
Tanpa menjawabnya aku langsung pergi menuju mobil Velia dan masuk ke dalamnya. Jujur saja aku benar-benar terkejut karena mengetahui itu, aku sudah memikirkan ini dari jauh hari ketika Leonard pernah di panggil oleh seorang guru untuk menemui kepala sekolah. Aku sudah menaruh curiga di sana. Tapi sekarang aku sudah tahu mengenai kenyataannya kalau Leonard adalah anak pemilik kampus itu. Aku merasa kecewa dengan Leonard, entah kenapa rasanya ingin sekali marah padanya saat tahu akan hal itu. Tapi mulutku terasa kelu dan tak bisa berucap, maka dari itu aku memilih untuk tidak lagi berada di sana dan menuju ke mobil Velia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Velia yang masih berdiri di sana mendekat ke arah Leonard setelah melihat Alana pergi menuju mobil miliknya.
"Jujur aju kecewa sama kamu! Leonard! Aku marah sama kamu karena telah membohongi aku dan Velia mengenai identitas mu! Jika kau menganggap aku dan Alana sahabat, kau tidak akan menyembunyikan ini dari kita berdua! Aku kecewa sama kamu!" Kata Velia lalu hendak berjalan pergi, tapi baru beberapa langkah saja dia berhenti dan berbalik, "Satu lagi, beruntunglah aku tidak memarahi mu banyak! Karena aku sedang dalam mood yang baik!!" Kata Velia lalu setelahnya berjalan menuju ke mobilnya sendiri, menyusul Alana yang sudah lebih dulu berada di sana.
Leonard sendiri masih terdiam mematung melihat mobil Velia yang perlahan menghilang dari pandangan matanya. Dia menghela nafas lalu bergegas masuk ke dalam mansion nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di dalam mobil Velia, aku terdiam sambil menatap datar ke luar jendela. Sampai sebuah suara membuatku menatap ke arah samping secara sekilas.
"Al, apa kamu akan memaafkan Leonard?! Kenapa kau sekecewa ini?" Tanya Velia yang membuatku membuyarkan lamunanku.
Aku menatap Velia sekilas yang sedang menyetir , lalu kembali menatap kel luar jendela ,"Entahlah Vel! Rasanya aku merasa kecewa kalau tahu dia tidak mengatakan hal jujur pada kita!" Jawabku.
"Apa kamu memiliki rasa pada Leonard sampai kamu kayak gini?!" Tanya Velia lagi yang membuatku tersentak, bagaimana Velia bisa berpikiran seperti itu? Ini sungguh tidak masuk akal sama sekali menurutku.
__ADS_1
"Jangan mengatakan hal yang bukan-bukan! Aku bahkan hanya menganggapnya sebagai seorang sahabat saja! Tidak lebih!! Jadi jangan pernah berpikiran macam-macam!" Jawabku dengan nada sinis.
Aku bisa melihat Velia yang langsung terdiam tak bersuara setelah aku mengatakan itu tadi. Aku sendiri tidak memiliki rasa sama sekali pada Leonard ,lalu kenapa bisa Velia langsung mengambil kesimpulan seperti itu? Membuatku tambah kesal saja.
Sepanjang dan kita tidak mengatakan apapun, tak ada pembicaraan lagi di antara kita berdua. Velia fokus menyetir dengan menatap ke arah depan sedangkan aku memilih untuk menatap keluar jendela.
Hingga mobil perlahan berhenti di depan halaman rumah milik kedua orang tuaku. Aku mengucapkan beberapa patah kata pada Velia lalu setelahnya langsung masuk ke dalam rumah.
Ku dengar mama menawari Velia untuk mampir ke rumah. Tapi Velia langsung menolaknya dengan halus karena malam sudah semakin larut. Kemudian setelahnya dia langsung pulang ke rumahnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari itu aku berangkat ke kampus bersama dengan Alana seperti biasanya. Aku menjemputnya dan berangkat bersama. Sampai di kampus aku bertemu dengan pujaan hatiku, rasanya itu sangat bahagia sekali. Tapi tunggu, aku bahkan sempat tak percaya ketika aku bertatapan dengannya. Seakan tak percaya dengan apa yang ada di depanku saat itu, aku malah terdiam memandang ke arahnya.
