
Setelah selesai makan aku berusaha membuka suara, "Bagaimana? Aku sama sekali nggak tahu, kenapa Velia menyembunyikan semua ini?" Tanya Leonard tiba-tiba yang membuatku mengurungkan niat untuk membuka suara terlebih dahulu.
Aku menghela nafasku, "Aku sendiri juga tidak tahu, tapi yang pasti mungkin aku akan menanyakan rahasia kalian masing-masing!! Aku masih nggak tahu kalau ternyata aku sendiri yang selama ini tidak pernah menyembunyikan rahasia di antara kalian!!" Kataku sambil menatap kosong ke arah lantai.
"Al, semua orang pasti memiliki alasan tersendiri kenapa harus berbohong! Termasuk juga denganku, aku melakukan itu karena memang aku tidak ingin terlihat mencolok di kalangan semua orang apalagi di kampus, akan ada banyak penjilat yang akan mendekatiku hanya karena aku anak dari pemilik kampus! Aku juga sudah berniat untuk memberi tahu kalian, tapi ternyata kalian sudah lebih dulu mengetahui semuanya!" Kata Leonard menjelaskan mengenai kebohongannya dulu yang pernah dia buat. Aku hanya diam mendengarkannya, lalu kemudian Leonard kembali berbicara lagi, "Lagi pula pasti ada alasan kenapa Velia juga menyembunyikan penyakitnya ini dari kita! Mungkin dia tidak ingin kita khawatir akan kondisinya!" Lanjut Leonard lagi.
Aku menghela nafasku saat mendengarnya, mungkin apa yang di katakan oleh Leonard tadi benar mengenai masalah pribadi, "Ya, mungkin itu memang ada alasannya, mungkin hanya diriku yang tak memiliki suatu rahasia seperti kalian, aku hanya berusaha untuk jujur pada kalian berdua! Mengingat aku sendiri sebenarnya tidak suka bergaul dengan banyak orang!" Ucapku sambil menghela nafasku. Leonard mengusap pundakku untuk menenangkan aku yang masih berusaha menerima semua ini.
"Maafin aku dan juga Velia yang telah menyembunyikan suatu hal pribadi seperti ini darimu! Aku mohon maafkan kita!" Kata Leonard yang juga mewakili Velia untuk meminta maaf padaku. Aku menarik nafasku dalam dan menghembuskannya perlahan.
Aku tersenyum lalu mengangguk sembari menjawab, "Ya, aku akan memaafkan kalian!" Kataku dengan tulus.
Kemudian tiba-tiba saja Velia membuka matanya, sontak saja aku langsung mendekat untuk melihat kondisinya.
"Aku ada di mana?!" Tanya Velia sambil memegang dadanya yang terasa sedikit nyeri. Aku bisa melihat dia menoleh ke sekeliling untuk mencari tahu di mana dia berada sekarang ini. Aku hanya diam, dan membiarkan Leonard yang me jawabnya.
"Kamu ada di rumah sakit!" Kata Leonard memberi tahu.
Velia melihat aku dan Leonard dengan bergantian, "Kenapa kalian di sini? Di mana Robert? Bukankah aku bersama deng- " ucapan Velia langsung terhenti ketika tiba-tiba dirinya teringat akan kejadian yang dialami di saat berada di ruang VVIP bersama Robert.
Velia terdiam sesaat untuk mencerna dan mengingat lagi ,apa yang sudah terjadi padanya saat bersama dengan Robert. Ya aku yakin itu, pasti Velia teringat dengan kejadian semalam walaupun tidak semua dia mengingatnya.
__ADS_1
"Velia?" Panggil Leonard untuk membuyarkan lamunan Velia saat itu, akan tetapi Velia tak menggubrisnya dan malah masih melamun.
Leonard menoleh ke arahku, kami saling bertatapan sekilas saat melihat Velia hanya melamun dan tak menjawab panggilan dari Leonard.
"Vel!!" Panggil Leonard lagi yang langsung membuat Velia yang melamun langsung membutarkan lamunannya.
"Ah iya?" Jawab Velia.
"Kamu baik-baik saja?!" Tanya Leonard dengan nada khawatir, sedangkan aku hanya diam mengamati setiap gerak gerik Velia yang sedikit bingung dengan kondisinya sekarang ini.
