
Di sisi lain Leonard diam-diam turun dari mobil dan mengikuti Velia yang masuk ke tempat itu. Leonard memakai marker supaya Velia yang menyadari akan adanya Leonard di sana.
"Apa anda nona Velia?" Tanya seorang pelayan pada Velia saat masuk ke dalam bar itu. Suara alunan musik yang membuat siapa saja akan merasa pusing bila tak terbiasa berada di tempat seperti itu.
"Iya benar!" Jawab Velia.
"Anda sudah di tunggu tuan Robert di sana!" Ucap pelayan dengan berpakaian seksi itu menunjuk ke sebuah kursi sofa besar yang ada seorang pria dan wanita duduk di sana.
Mata Velia melihat ke arah yang di tunjuk oleh pelayan itu, "Oh baiklah terima kasih!" Jawabnya lalu Velia langsung mendekat ke sana untuk menemui Robert. Leonard juga mengikutinya diam-diam.
Velia berjalan ke arah Robert, matanya membelalak melihat Robert yang tengah memangku seorang wanita yang tengah menggodanya. Robert bahkan tak merasa terganggu dengan itu, dirinya hanya meminum dari minuman yang di tuangkan oleh wanita itu. Wanita mana yang tak cemburu melihat kekasihnya bersama dengan wanita lain seperti itu, tangan Velia bahkan terkepal dan dia merasa sangat marah. Namun sepersekian detik kemudian dirinya menghela nafas dan menenangkan dirinya supaya tidak marah. Malah dia berpikiran, akan lebih baik jika dia yang berada di posisi wanita itu. Dia bahkan dengan mudahnya menghilangkan rasa cemburunya itu, apalagi dia menyadari kalau memang banyak wanita yang menyukai kekasihnya.
Jadi Velia merasa beruntung bisa memiliki Robert. Walaupun kenyataannya Velia tidak tahu saja kalau Robert itu masih memiliki banyak kekasih di belakang Velia, dan yang lebih parah lagi Velia hanya menjadi bahan taruhan saja.
Leonard sendiri sebenarnya sangat marah karena mengetahui dari Alana, kalau Velia itu ternyata hanya menjadi bahan taruhan saja. Hal itu membuat darahnya mendidih Leonard yang awalnya mencoba mengikhlaskan Velia bahagia bersama pria lain, tapi pada akhirnya dirinya tidak terima kalau nantinya Velia malah tersakiti oleh pria itu. Ya, tentu saja Leonard tidak akan membiarkan hal seperti itu terjadi pada Velia.
Salah satu teman Leonard yang menyadari akan kedatangan Velia pun langsung membisikkan sesuatu pada telinga Robert.
"Dia sudah datang!" Bisik salah satu teman Robert, yang langsung membuat Robert menghentikan aktivitasnya dan melirik ke arah Velia sekilas.
"Kau boleh pergi!" Robert langsung saja menyuruh wanita yang ada di pangkuannya tadi untuk pergi. Dan dengan senang hati wanita itu langsung pergi dari hadapan Robert. Setelah kepergian wanita itu kini pandangan mata Robert langsung mengarah pada Velia. Robert bahkan menatapnya dengan acuh, lalu memberikan isyarat supaya Velia mendekat ke arahnya. Velia yang menyadari gerakan tangan Robert yang menyuruhnya mendekat pun dengan segera langsung berjalan ke arah Robert dan teman-temannya berada
__ADS_1
Saat Velia mendekat, para teman-teman Robert pun saling membubarkan diri mereka. Ya mereka sengaja membiarkan Velia bersama dengan Robert, itu adalah bagian dari rencana mereka.
"Kenapa kau kemari?!" Tanya Robert dengan acuh tanpa melihat ke arah Velia yang saat ini gugup dan duduk di dekat Robert.
"Robert tolo maafkan kesalahan para sahabatku, kau yakin mereka tidak sengaja melakukannya!" Velia memohon atas kesalahan yang tidak pernah dia lakukan sama sekali, dan bahkan dia tidak tahu apa alasan sebenarnya yang terjadi pada kekasih dan juga sahabatnya itu.
