
"Apa aku terlalu egois pada mereka?" Lirih Alana yang tiba-tiba melamun membayangkan kedua sahabatnya. Lalu sedetik kemudian dia menghela nafasnya dengan kasar.
"Sudahlah!" Katanya sambil menutup buku. Saat hendak beranjak dari duduknya, tiba-tiba ada sepasang tangan yang menutup kedua matanya. Sontak saja membuat Alana terkejut dan langsung berdiri dari duduknya dengan menepus tangan itu. Mata Alana membulat melihat siapa yang tadi menutup matanya.
"Apa yang kau lakukan?! Apa kau sudah gila??!" Tanya Alana dengan mata melototnya ke arah Robert yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.
Robert tersenyum, seperti tidak merasa bersalah dengan apa yang sudah dia lakukan pada Velia.
"Tenanglah, tidak perlu marah-marah seperti itu!" Jawabnya dengan santai sambi berjalan mendekati Alana.
Alana yang merasa seperti terancam, perlahan berjalan mundur beberapa langkah, "Jangan mendekat, atau aku akan teriak!" Kata Alana dengan mengancam Robert.
"Teriak saja? Apa kau ingin memberi tahu semua orang kalau kita memiliki hubungan?!" Robert malah balik mengancam Alana. Tatapannya yang seperti menggoda Alana untuk terus di dekati.
Dengan menghela nafasnya panjang, "Robert! Apa kamu gila? Velia bahkan sampai masuk ke rumah sakit! Itu gara-gara kamu!! Tapi kamu sama sekali tidak pernah mengunjunginya di rumah sakit!! Dan kamu malah kelihatan santai tanpa rasa bersalah sedikit pun!!" Alana mengatakan sekaligus menasehati Robert.
"Cih, aku bahkan tak memiliki rasa apapun padanya!" Kata Robert sambil duduk di kursi taman yang tadi di tempati oleh Alana.
Alana mengernyitkan dahinya mendengar jawaban Robert.
"Dia sendiri yang datang padaku, memohon ingin menjadi kekasihku! Apa aku salah? Bahkan dia dengan senang hati berjalan menuju tempat itu hanya untuk bertemu dan bahkan melayaniku!" Lanjut Robert dengan santainya, membuat Alana yang mendengarnya merasa emosi. Alana tidak terima kalau sahabatnya itu di hina seperti ini oleh seorang pria tidak bertanggung jawab seperti Robert.
"Kamu memang benar-benar gila Robert!!" Sarkas Alana lalu berbalik untuk pergi meninggalkan Robert sendirian di taman kampus itu. Akan tetapi, sebuah suara menghentikan langkahnya.
"Aku memang gila! Tapi gila karena cinta! Dan aku mencintaimu!" Kata Robert yang sudah berdiri dari duduknya. Bahkan dia sengaja meninggikan suaranya supaya orang-orang di sana juga mendengar apa yang di katakan oleh Robert ,tentang perasaannya pada Alana.
__ADS_1
Alana yang terkejut langsung berbalik arah, tentunya dia syok dengan Robert yang tiba-tiba berkata seperti itu dengan beraninya di depan umum. Alana sungguh malu akan sikap Robert yang memalukan seperti itu.
Sedangkan Robert masih berdiri dengan percaya dirinya dan senyuman menggoda ke arah Alana yang berdiri tak jauh darinya. Perlahan Alana berjalan mendekat ke arah Robert. Membuat rasa percaya diri Robert bertambah, sehingga dia berkata dalam hati.
"Aku tahu tidak akan ada yang bisa menolak pesonaku, aku benar-benar tertarik padamu! Dan aku ingin sekali memiliki kamu, Alana!" Batin Robert saat Alana berjalan mendekat ke arahnya.
Kini Alana sudah sampai di depannya dan menatap Robert. Yang di tatap tentu merasa bahagia, "Aku tahu kau-"
Plakkk,,,,,
Alana menampar Robert karena merasa kesal. Robert juga terkejut karena mendapatkan tamparan dari Alana dengan tiba-tiba seperti itu. Semua yang ada di dekat sana yang melihat itu juga kaget, mereka tak menyangka kalau Robert akan di tampar di depan umum.
"Dengar baik-baik! Jangan pernah ucapkan kalimat menjijikan seperti itu padaku! Bahkan kamu lupa dengan apa yang sudah kamu lakukan pada Velia! Dengan mudahnya kamu mengatakan kalimat seperti itu!! Di masa depan nanti, kamu akan merasakan rasa sakitnya di khianati!! Ingat itu baik-baik!!!" Kata Alana dengan sarkas sambil menunjuk Robert, dan kamudian pergi begitu saja meninggalkan Robert yang terdiam tak mengucapkan sepatah kata pun.
