Menikah Dengan Tunangan Sahabatku

Menikah Dengan Tunangan Sahabatku
Kenapa begini?


__ADS_3

Aku sempat bingung, bagaimana bisa Leonard merahasiakan mengenai tempat tinggal dan terutama mengenai statusnya sebagai pewaris, yang nantinya akan di suruh untuk mengelola dana yang ada pada kampus.


Awalnya aku sangat syok karena memang benar pasalnya kalau aku, Leonard dan Alana adalah sebuah pertemanan, dan itu tidak akan baik jika salah satu dari kita yang membohongi kita mengenai sebuah .


Satu lagi yang aku ingat ketika Alana mengatakan, kalau dirinya sendiri sebenarnya tidak menyukai sebuah kebohongan. Dia juga terlihat sangat kecewa saat mengetahui kebenarannya mengenai Leonard. Alana sendiri tidak senang kalau ada pembohong di sekitarnya, apa lagi Leonard sendiri adalah sahabat kita.


Leonard benar-benar menyembunyikannya dengan baik, sampai aku sendiri pun tak menyangka kalau semua akan seperti ini jadinya. Leonard benar-benar berbohong, dan membuat kecewa di hati aku dan juga Alana tentunya.


Di sini Alana lah yang terlihat kecewa, meskipun hanya sebatas sahabat. Tapi bagi Alana aku dan juga Leonard sudah di anggap sebagai saudara.


Setelah mengucapkan beberapa patah kata dan menanyakan pada Leonard mengenai alasannya berbohong, Leonard langsung menceritakan semuanya padaku dan Alana. Tanpa menjawab lagi , Alana langsung pergi dan masuk ke dalam mobilku.


Aku sendiri karena masih dalam kondisi mood yang baik, ya itu karena tadi aku bertemu dengan kak Robert. Aku hanya memberi peringatan pada Leonard mengenai kebohongannya. Lalu setelahnya aku langsung ikut dengan Alana yang sudah lebih dulu menungguku di mobil. Aku lihat di sana Alana duduk dengan menatap ke luar jendela.


Setelah aku duduk di posisi kemudi, sekilas aku memandang Alana. Terlintas di dalam benak ku, apakah bisa nanti Alana memaafkan aku juga saat mengetahui tentang penyakit yang aku derita?


Aku tidak yakin akan hal itu, dia pasti akan sangat kecewa padaku jika mengetahui ini.


Aku mohon maafkan aku ya, aku sengaja merahasiakan penyakit ku ini pada kalian. Itu karena aku tidak ingin kalian malah mengasihani aku dan selalu khawatir akan kondisiku. Aku pasrah jika nanti akhirnya kalian akan kecewa padaku.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di hari berikutnya, seperti biasa aku dan Velia berangkat ke kampus. Velia menjemput ku di rumah. Kita juga sarapan bersama kedua orang tuaku sebelum berangkat ke kampus.


Di perjalanan, aku hanya diam. Tak ada pembicaraan antara aku dan Velia. Entahlah, mulutku seakan tak tahu harus mengatakan apa lagi, sampai akhirnya,,,,


"Al, apa kamu semarah ini sama Leonard? Kenapa kamu juga mendiamkan aku?" Tanya Velia yang merasa aku hanya mendiamkannya, dan tak mengajaknya bicara. Gadis itu memang tidak bisa diam. Bahkan ketika aku cuek padanya, dia selalu memiliki seribu satu cara untuk membuatku menjadi berbicara padanya.


Aku menarik nafasku, "Entahlah Vel! Aku hanya kecewa aja sama dia! Kenapa coba pakai acara sembunyikan identitasnya ke kita? Memangnya dia pikir kalau kita tahu indentitasnya, dia takut kalau kita bakal manfaatin dia gitu?!" Kesal ku yang malah mengatakan itu pada Velia. Jujur aku malah berpikir seperti itu, karena memang aku tidak berasal dari keluarga yang berada, jadi mungkin itulah sebabnya aku memiliki pikiran seperti itu padanya.


