
Leonard langsung memeluk Velia untuk menenangkannya, Velia sendiri tidak menolak pelukan itu. Dirinya masih menyalahkan diri sendiri karena sudah membohongi Alana, sahabatnya sendiri.
"Sudah Vel! Kalau kamu sudah sembuh, kita temui Alana untuk minta maaf sama dia!" Kata Leonard yang berhasil membuat Velia sedikit tenang dari pada tadi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Semenjak hari itu, Leonard tidak pernah meninggalkan Velia sendirian di rumah sakit. Kondisi Velia yang melemah masih harus mendapatkan perawatan yang intensif di rumah sakit.
Dirinya selalu saja termenung, dia menyesal karena sudah berbohong pada Alana mengenai penyakitnya. Meski begitu, dia juga sudah tahu kalau semua ini akan terjadi padanya.
Di suatu malam saat Velia duduk sendiri di kasur rawatnya. Leonard datang dengan membawa bubur yang sengaja dia beli dari luar tadi. Ya, Leonard pergi sebentar untuk membeli makanan untuknya. Dia selalu menemani Velia sepanjang dirinya di rawat, itu karena rasa cinta di hatinya untuk Velia.
"Vel, makanlah dulu, aku membawakan bubur untukmu!" Ucap Leonard sambil menatap ke arah Velia yang fokus pada pemandangan di luar dari tempat perawatannya.
"Kenapa kau masih baik padaku? Padahal aku sudah membohongi kamu!" Kata Velia tanpa melihat ke arah Leonard, dia ingin membicarakan semuanya pada Leonard. Mengingat dia tidak memiliki siapapun sekarang, membuat dia bingung harus bercerita pada siapa lagi. Di tambah Alana yang sudah tidak pernah datang menjenguknya di rumah sakit.
Leonard menaruh bubur yang dia bawa pada nakas yang ada di samping tempat tidurnya, "Vel, dengarkan aku!" Leonard membalikkan tubuh Velia supaya menghadap ke arahnya, "Aku tahu, semua orang pasti memiliki sebuah rahasia! Dan pasti memiliki tujuan tersendiri kenapa rahasia itu harus di sembunyikan, kamu contohnya!" Leonard menarik nafas untuk melanjutkan ucapannya, "Aku tahu kamu menyembunyikan ini karena kamu tidak mau membuat aku dan juga Alana khawatir!! Jadi jangan terlalu menyalahkan diri kamu sendiri!" Ucap Leonard menasehati Velia panjang lebar.
Velia menghela nafasnya menjawab ucapan Leonard, memang pada kenyataannya benar adanya dengan apa yang di katakan oleh Leonard tadi padanya.
__ADS_1
"Terima kasih karena sudah membuat aku bisa bernafas dengan lega, setelah sebelumnya aku selalu di hantui rasa bersalahku ini!" Kata Velia pada Leonard.
Leonard yang mendengar itu langsung tersenyum, dia akhirnya bisa membuat Velia tidak begitu mencemaskan apa yang telah terjadi. Apalagi melihat Velia, orang yang dia cintai itu tersenyum lagi meskipun hanya samar saja.
"Vel, lalu bagaimana dengan kelanjutan hubungan kamu dengan-" ucap Leonard terpotong oleh apa yang di ucapkan oleh Velia.
"Jangan sebut namanya! Aku tidak ingin mengingatnya lagi! Aku sadar kalau selama ini aku mencintai orang yang salah! Dia bahkan tidak ingin menjengukku sama sekali, dan aku di sini juga karena ulah dia!" Velia menghela nafasnya dengan kasar kemudian kembali melanjutkan ucapannya, "Aku akan mengakhiri hubunganku dengannya, dan mulai menutup hatiku untuknya!" Kata Velia di akhir ucapannya.
Leonard tak menjawab apa yang di katakan oleh Velia tadi. Hatinya merasa senang, karena Velia juga ternyata sadar akan kesalahan perasaannya terhadap Robert yang pada kenyataannya hanya memanfaatkan Velia saja. Leonard terlihat bahagia mendengarkan ucapan Velia tadi. Itu artinya masih ada kesempatan untuk dirinya menjalin cinta dengan Velia.