"Apa kalian yang membawaku ke sini?!" Tanya Velia tanpa menjawab pertanyaan dari Leonard. Aku malah geram sendiri melihat Velia yang malah mengalihkan pembicaraan. Dirinya terlihat seperti sedang ketakutan dan menyembunyikan sesuatu dari kami. Tapi tentunya itu benar adanya, karena memang dirinya memang menyembunyikan penyakitnya itu dari kita.
Aku yang sudah tidak sabaran pun langsung mengatakan apa yang di embunyikan oleh Velia itu.
Aku melihat raut wajah Velia yang mulai memucat karena dia merasa rahasianya akan terbongkar sekarang.
"Ma-maksud kamu apa Al?" Tanya Velia yang masih mencoba mengelak dengan pura-pura tidak mengerti akan apa yang aku tanyakan padanya tadi.
"Apa kau masih mau menyembunyikannya? Kau tidak ingin berkata jujur? Kenapa kau berbohong!" Ucapku dengan berbagai banyak pertanyaan pada dirinya. Ya, semenjak berteman dengab Velia aku jadi banyak bicara oke. Itu juga spontan saja.
"Al, lebih baik kita bahas nanti saja, kasihan Velia baru saja sadar!" Kata Leonard padaku yang mencerca berbagai pertanyaan pada Velia. Aku langsung menatap tajam ke arahnya.
__ADS_1
"Kalian berdua sama saja! Sama-sama berbohong padaku! Kalian tidak pernah tahu apa yang aku rasakan, mengetahui kalau aku di bohongi! Kalian yang mendekat dan ingin menjadi sahabatku, tapi kenapa kalian bahkan menutupi hal penting kalian masing-masing! Apa gunanya jika seperti itu?!" Ucapku yang tanpa sadar aku lepas kendali. Aku bahkan tak sadar kalau sudah meluapkan semua kekesalanku karena sudah di bohongi oleh mereka. Aku merasa sakit kalian tahu.
Aku menghela nafas, lalu kemudian berkata, "Semoga kamu cepat sembuh! Aku pergi dulu!" Ucapku lalu setelanya aku pergi dari ruang perawatan Velia, meninggalkan Leonard yang berdiri mematung begitu juga dengan Velia yang hanya bisa menunduk sedih. Aku tak tahu apa yang ada dalam pikiran mereka masing-masing. Aku memilih pulang ke rumah untuk menenangkan diri.
#####
Saat itu, tepatnya setelah Alana pergi dari ruan rawat Velia. Leonard langsung tersadar, dan menoleh ke arah Velia.
"Velia, kamu baik-baik saja?!" Kembali pertanyaan itu terlontar dari mulut Leonard, karena kali ini dia melihat Velia menunduk sedih.
"Aku memang jahat! Kenapa aku menyembunyikan ini dari kalian berdua? Aku memang sahabat yang jahat!" Kata Velia sambil menangis sesegukan. Leonard yang melihat itu langsung merasa cemas, karena takut kalaiu sampai sakit Velia kambuh lagi.
"Velia jangan menangis! Ini bukan salah kamu Vel! Aku tahu maksud kamu baik menutupi semua ini supaya aku dan Alana tidak khawatir padamu!" Kata Leonard menjelaskan.
Lalu kemudian Velia menggelengkan kepalanya, dia menangis menatap Leonard, "Tidak, ini memang salah kita! Kita berdua bahkan tidak jujur pada Alana! Kita bahkan tidak adil pada Alana, dia selalu berkata jujur, namun kita malah menyembunyikan rahasia masin-masing dari Alana! Dia pasti sangat membenci kita!!" Kata Velia sambil masih terus menangis. Dirinya menyesal karena sudah tidak jujur pada Alana mengenai penyakit yang dia derita.
Leonard langsung memeluk Velia untuk menenangkannya, Velia sendiri tidak menolak pelukan itu. Dirinya masih menyalahkan diri sendiri karena sudah membohongi Alana, sahabatnya sendiri.
"Sudah Vel! Kalau kamu sudah sembuh, kita temui Alana untuk minta maaf sama dia!" Kata Leonard yang berhasil membuat Velia sedikit tenang dari pada tadi.
👉maaf ya guys, author bahkan udah hiatus lebih dari seminggu, maklum author masih sibuk dan belum sempat lanjutin nulis, tapi kalian semua tenang saja, author akan usahakan setiap hari update ya.
__ADS_1
Tetap dukung author terus ya guys, salam sayang
SINDI BHAWELL