
Aku melihatnya dari kejauhan dengan membawa beberapa cemilan dan juga minuman di tangannya. Aku menghampirinya bersama dengan Leonard. Dan kemudian kita akhirnya memutuskan untuk memakannya di taman kampus sembari berbincang santai seperti biasanya.
Ya, tentu saja. Aku tak mengatakan kebenaran kalau aku pingsan tadi karena keterkejutan dan penyakit ku kambuh lagi. Aku memiliki riwayat penyakit jantung, bahkan aku tidak pernah periksa ke dokter mengenai penyakit ku. Aku sungguh takut kalau sampai di vonis memiliki penyakit yang mematikan. Maka dari itu aku hanya akan pergi ke rumah sakit hanya untuk menebus obat yang biasa aku beli saja. Tidak berniat untuk memeriksakannya lagi.
Seingat ku terakhir aku di periksa oleh seorang dokter dulu ketika kedua orang tua angkat ku mengantarkan aku. Aku di vonis memiliki penyakit jantung namun masih bisa di obati dengan rutin mengonsumsi obat-obat yang sudah di resep kan oleh dokter itu. Tapi siapa yang tahu kalau sampai saat ini aku masih saja merasakan sakit di dadaku, yang menandakan kalau aku belum juga sembuh dari sakit ku.
Itulah kenapa sebabnya aku memilih merenung dan menyendiri, menjauh dari semua teman-teman. Hingga aku bertemu Alana si gadis dingin itu yang malah membuatku nyaman. Padahal sikapnya dingin padaku, sulit untuk menaklukkan es itu, sampai akhirnya dia malah ketularan virus cerewet ku. Hingga akhirnya aku perlahan lupa akan penyakit yang aku derita. Tak tahu kenapa baru di hari itu penyakit itu datang lagi. Entahlah semuanya terasa membingungkan. Tapi setidaknya dengan adanya Alana aku bisa sejenak melupakan sakit ku.
Hari berganti, dan tepat di hari minggu adalah hari yang membosankan. Aku memutuskan untuk tidur hingga siang menjelang. Lagi pula itu memang sudah menjadi kebiasaan ku untuk tidur di hari minggu sampai siang hari. Sampai pembantu di rumah aku membangunkan ku untuk menyuruh makan.
Ya, aku bangun untuk sarapan lalu menghabiskan waktu di hari minggu hanya di kamar saja sambil membaca novel. Padahal aku bisa saja keluar, tapi karena matahari terlalu terik aku putuskan untuk keluar di sore atau malam hari saja.
Aku mengajak Alana dan juga Leonard untuk ke cafe yang baru saja buka. Dan kebetulan cafe itu terletak di dekat kampus.
__ADS_1
Seperti biasa aku dan Alana sudah lebih dulu sampai di sana. Hingga perdebatan pun di mulai ketika Leonard datang, lebih tepatnya bukan perdebatan karena Leonard hanya menurut saja dengan apa yang aku dan Alana minta. Bahkan dia dengan mudahnya mau mentraktir kita. Aku sebenarnya curiga dengan kehidupan dari Leonard begitu juga dengan Alana yang juga satu pemikiran denganku.
Alana juga memintaku untuk menyelidikinya, aku yakin dari sorot mata Alana mengatakan itu.
Sampai akhirnya kita memesan apapun yang kita mau, tapi ada kejadian di mana aku tak bisa melupakannya. Aku melihat satu sosok pria yang menjadi incaran ku, sosok pria yang bahkan selalu membuat hatiku bergetar ketika bertemu atau hanya sekedar melihatnya.
Ya, dia adalah Robert, kakak tingkat di kampus. Aku sungguh ingin dekat dengannya dan menjadi pacarnya. Sampai akhirnya aku putuskan untuk berjalan mendekat ke arahnya, dengan tujuan supaya aku mendapatkan perhatiannya. Memang terkesan aku wanita yang caper, tapi jujur aku mungkin memang sangat menyayanginya, makanya aku sangat ingin dekat dan menjadikan dia milikku seutuhnya.
