Menikah Dengan Tunangan Sahabatku

Menikah Dengan Tunangan Sahabatku
Mengikuti Leonard


__ADS_3

Tanpa pikir panjang lagi, Velia langsung menenggaknya hanya dengan sekali teguk saja. Robert yang melihat itu tersenyum seringai menyeramkan, dirinya senang karena Velia sudah berhasil masuk ke dalam jebakannya.


Velia sendiri masih belum merasakan apapun, dirinya merasa tidak enak pada lidahnya, karena baru pertama kali merasakan wine.


"Bagaimana dengan rasanya?!" Tanya Robert sambil membelai rambut Velia.Tentu saja itu hanyalah akal-akalan Robert supaya Velia mengira Robert benar-benar mencintainya.


Velia hanya mengangguk pada Robert, walau pun kenyataannya dirinya merasakan jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Ya, tentu saja itu karena penyakitnya. Bukan karena dia deg-deg an saat berada di dekat Robert.


Robert diam-dian tersenyum menyungging, dirinya senang karena berhasil menjebak Velia. Sedangkan Velia sendiri masih berusaha menahan rasa sakit di dadanya, namun tiba-tiba. Tubuh Velia merasa panas, dia merasa gerah dengan tiba-tiba. Padahal dia tidak menggunakan pakaian yang menurutnya tebal.


"Robert apakah kamu tidak merasa panas? Tubuhku gerah sekali rasanya!" Ucap Velia sambil mengibaskan tangannya untuk membuat angin. Akan tetapi dirinya masih tak menyadari kalau sebenarnya dia telah di jebak oleh Robert.


"Ah, sepertinya aku juga sama merasakan panas di sini! Mungkin karena terlalu banyak orang di sini! Bagaimana kalau kita memesan ruang VVIP? Di sana pasti akan dingin karena ada pendingin ruangan!" Kata Robert yang mulai melancarkan rencananya. Hal itu tidak di dengar oleh Leonard sama sekali, alunan musik yang sangat keras di bar itu membuatnya tak bisa mendengarkan apa yang di katakan oleh Velia dan Robert. Dirinya hanya bisa melihat keduanya dari jauh.

__ADS_1


"Apa kita tidak pulang saja?" Tanya Velia.


"Tidak, aku ingin di sini! Pulanglah jika kau ingin pulang! Tapi jangan harap aku mau memaafkan kesalahan yang sudah terjadi tadi di kampus!!" Ucap Robert dengan nada mengancam. Tentu saja Velia sangat takut kalau Robert malah marah padanya karena kesalahan yang di buat oleh kedua sahabatnya di kampus tadi.


Velia tak punya pilihan lain lagi selain ikut dengan apa yang di katakan oleh Robert, "Baiklah, jangan marah oke! Aku akan menuruti apa kamu kamu, tapi janji jangan marah lagi!!" Kata Velia memohon. Dia benar-benar menurunkan derajatnya sendiri di depan mata Robert. Tapi baginya itu tidak penting, karena harga dirinya sudah tertutup oleh rasa cintanya pada Robert.


"Kalau begitu ikut aku!" Ajak Robert dengan menggandeng lengan Velia untuk membawanya ke ruang VVIP yang ada di bar itu. Velia hanya menurut saja, sedangkan Leonard yang melihat Velia di ajak berjalan ke arah alah satu ruang VVIP di bar itu mengernyitkan dahinya bingung. Dirinya sungguh khawatir akan terjadi sesuatu pada Velia saat itu. Dia pun diam-diam mendekat untuk mengikuti langkah keduanya.


"Ah, kepalaku pusing sekali!" Kata Velia sambil memegang kepalanya, dengan langkah yang sudah tak bisa menyeimbangkan tubuhnya. Robert tahu kalau Velia sudah terpengaruh oleh obat itu. Dia pun berinisiatif untuk membuat Velia semakin masuk ke dalam perangkapnya.