"Hmm" Jawab Robert singkat hanya dengan deheman saja.
"Apa kamu masih marah padaku?" Tanya Velia dengan ragu, dia takut kalau Robert masih marah padanya.
Robert menoleh ke arah Velia secara perlahan, Robert bahkan menatap mata Velia. Namun tentu itu bukan tatapan cinta, hanya Velia yang merasakan jantungnya berdetak dengan cepat.
"Katakan saja! Apa yang harus aku lakukan?!" Ucap Velia tanpa berpikir panjang, ya karena bagi Velia maaf dari Robert sangatlah penting untuk kelanjutan hubungan diantara mereka.
Robert tersenyum menyungging, "Apa kau yakin mau melakukannya?" Tanya Robert dan hanya di jawab anggukan kepala oleh Velia.
"Tuan, ini minumannya!" Ucap seorang pelayan membawakan segelas wine yang dengan sengaja sudah di taruh obat per*ngs*ng di dalamnya.
Robert langsung mengambil minuman itu dari nampan, sedetik kemudian pelayan itu pergi dari sana setelah mengedipkan mata menggoda pada Robert. Terlihat Velia bahkan mengernyit jijik pada yang menurutnya wanita tidak tahu malu itu.
Robert langsung menyodorkan segelas wine itu pada Velia, "Minumlah ini jika kau ingin aku maafkan sepuasnya!" Kata Robert yang membuat Velia bingung memilih. Di sisi lain dia tidak akan bisa minum minuman seperti itu, karena itu tidak baik untuk kesehatan jantungnya. Tapi di sisi lain dia juga tidak bisa menolak pemberian kekasihnya. Tanpa basa basi Velia langsung meraih gelas itu dari pegangan Robert tadi. Namun Velia tidak langsung meminumnya.
__ADS_1
"Ada apa? Tunggu apa lagi?" Tanya Robert yang melihat Velia hanya menatap ke rah minuman itu tanpa meminumnya.
"Ah i-iya!" Kata Velia dengan gugup.
"Astaga bagaimana ini? Apa aku harus meminumnya demi Robert supaya tidak marah padaku? Tapi bagaimana dengan kesehatan jantungku nanti?!" Batin Velia yang masih merasa ada keraguan di hatinya.
"Baiklah, kalau gitu taruh saja gelas itu di ana! Jangan meminumnya! Dan lagi, tinggalkan aku sendiri!!" Ujar Robert dengan dingin pada Velia, yang langsung membuat Velia tersentak. Dia sungguh tidak ingin membuat Robert malah bertambah marah padanya. Velia akan melakukan apa saja untuk cinta yang membutakan dirinya akan segalanya ini.
"Robert aku mohon jangan marah, baik-baik! Aku akan meminumnya segera!" Kata Velia tanpa memikirkan lagi konsekuensinya nanti.
Di satu sisi, Leonard masih setia memata-matai Velia dari jarak yang tak jauh dari pandangan mata menatap mereka dengan mata memerah marah. Namun dia harus bisa menahannya, atau kalau tidak bisa-bisa Velia akan marah padanya karena tahu dia menganggu kesenangan Velia.
Velia sekilas memegang gelas berisi wine itu, menelan saliva nya dengan kasar. Dirinya akan meminum minuman yang sama sekali belum pernah dia minum sebelumnya.
Tanpa pikir panjang lagi, Velia langsung menenggaknya hanya dengan sekali teguk saja. Robert yang melihat itu tersenyum seringai menyeramkan, dirinya senang karena Velia sudah berhasil masuk ke dalam jebakannya.
Velia sendiri masih belum merasakan apapun, dirinya merasa tidak enak pada lidahnya, karena baru pertama kali merasakan wine.
"Bagaimana dengan rasanya?!" Tanya Robert sambil membelai rambut Velia.Tentu saja itu hanyalah akal-akalan Robert supaya Velia mengira Robert benar-benar mencintainya.
Velia hanya mengangguk pada Robert, walau pun kenyataannya dirinya merasakan jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Ya, tentu saja itu karena penyakitnya. Bukan karena dia deg-deg an saat berada di dekat Robert.
__ADS_1