"Semoga saja keputusan yang kamu ambil ini tepat Vel!" Ujar Leonard sambil mengelus kepala Velia lembut, sembari tersenyum pada Velia.
"Aku memang mencintai Robert, akan tetapi aku sadar kalau dirinya tidak benar-benar cinta padaku! Dia hanya memanfaatkan aku saja, betapa bodohnya aku sudah membuang waktuku demi pria yang bahkan tidak pernah menganggap aku ada!" Batin Velia dengan segala penyesalannya.
Semakin hari Velia semakin dekat dengan Leonard, bahkan Velia bisa merasakan kalau hatinya yang patah kini telah terobati oleh hadirnya Leonard di kehidupannya.
"Leonard, terima kasih karena kamu sudah selalu ada untuk aku! Maaf karena aku pernah menuduh kamu menyakiti Robert!" Kata Velia menyesal. Sedangkan Leonard yang mendengar itu tersenyum, dirinya merasa senang karena akhirnya Velia tidak lagi membenci ataupun menjauhinya.
"Sudahlah Vel, semuanya sudah berlalu, kita lupakan saja yang kemarin! Sekarang kita pikirkan bagaimana cara membujuk Alana supaya dia mau memaafkan kita!" Kata Leonard.
__ADS_1
Velia mengernyitkan dahinya bingung dengan ucapan Leonard barusan, "Maksud kamu kita? Memangnya Alana belum memaafkan kamu atas kejadian lalu?!" Tanya Velia bingung, dia memang tidak mengerti, karena dia terlalu sibuk dengan hubungannya dengan Robert saat itu. Sampai dia tidak tahu apakah Alana sudah memaafkan Robert atau belum.
Leonard menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil berpikir sejenak, "Ya, memang dia sudah memaafkan aku , tapi mungkin karena tahu kamu membohonginya jadi dia teringat lagi akan kesalahan aku yang tempo hari!" Jawab Leonard yang sebenarnya tidak enak mengatakannya, tapi memang itulah kenyataanya kalau Alana pasti masih marah mengenai kebohongan dari Velia dan Leonard.
Setelah mendengarkan ucapan Leonard barusan, mendadak Velia menundukkan kepalanya dengan sedih, dia merasa bersalah, "Maafkan aku karena sudah membuat kamu jadi ikut-ikutan di marahin oleh Alana!" Kata Velia lirih sambil menundukkan kepalanya.
Leonard yang tak tega melihat Velia sedih pun memutuskan untuk menghampirinya untuk menenangkan Velia, "Bukan begitu maksud aku Vel! Tapi kamu tenang saja, aku yakin Alana pasti akan memaafkan kita berdua! Aku yakin itu!!" Jawab Leonard yang mampu membuat Velia tersenyum dan bersemangat lagi.
Kedekatan mereka terjalin, bahkan Velia sempat berpikir akan menanyakan perasaan Leonard pada dirinya. Namun dia mengurungkan niatnya itu karena mungkin ini masih terlalu cepat bagi Velia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sisi Alana, dirinya tak pernah sekali pun menjenguk Velia setelah hari itu. Hatinya masih terasa sakit karena di bohongi oleh sahabatnya sendiri.
Hari itu dia duduk di taman kampus seorang diri sambil membaca buku. Sudah beberapa hari ini juga Leonard tidak masuk karena menjaga Velia di rumah sakit.
"Apa aku terlalu egois pada mereka?" Lirih Alana yang tiba-tiba melamun membayangkan kedua sahabatnya. Lalu sedetik kemudian dia menghela nafasnya dengan kasar.
"Sudahlah!" Katanya sambil menutup buku. Saat hendak beranjak dari duduknya, tiba-tiba ada sepasang tangan yang menutup kedua matanya. Sontak saja membuat Alana terkejut dan langsung berdiri dari duduknya dengan menepis tangan itu. Mata Alana membulat melihat siapa yang tadi menutup matanya.
__ADS_1