia bisa salah paham terhadapku.
Aku menarik nafasku untuk menetralkan semuanya, "Katakan!" Ucapku dengan nada sinis.
"Aku suka sama kamu!" Ucapnya langsung.
__ADS_1
Deg,,,,
Aku terdiam membeku melihat dia mengutarakan perasaannya padaku. Apa dia gila? Bahkan kita tidak pernah dekat, tapi dia tiba-tiba menarik ku dan mengungkapkan perasaannya padaku dengan mengatakan kalau dia menyukaiku? Apa dia benar-benar bodoh?
Aku melihat Robert terdiam setelah mengatakan itu, aku sendiri juga terdiam walau hatiku ingin sekali mencaci maki dia.
Tiba-tiba sesuatu terjadi dengan cepat yang membuatku langsung tersentak kaget.
Cup,,,
Aku membelalakkan matanya saat dia mencium pipiku dengan cepat. Aku bahkan tak tahu kalau dia akan melakukan hal itu.
Plakk,,,
Spontan saja aku langsung menamparnya karena dia telah lancang mencium pipiku. Bahkan aku sangat menyesal tak berlari sebelumnya. Seharusnya aku berusaha kabur darinya.
"Apa kau gila!!!" Bentak ku.
"Berani sekali kau mencium pipiku, dasar pria tidak tahu malu!!" Ucapku lagi yang sudah kehabisan kesabaran.
"Kau menolak ku?!" Tanyanya tanpa merasa bersalah sedikit pun karena tadi sudah mencium pipiku.
"Ya!!!! Jelas aku menolak mu!" Sarkas ku.
"Cih, hahaha!! Kau berani menolak ku? Baiklah kita akan lihat saja apa yang bisa aku lakukan!!" Kata Robert dengan nada mengancam.
"Aku tidak peduli!!!" Ucapku kemudian langsung pergi meninggalkan Robert di sana sendirian.
Aku menggerutu kesal dengan sikap pria brengsek itu. Aku juga tidak habis pikir, bagaimana bisa Velia bisa menyukai pria seperti dia. Aku akan berusaha menjauhkan dia dari Robert.
__ADS_1
Aku kembali ke kelas dengan wajah memerah karena emosi, Velia menatapku dengan tatapan bingung karena aku terlihat sangat marah. Tentunya hanya Velia dan Leonard yang mengetahui bagaimana reaksiku seperti biasanya. Bahkan aku tidak pernah marah sebelumnya, mereka juga bingung saat melihatku memasuki kelas dengan tatapan membunuhku.
Tak terasa sudah waktunya untuk pulang dari kampus, Velia mengantarku pulang ke rumah. Di perjalanan aku mencoba memberi tahu Velia mengenai Robert.
"Aku mau kamu jangan dekati Robert!" Ucapku dingin sambil menatap ke arah depan.
Velia langsung tersentak mendengar aku mengucapkan itu. Pasalnya aku diam saja sejak kembali dari toilet tadi.
Velia langsung menghentikan mobilnya di pinggir jalan, "Tunggu! Kenapa kamu tiba-tiba bilang kayak gitu? Jangan bilang kalau kamu juga suka sama Robert dan nyuruh aku buat jauhi Robert?!" Kata Velia dengan tatapan mengintimidasi dan juga mencecar ku dengan berbagai banyak pertanyaan.
Aku menoleh ke arahnya, "Vel, dia bukan pria yang baik buat kamu! Aku mohon jangan dekati dia lagi! Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa!" Kataku memperingatkan Velia. Tapi sepertinya Velia malah berpikir yang bukan-bukan tentangku. Aku malah takut kalau sampai Velia berpikiran yang bukan-bukan mengenai ini. Tapi aku juga tidak mungkin mengatakan kalau aku di cium oleh Robert pada Velia.
"Al, kamu kenapa sih? Kamu kan awalnya juga dukung aku, tapi kenapa tiba-tiba kamu kayak gini sih?!" Velia sepertinya memang tidak mau kalau sampai dirinya harus menjauhi Robert.
Aku berpikir sejenak ,"Aku pernah melihat Robert bersama dengan wanita di taman! Aku juga beberapa kali melihat Robert bergandengan tangan dengan wanita lain!" Kataku memberi tahu Velia. Tapi Velia malah biasa saja mendengarnya. Dia seakan tak peduli dengan itu dan tidak terkejut sama sekali dengan kenyataan itu.
"Hanya itu? Al, wajar dong kalau Robert kayak gitu! Dia itu memang jadi mahasiswa yang di kagumi di kampus, apalagi para cewek itu selalu ingin dapat perhatian dia termasuk aku! Jadi itu hal yang wajar saja Al! Lagi pula cewek yang kamu lihat itu pasti hanya cewek yang caper ke Robert saja!" Kata Velia dengan tenangnya seakan memang benar-benar tidak perduli lagi dengan berita tidak mengenakkan tentang Robert. Velia memang sudah benar-benar menutup mata tentang Robert yang seperti itu.
"Vel, kamu ini kenapa sih? Buka mata kamu! Sebelum kamu sama Robert benar-benar memiliki ikatan yang tidak jelas dan sebelum kamu terjebak! Lebih baik kamu lupakan saja dia!" Kataku lagi mencoba memberi pengertian pada Velia. Tapi lagi-lagi Velia seakan tak perduli dengan ocehan ku.
"Al, kamu kesambet setan apaan sih? Kenapa jadi parno kayak gini? Kalau aku jadian sama Robert itu bagus dong! Banyak cewek yang bahkan ngantri buat jadi cewek Robert Al!" Ucap Velia dengan gampangnya.
Aku kesal akan sikap Velia yang sangat keras kepala ini, sungguh aku ingin mengambil otaknya dan aku cuci bersih supaya nama Robert tak ada lagi di pikirannya.
"Sudahlah! Aku turun di sini saja! Ingat ucapan ku Vel! Jaga diri kamu baik-baik dari laki-laki brengsek seperti Robert!!" Ucapku memperingatkan untuk yang terakhir sebelum aku keluar dari mobil Velia saat itu juga.
Velia bingung melihat aku keluar dari mobilnya dengan tiba-tiba, "Loh Al, kok kamu gitu sih?!" Ucapnya setelah aku sudah keluar dari mobilnya.
Beruntungnya ada taksi kosong lewat dan aku langsung saja menghentikannya, hingga akhirnya aku pulang menaiki taksi itu.
__ADS_1