Menikah Dengan Tunangan Sahabatku

Menikah Dengan Tunangan Sahabatku
Pelanggan istimewa


__ADS_3

Hari itu aku berbincang dengan Velia sambil membahas semua tentang kehidupan Velia yang bahkan aku sudah ketahui. Tak lupa Velia juga menceritakan bagaimana dia suka dengan kakak tingkat kita itu, dan juga menceritakan mengenai pertemuan pertama kali mereka yang berada di kantin waktu itu.


Velia menceritakannya tanpa henti. Bahkan dia sudah berandai-andai ingin bersama selamanya dengan!!


"Oh iya, Vel! Kamu penasaran nggak sih sama kehidupan Leonard?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan yang tadinya hanya bertopik tentang Robert.


Velia mengernyitkan kening bingung sambil menatapku, "Memangnya ada yang salah sama dia? Atau jangan-jangan-!" Velia tiba-tiba menggantung ucapannya. Aku tahu arah pembicaraan Velia itu, maka dari itu aku langsung menyelanya.


"Nggak usah mikir aneh-aneh deh! Aku tuh cuma pengen tahu aja, mengingat dia sekarang sudah menjadi sahabat kita! Apa kamu nggak kepo gitu sama dia, bahkan kita nggak pernah di tawari untuk berkunjung ke rumahnya?!" Tanyaku penasaran pada Velia.


Setelah mendengar pertanyaan ku tadi, ku lihat Velia tampak berpikir, "Kamu benar juga sih, Al! Kayak ada yang di tutup-tutupi dari dia!" Kata Velia yang akhirnya satu pemikiran denganku.


Kita berdua sama-sama berpikiran mengenai kehidupan Leonard yang sebenarnya itu seperti apa. Sampai tak terasa waktu sudah mulai senja. Velia mengajakku untuk makan malam di luar, jadi aku tidak akan menolaknya.


Sebelum itu aku mengajak Leonard juga, dan aku juga sengaja minta di antar pulang dulu. Jelas saja aku belum mandi dan juga perlu berganti pakaian oke!.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tak butuh waktu lama kami sudah sampai di sebuah cafe dengan menu-menu baru. Cafe itu baru buka 4 hari yang lalu. Banyak anak-anak remaja juga yang ada di sana hanya untuk sekedar nongkrong bersama para sahabatnya. Termasuk aku dan juga kedua sahabatku ini.

__ADS_1


Aku dan Velia sudah datang lebih dulu dan kita menunggu Leonard yang belum datang, sampai akhirnya.


"Haish, sorry ya aku telat!" Kata Leonard yang baru saja datang menemui kita berdua. Dia langsung duduk di salah satu kursi yang ada di dekatku, berhadapan dengan Velia.


"Karena kamu datangnya telat, jadi kamu yang traktir kita, gimana?!" Tanya Velia dengan tujuan hanya bercanda. Aku dan Velia sampai sekarang sebenarnya belum tahu rumah Leonard di mana, dirinya bahkan tidak pernah mengajak kita berdua untuk berkunjung. Aku takut kalau Leonard terus menerus mentraktir kita berdua, dia akan kekurangan uang untuk dirinya sendiri. Mengingat dirinya selalu membayar mahal untuk apapun yang kita berdua pesan.


Tapi ini mengejutkan, ternyata Leonard juga menerima tawaran untuk mentraktir aku dan juga Velia di cafe itu.


Sebelumnya aku memang sudah merencanakan ini bersama dengan Velia, untuk mengetes Leonard. Kita berdua juga akan menanyakan tentang kehidupan Leonard yang sebenarnya. Karena sesama sahabat harus saling terbuka bukan? Untuk apa ada yang di tutup-tutupi. Mengingat juga kedatangan Leonard yang tiba-tiba ingin mengajak aku dan Velia untuk berkenalan hingga sekarang kita bertiga bersahabat.


"Baiklah, pesan apa saja yang kalian mau! Aku akan membayarnya!" Kata Leonard dengan entengnya, lalu mengeluarkan sebuah ponsel lalu memainkannya.


Aku dan Velia sungguh takut kalau sampai ternyata Leonard seperti orang-orang di luaran sana yang merasa selalu bisa mentraktir teman-temannya padahal keluarganya sedang kekurangan uang. Itu yang ada di pikiranku dengan Velia. Memang itu tidak semestinya aku dan Velia berpikiran seperti itu, tapi ini kenyataannya. Aku sudah sangat penasaran di buatnya.