"Iya juga sih Al! Bener juga ya, apa dia mikirnya gitu?" Ku lihat Velia berpikir sama seperti diriku. Aku menarik nafas dan menghelanya sampai Velia kembali bertanya lagi padaku, "Tapi kalau semisal dia memohon dan meminta maaf sama kita gimana? Apa kita akan maafkan dia?!" Tanyanya padaku.


Tak berapa lama kemudian, mobil yang aku tumpangi ini masuk ke dalam area parkir kampus. Aku dan Velia langsung menuju ke kelas, di sana aku melihat Leonard sudah duduk di kursinya. Aku berusaha mengalihkan pandanganku padanya karena jujur aku masih kecewa dengannya.


Aku duduk di kursi ku sendiri begitu juga dengan Velia yang duduk di kursinya. Kelas pun di mulai tanpa ada pembicaraan antara kami bertiga. Meskipun aku yakin kalau Velia sangat ingin membuat persahabatan ini semakin renggang karena rasa kecewaku dan Velia yang mendalam akibat Leonard yang telah membohongi kita.


Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, detik beralih menjadi menit, dan menit beralih menjadi jam. Kelas telah usai, aku langsung keluar dari kelas begitu saja tanpa mengajak Velia. Namun Velia seakan langsung paham dengan apa yang akan aku lakukan, dirinya langsung bangkit dan mengikuti ku. Aku bahkan tak melihat Leonard, jangankan melihatnya, bahkan aku tidak meliriknya sama sekali ketika hendak meninggalkan kelas.


Di kantin, aku duduk sembari memakan pesanan yang telah di antar oleh pelayan yang ada di sana. Aku makan bersama dengan Velia, hanya diam, tidak ada suara dalam makan kami di sana. Itu membuatku tenang, dan merasa kembali seperti dulu aku tak memiliki sahabat yang dekat denganku.

__ADS_1


Sampai akhirnya Leonard datang mendekat ke arah kami dengan raut wajah penyesalan. Sekilas aku melihatnya lalu aku fokuskan pandangan mataku pada makanan di depanku.


"Apa aku boleh duduk di sini?!" Tanyanya pada kami berdua. Hanya Velia yang melihatnya, sementara aku memilih fokus pada makananku.


Velia menjawab, "Silahkan!" Katanya menyuruh Leonard duduk di dekatnya, tepatnya berhadapan denganku.


Kecanggungan pun kembali terjadi diantara kita bertiga. Velia juga diam setelah menyuruh Leonard untuk duduk tadi.


"Alana, Velia! Apa kalian masih marah terhadapku? Aku mohon maafkan aku! Aku salah!" Kata Leonard dengan wajah bersalahnya. Tapi entah kenapa aku tak bisa menerimanya dengan mudah.


Ucapannya tak di jawab olehku ataupun Velia. Hanya diam tak menjawab, hingga akhirnya Leonard berkata lagi, "Aku mohon, aku akan melakukan apapun dan menuruti semua yang kalian mau, tapi tolong maafkan aku!" Dia mulai memohon lagi. Namun ada kalimat yang tak mengenakkan di hatiku, entah kenapa saat dia mengatakan akan menuruti semua keinginanku dan Velia aku merasa sangat tersinggung.


Aku meletakkan sendok yang aku pegang untuk makan tadi, tanpa menatap ke arahnya, "Apa menurutmu rasa kecewa itu bisa hilang dengan mudah hanya karena kau menuruti kami? Tapi maaf rasa kecewaku tak dapat di beli!" Kataku dengan dingin lalu langsung bergegas beranjak dari dudukku dan pergi meninggalkan mereka berdua yang masih mematung di tempat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Vel, apa kau mau memaafkan ku?!" Tanya Leonard pada Velia yang masih duduk di sebelahnya.


Velia langsung tersentak "Ah, eh iya tentu aku akan memaafkan mu, asalkan Alana juga memberimu maaf!" Kata Velia lalu setelahnya juga beranjak dari duduknya dan menyusul Alana yang sudah lebih dulu pergi dari sana.

__ADS_1


"Haish!!! Kenapa malah jadi seperti ini sih?!" Kelas Leonard akan apa yang telah dia perbuat.


__ADS_2