Setelah kepergian Alana , Robert menatap punggung Alana hingga tak terlihat lagi. Alana tampak kesal ketika mendapat perlakuan seperti itu dari Robert.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya, seperti biasa Velia masih berbaring di ranjangnya. Dia juga masih memikirkan bagaimana caranya membuat Alana untuk tidak marah lagi padanya. Itu sungguh membuat bingung, apalagi dia memang benar-benar merasa bersalah. Di satu sisi lainnya, bahkan dia tidak memikirkan orang yang selama ini menjadi obsesinya, yaitu Robert sang kekasih. Velia justru malah terpikirkan akan Leonard yang senantiasa ada di sisinya saat ini. Akan tetapi dia juga masih ragu akan perasaannya, dia takut kalau sampai dia kecewa lagi.
"Selamat pagi Velia!" Sapa Leonard yang baru saja datang membawa makanan dan bunga untuk di letakkan di vas yang ada di atas nakas.
Velia tersenyum menatap Leonard yang baru saja masuk sambil membawa makanan dan bunga, "Leon, kau tidak perlu melakukan semua ini!" Kata Velia sembari melihat Leonard yang meletakkan bunga di vas, mengganti bunga yang sudah layu.
"Tidak apa-apa, aku suka melakukannya!" Ucap Leonard sambil tersenyum penuh arti pada Velia.
__ADS_1
Velia sungguh bahagia, apalagi Leonard selalu membawakan senyuman dan kebahagiaan untuknya. Benar bahwa Velia sekarang telah menumbuhkan rasa pada Leonard. Dia merasa nyaman ketika ada Leonard di sampingnya.
"Leonard!" Panggil Velia dengan suara lirih.
Leonard yang terpanggil pun langsung menatap lekat ke arah wajah Velia. Jantung keduanya berdegup kencang saat kedua mata mereka yang saling beradu.
Tiba-tiba saja, entah karena dorongan apa, tangan Leonard sudah terulur untuk memegang pipi Velia. Leonard mengusapnya dengan lembut, Velia juga tampaknya merasa nyaman dan tidak terusik dengan sentuhan itu, "Aku menyayangimu Velia!"
Deg,,,,
Seketika jantung Velia yang tadinya berdegup, kini semakin tak karuan. Dirinya tak menyangka kalau Leonard akan mengungkapkan perasaannya di saat itu. Mata keduanya berkaca-kaca, mereka larut dalam pandangan mata itu. Sampai pada akhirnya entah dorongan dari mana Leonard mendekatkan wajahnya.
Velia juga tiba-tiba saja memejamkan matanya, seakan dia tahu apa yang akan terjadi pada mereka selanjutnya. Ya, Leonard mencium Velia dan Velia yang awalnya diam perlahan ikut terhanyut dalam ciuman itu. Merasa mendapatkan balasan dari bibir Velia. Leonard semakin memperdalam ciumannya.
Ciuman itu berlangsung selama beberapa menit hingga keduanya mumutuskan untuk saling melepaskan pangutan mereka. Semburat merah di pipi mereka masing-masing terlihat, karena malu sendiri dengan apa yang mereka lakukan barusan.
Sejenak mereka merasa canggung, akan tetapi karena Velia orangnya cerewet dan tidak bisa diam. Dirinya memutuskan untuk melepaskan kecanggungan diantara mereka berdua.
"Maafkan aku karena tidak menyadari perasaan kamu Leonard! Aku terlalu terobsesi dengan Robert sehingga aku tid-" Velia tidak melanjutkan ucapannya karena jari Leonard sudah terulur untuk membuat Velia diam tanpa melanjutkan lagi ucapannya.
"Tidak perlu kau ucapkan, aku sudah tahu! Dan aku ikhlas menunggu kamu selama ini!!" Kata Leonard dengan senyuman manisnya ke arah Velia.
Velia yang melihat itu merasa bahagia dengan apa yang di katakan oleh Leonard tadi. Dia membalas senyuman manis Leonard lalu setelahnya mereka berpelukan untuk menenangkan jantung mereka yang sedari tadi tak menentu.
*******
__ADS_1
Halo semuanya, author mau meminta maaf yang sebesar besarnya sama kalian, karena author udah hiatus tanpa kabar sedikit pun.
Sebenarnya author sudah memikirkan cerita ini sampai endingnya , tapi tangan author belum bisa di ajak buat nulis banyak, di tambah banyaknya kerjaan, jadi agak repot dan author bener-bener mau hiatus. Tapi kalian tenang saja, author mungkin tetep akan up meski tidak teratur, mungkin mulai bulan depan author akan mulai up lagi seperti biasanya.