"Le, kamu yakin mau traktir kita makan?!" Tanya Velia penuh selidik, ku lihat raut wajah Leonard yang bingung. Dirinya mengerjap-ngerjapkan matanya melihat Velia yang menatapnya seperti sedang menyelidiki sesuatu pada Leonard.


"Ya yakin lah, memangnya kenapa? Apa ada yang salah?!" Ucap Leonard dengan entengnya membuat aku dan Velia saling menatap sekilas.


Kita pun memesan beberapa menu makanan di cafe itu dan berusaha tak menaruh curiga apapun pada Leonard. Akan tetapi tetap saja aku dan Velia masih saja ingin tahu mengenai Leonard kalian tahu?

__ADS_1


Sampai akhirnya aku melihat Velia yang sedang makan ,tiba-tiba menatap ke arah pintu masuk cafe dengan membelalakkan matanya.


Aku heran dan bertanya padanya mengenai apa yang telah di lihatnya sampai dia membelalakkan matanya seperti itu, "Kamu kenapa sih? Lihat apaan?!" Tanyaku tanpa melihat ke arah yang di lihat oleh Velia. Lalu kemudian Velia menunjuk ke arah pintu masuk dengan tangannya, tanpa mengucap apapun, karena memang mulutnya masih terdapat makanan yang belum dia telan.


Aku menoleh ke arah yang di tunjuk oleh Velia itu, aku tidak heran sebenarnya. Tapi jelas Velia pasti sangat senang kalau ada dia di sini. Ya, dia adalah Robert. Orang yang di kagumi oleh Velia selama ini. Leonard juga sama denganku yang langsung menoleh ke arah pintu masuk untuk melihat siapa yang di tunjuk oleh Velia itu.


"Haish, sudah aku duga!" Kataku lirih.


"Hah? Kamu bilang apa? Kamu udah tahu kalau dia akan ke sini? Dari mana kamu tahu itu, Al?!" Tanya Velia padaku dengan mencerca berbagai pertanyaan mengenai ucapan ku tadi. Padahal aku sebenarnya juga tak tahu kalau Robert akan datang ke sana. Tapi aku mengambil kesimpulan kalau wajar saja dia ke sana, karena memang dia adalah cowok yang cool dan pasti akan selalu tebar pesona di tempat-tempat seperti ini. Mengingat dia adalah orang yang paling di kagumi di kampus, jadi tidak heran kalau dia datang ke tempat seperti ini.


Aku menjawab ucapan Velia, "Kamu ini gimana sih Vel? Masak gitu aja kamu nggak tahu, ini kan cafe baru yang lagi viral-viral nya! Jadi wajar kalau dia ke sini bukan?!" Kataku yang membuat Velia berpikir.


"Ya, kamu benar juga ya! Kenapa aku nggak kepikiran sampai situ sih tadi?!" Kata Velia sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sedangkan Leonard terlihat masih fokus dengan makannya setelah melirik sekilas ke arah yang di tunjuk oleh Velia tadi.


"Al, kayaknya aku harus samperin kak Robert dulu deh!" Kata Velia meminta saran padaku.


"Untuk apa?" Tanya Leonard dengan menaikkan satu alisnya sambil menatap ke arah Velia dengan.


"Itu tidak perlu Vel, itu hanya akan membuatmu terlihat merendah di depannya!" Kataku memberi tahu Velia. Namun sepertinya Velia tak mengindahkannya. Dia malah berdiri dari duduknya, seakan tak menganggap aku dan Leonard ada di sana dan seperti telah terpikat pada pesona Robert. Dirinya langsung bangkit begitu saja dengan membawa benda pipih miliknya di tangan kirinya.

__ADS_1


"Vel, mau ke mana?" Tanyaku yang sudah tak di hiraukan lagi oleh Velia. Dia malah langsung pergi begitu saja. Aku sendiri tidak mungkin harus memanggilnya lagi, yang ada nanti seluruh pelanggan cafe akan menatapku dengan tatapan aneh mereka, ketika melihatku berteriak memanggil Velia. Jadi aku memilih diam dan mengurungkan niatku, aku hanya akan memantau Velia dari jauh bersama dengan Leonard yang masih fokus pada makanannya.


__ADS_2