Sampai akhirnya aku di kelas bersama dengan Alana dan Leonard. Aku terdiam karena merasakan sakit pada bagian dadaku. Tapi tentu saja aku tidak mengatakan itu pada kedua sahabatku itu. Hingga akhirnya pandanganku mendadak buram, ya ternyata aku pingsan.
Aku tidak tahu siapa yang membawaku sampai ke ruang rawat itu. Yang aku tahu setelah terbangun aku sudah ada di sana. Ku lihat seorang perawat yang bertugas di sana mendekati aku yang sudah sadar. Aku langsung memintanya mengambilkan air putih untuk aku minum obat.
Perawat itu dengan sigap langsung menuruti apa yang aku pinta, dengan membawa segelas air putih. Aku mengambil beberapa obat yang ada di saku bajuku. Ya, aku selalu membawanya ke mana pun aku pergi.
__ADS_1
"Maaf kak, boleh aku tahu siapa yang membawaku ke sini?!" Tanyaku pada perawat itu, aku memanggilnya kakak karena aku bersikap sopan padanya.
"Kamu di bawa ke sini oleh seorang pria, mungkin kekasih kamu!" Katanya, "Apa perlu aku panggilkan dia? Sepertinya kamu memiliki riwayat penyakit?!" Tanyanya di akhir ucapannya.
"Tidak, jangan panggil dia! Ya, memang benar aku memiliki riwayat penyakit, tapi tolong jangan katakan ini padanya! Dia tidak tahu mengenai hal ini, aku mau kakak merahasiakan ini dari siapa pun!" Kataku memohon pada perawat itu.
Perawat itu mengernyitkan dahinya bingung dengan ucapan ku tadi, "Kalau kamu sakit kenapa tidak mengatakannya saja? Kenapa harus merahasiakannya?" Tanyanya heran.
"Aku tidak ingin membuat mereka khawatir denganku, dan kasihan dengan kondisiku ini! Jadi aku mohon jangan katakan ini pada siapapun kak!" Mohon ku pada perawat itu.
"Tapi pria yang membawa kamu ke sini itu menanyakan kondisi kamu, dia menunggu kamu lebih dari 1 jam lamanya!" Katanya memberi tahu aku.
Aku menghela nafasku, "Begini saja kak! Katakan saja kalau aku pingsan karena kecapekan saja!" Ucapku saat itu menyuruh perawat mengatakan itu padanya.
Setelah itu aku juga ikut keluar untuk menemui Leonard yang menungguku sedari tadi di luar ruang perawatan. Aku berbincang dengannya sebentar, bahkan juga berdebat dengannya hanya karena masalah sepele. Lalu setelahnya kita berdua sama-sama ingat mengenai satu hal, yaitu tentang presentasi tugas kita. Dan kita melupakan Alana.
Sontak aku langsung saja berjalan meninggalkan Leonard yang masih mematung karena aku memarahinya tadi. Lalu kemudian kita berdua langsung menuju ke kelas. Namun ternyata kelas sudah kosong, kita sempat bingung awalnya. Akan tetapi Leonard langsung melihat jam tangan yang melingkar di tangannya, yang menunjukkan kalau kita tadi sudah tidak ikut kelas kurang lebih 2 jam. Lalu kemudian aku langsung keluar kelas untuk mencari Velia. Hingga akhirnya kita bertemu.
Aku melihatnya dari kejauhan dengan membawa beberapa cemilan dan juga minuman di tangannya. Aku menghampirinya bersama dengan Leonard. Dan kemudian kita akhirnya memutuskan untuk memakannya di taman kampus sembari berbincang santai seperti biasanya.
__ADS_1
Ya, tentu saja. Aku tak mengatakan kebenaran kalau aku pingsan tadi karena keterkejutan dan penyakit ku kambuh lagi. Aku memiliki riwayat penyakit jantung, bahkan aku tidak pernah periksa ke dokter mengenai penyakit ku. Aku sungguh takut kalau sampai di vonis memiliki penyakit yang mematikan. Maka dari itu aku hanya akan pergi ke rumah sakit hanya untuk menebus obat yang biasa aku beli saja. Tidak berniat untuk memeriksakannya lagi.