Tentu saja hal itu membuat hati Velia tersentuh, dia begitu bahagia karena akhirnya dia bisa di perlakukan seperti itu oleh Robert. Hatinya begitu berbunga-bunga, baginya Robert sungguh romantis. Tapi tidak untuk Leonard yang melihat itu di kejauhan, sebelum Velia dan Robert masuk ke dalam ruangan VVIP. Hatinya seperti tersayat melihat orang yang dia cintai melakukan hal seperti itu, tapi tentunya dia tidak berhak marah. Karena Leonard hanya mencintai dalam diam, dia kalah satu langkah dari Robert yang lebih dulu mengambil hati Velia. Akan tetapi tentunya Leonard tahu kalau Robert tidaklah mencintai Velia, dia hanya menjadikan Velia bahan taruhan saja.


"Kenapa mereka masuk ke sana?" Batin Leonard mengernyitkan dahinya ,dia sungguh takut sekarang karena Velia hanyalah seorang wanita lemah yang tak mampu melawan ketika di sakiti. Pikiran Leonard berkecamuk, dirinya terpikirkan hal yang sangat tidak pantas. Dia takut Velia akan di lecehkan oleh Leonard.

__ADS_1


Velia dan Robert kini telah masuk ke dalam ruang VVIP itu. Leonard pun langsung melangkahkan kakinya menuju ke sana, namun tiba-tiba langkahnya terhenti ketika dirinya menyadari ada yang menepuk pundaknya.


Sontak saja Leonard bingung, bagaimana kalau ternyata yang menepuk pundaknya itu adalah teman-teman Robert? Tentunya Leonard akan ketahuan mengikuti Velia. Akan tetapi sebuah suara mengagetkannya, membuat Leonard langsung berbalik.


"Leon!" Ucap seseorang itu yang tadi menepuk pundak Leonard. Leonard berbalik badan dan langsung tahu kalau suara itu sangat familiar di telinganya. Ya, itu adalah suara Alana yang mengikutinya diam-diam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hatiku sungguh merasakan gelisah, aku takut terjadi sesuatu dengan kedua sahabatku. Ini sungguh menyebalkan karena aku seorang wanita, tentunya aku tidak mungkin di perbolehkan masuk ke tempat berbahaya seperti itu oleh Leonard. Tapi aku sebenarnya memiliki tekad untuk masuk dan ingin melihat situasi di dalam bar itu, aku ingin memastikan semuanya baik-baik saja. Bahkan Leonard juga tak memberi aku kabar setelah 1 jam berada di dalam sana, aku sungguh khawatir dengan keadaan mereka berdua di dalam sana. Apalagi di dalam ada banyak teman-teman Robert yang pastinya jika nanti Leonard ketahuan, tentunya para teman-teman Robert itu akan menghajarnya habis-habisan. Meskipun aku tahu kalau Leonard juga pandai dalam ilmu bela diri, tapi aku tetap merasa was-was kalau sampai semua itu terjadi.


Sampai akhirnya aku sudah tidak tahan lagi untuk menunggu di dalam mobil, aku tidak bisa berdiam diri di mobil saja. Apalagi kedua sahabatku ada di dalam sana yang aku pun tidak tahu apa yang terjadi di dalam sana. Hingga akhirnya aku mengambil topi yang ada di mobil Leonard. Aku menyamar sebagai seorang pria, walaupun hanya dengan memakai hoodie dan memasukkan seluruh rambutku pada topi, aku sudah seperti seorang pria yang cantik. Ah, aku biasa saja, tidaklah cantik oke.


Aku turun dan perlahan masuk ke dalam, aku mengatakan pada penjaga bar kalau aku ada janji dengan Robert di dalam. Sehingga penjaga itu tidak menanyaiku banyak hal, tentunya aku sudah memikirkan ini dan dugaan ku ternyata benar kalau Robert memang cukup mencolok di bar itu. Sehingga hanya dengan alasan itu aku bisa masuk dengan mudah ke dalam sana.

__ADS_1


Setelah masuk aku langsung mencari keberadaan Leonard dan Velia. Aku bisa mengenali tampilan Leonard dari belakang karena pakaian yang dia kenakan tadi. Aku langsung saja mendekatinya, tapi ternyata dia berjalan menjauh dan aku juga melihat adanya Velia yang tengah bersama dengan Robert. Aku tahu pasti hati Leonard tidak baik saat ini, dia pasti merasa sakit melihat Velia bahagia seperti itu. Tapi saat aku mengikuti langkah Leonard yang tengah mengikuti Velia. Aku melihat salah satu teman Robert yang terus memandang ke arah Leonard dengan tatapan curiga.


__ADS_2