Aku pun beranjak dari dudukku dan tak menghiraukan ucapan dari Alana yang aku sendiri sebenarnya mendengarnya. Aku perlahan mendekat dan mencoba mencari perhatian dari Robert. Sampai akhirnya aku tak menyangka kalau rencana ku berhasil. Bahkan aku juga tak pernah menyangka kalau kak Robert juga menyuruhku untuk duduk dengannya, untuk menemaninya.
Padahal aku awalnya hanya mengira kalau kak Robert hanya akan menegurku saja, tapi ternyata dugaan ku salah besar. Bahkan kak Robert sangat sopan padaku, dia bahkan mempersilahkan aku untuk makan dengannya di sana. Menemani kak Robert itu adalah impian semua wanita yang mengejarnya di kampus. Tapi itu mudah untuk aku dapatkan, pengalaman pertama ini tak akan pernah aku lupakan. Ini cukup indah untuk di kenang.
Di saat hari mulai larut malam, kak Robert mengajakku untuk pergi dan mengantarkan aku pulang. Rasanya ingin sekali aku menerima tawaran dari kak Robert yang bahkan aku tak tahu kapan lagi aku bisa mendapatkan tawaran itu. Namun semua itu harus aku tolak mentah-mentah, karena Alam sudah lebih dulu mengirimiku sebuah pesan dengan mengatakan kalau kita akan melakukan penyelidikan pada Leonard.
__ADS_1
Dengan terpaksa dan berat hati aku menolak tawaran dari kak Robert dengan cara halus. Kak Robert terlihat kecewa karena aku menolak tawarannya, tapi ini semua terpaksa oke!
Aku juga tidak mungkin mengatakan kalau aku menolak karena alasan ingin menguntit dan mencari tahu kebenaran mengenai Leonard. Itu akan sangat memalukan jika di ceritakan pada seseorang.
Sampai akhirnya kak Robert dan para teman-temannya pamit undur diri dari cafe itu. Ternyata mereka semua sangat ramah padaku, padahal aku mengira mereka semua akan bersikap acuh tak acuh padaku, tapi ternyata lagi, itu semua hanya dugaan ku semata dan tidak benar adanya. Mereka semua sangat baik dan loyal sekali.
Aku mengamati hingga mereka pergi dari cafe itu, mobil yang di tumpangi oleh kak Robert juga perlahan menjauh dan hilang dari jangkauan mataku.
Setelah kak Robert pergi aku segera menyusul Alana yang masih setia duduk berhadapan dengan Leonard. Aku memberi kode Alana untuk mengajak pulang hingga Leonard nanti juga akan pulang ke rumahnya sendiri. Itu sudah bagian dari rencana oke, jadi kita hanya tinggal menjalankan saja.
Leonard dan kita berdua pun berpisah dan masuk ke dalam mobil. Leonard tentunya mengendarai mobilnya sendiri. Sedangkan aku satu mobil dengan Alana. Kita berdua akan bersiap untuk mengikuti ke mana Leonard pergi.
"Al, kenapa Leonard masuk ke gang ini? Bukankah ini kawasan elit?!" Tanya Velia sambil menjalankan mobilnya dengan pelan dan menatap seksama tempat yang dia lewati. Akan tetapi ternyata benar adanya kalau Leonard memang tinggal di salah satu mansion yang ada di kawasan elit itu.
__ADS_1
Aku sempat bingung, bagaimana bisa Leonard merahasiakan mengenai tempat tinggal dan terutama mengenai statusnya sebagai pewaris, yang nantinya akan di suruh untuk mengelola dana yang ada pada kampus.
Awalnya aku sangat syok karena memang benar pasalnya kalau aku, Leonard dan Alana adalah sebuah pertemanan, dan itu tidak akan baik jika salah satu dari kita yang membohongi kita mengenai sebuah.