
"Kau juga sahabatnya bukan?! Lalu kenapa kau juga tidak ikut mengantarnya ke ruang rawat juga?" Tanya Robert lagi.
"Aku harus tetap berada di kelas karena akan ada presentasi!" Jawabku apa adanya. Entah kenapa aku malah terus membalas ucapannya yang menurutku formal ini. Tapi ya sudahlah, siapa tahu aku bisa mengenalnya dan akan memberi tahu Velia tentang dirinya. Dengan begitu akan mempermudah Velia untuk lebih dekat lagi dengannya.
Robert bahkan menceritakan mengenai wanita yang bersama dengannya tadi. Dia seakan meyakinkan aku kalau wanita tadi itu bukanlah kekasih. Melainkan seorang wanita yang selalu mengejar cintanya. Sejenak aku berpikir, bahkan Velia saja belum mencoba mendekati Robert. Bagaimana kalau dia di sebut sebagai penggemar berat saja. Aku takut kalau cinta Velia malah tak terbalas kalau dirinya terus berusaha dekat dengan Robert.
Entah sejak kapan aku malah terbawa suasana dan terus saja menjawab ucapan dari Robert. Bahkan sesekali aku tersenyum mendengar ucapannya. Aku rasa Robert ini adalah seorang yang mudah akrab dengan orang lain. Hampir sama seperti Velia. Ya, mungkin mereka nanti juga akan cocok karena kepribadian mereka yang nyaris sama.
Aku sendiri bingung kenapa bisa ikut terhanyut dalam obrolan yang di buat oleh Robert. Sampai akhirnya aku putuskan untuk kembali ke rumahku, karena matahari sudah mulai terik.
"Aku pulang dulu!" Kataku berpamitan pada Robert tanpa menoleh ke arahnya.
"Iya baiklah, hati-hati!" Kata Robert padaku.
Setelah itu aku langsung melenggang pergi dan meninggalkan Robert yang entah masih berada di sana atau sudah pergi juga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat Alana melenggang pergi meninggalkan taman dan Robert di sana. Terlihat Robert tersenyum seringai kecil, "Gadis kecil! Membuatku semakin penasaran dengannya! Aku akan mendapatkan dia, bagaimana pun caranya!" Gumam Robert dengan lirih tanpa ada yang tahu arti senyuman licik miliknya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Di isi Velia dirinya belum terbangun dari tidurnya, bahkan matahari sudah mulai menyinari kamarnya. Ya memang Velia adalah gadis yang manja. Meski dirinya hanya di temani oleh beberapa asisten saja, tapi asisten miliknya itu sudah di anggap seperti keluarga Velia sendiri.
Terdengar suara ketukan pintu kamarnya yang menyuruh Velia untuk segera bangun dan sarapan. Ya, pembantu di rumahnya sengaja membangunkan Velia yang sudah dari tadi tidur dan tak bangun-bangun. Apalagi mengingat jam sudah menunjukkan pukul 10.00 pagi.
"Iya, sebentar lagi aku akan keluar!" Jawab Velia dari balik pintu kamarnya bahkan dirinya masih berada di bawah selimutnya dan enggan untuk keluar dari kamar. Hari minggu bagi Velia itu sudah menjadi hari tenang untuknya. Ingin rasanya dia selalu bermalas-malasan berada di kamar. Namun semua itu dia urungkan mengingat kedua orang tua angkatnya yang sudah menjadikannya seperti sekarang ini. Kalau bukan karena kedua orang tua angkatnya, mungkin Velia tak bisa memiliki fasilitas yang terpenuhi seperti ini.
15 menit kemudian Velia keluar dari kamarnya dengan memakai celana pendek dan kaos putih polos. Dirinya berjalan menuju meja makan, hanya ada nasi goreng dengan telur mata sapi kesukaannya di sana. Velia memang menyukai telur mata sapi.
Seperti biasa hari-hari di rumahnya dia lalui dengan suasana yang membosankan. Tidak ada yang bisa di ajak bicara di rumah. Meskipun ada seorang pembantu, namun itu berbeda menurut Velia. Dari dulu Velia menyuruh para pembantunya itu untuk makan bersama dengannya. Tapi mereka selalu saja menolak. Sampai Velia bosan sendiri untuk menyuruh mereka menemani Velia makan di meja makan.
Setelah sarapan, Velia menuju ke balkon kamarnya dan mencoba menghubungi Alana.
📲Halo Alana? Kamu ada di mana? Aku sangat bosan, bisa kau ke sini untuk menemaniku?!" Tanya Velia pada Alana.
Sepertinya Alana menjawabnya setuju untuk datang ke rumah Velia. Dapat di lihat dan di dengar dari nada bicara dari Velia tadi kalau Alana pasti mau untuk menemaninya di rumah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah pulang dari taman tadi, aku mendapatkan telepon dari Velia. Dia menyuruhku untuk pergi ke rumahnya, ya seperti biasa hanya untuk menemaninya.
Aku putuskan untuk memakai jaket ku dan langsung menuju ke rumahnya dengan memesan taksi online. Tak lupa aku juga berpamitan dengan kedua orang tuaku, dan mengatakan kalau aku akan pergi ke rumah Velia untuk menemaninya.
__ADS_1
"Aku pergi dulu ya pa, ma!" Kataku yang setelah langsung pergi keluar rumah, karena taksi online yang aku pesan sudah ada di depan rumah.
Setelah perjalanan sekitar 15 menit akhirnya aku sampai di rumah Velia. Seperti biasa, aku pasti selalu di sambut oleh salah satu pembantu yang berkerja di rumah Velia, mereka sudah hafal dengan tujuan kedatanganku. Aku putuskan untuk langsung menemui Velia yang ternyata telah menungguku di balkon kamarnya.
"Eh, kamu udah datang!" Kata Velia saat melihatku masuk ke kamarnya dan menutup pintu kamar.
Aku sudah menebak kalau Velia pasti sedang tidak mood hari ini. Maka dari itu dia memutuskan untuk berada di rumahnya dan menyuruhku untuk datang ke rumahnya.
"Vel, kamu kenapa? Nggak mood lagi?" Tanyaku basa basi, padahal aku tahu kalau memang Velia sedang tidak mood.
"Kau tahu kalau aku sedang malas melakukan apapun, aku ingin sekali pergi berkencan! Tapi aku tak tahu kapan kak Robert itu akan mengajakku berkencan! Ah~ aku sangat menantikannya!" Jawab Velia sambil berandai-andai membayangkan kalau nanti dirinya akan berkencan dengan Robert.
Aku menelan ludahku dengan kasar saat mendengar permintaan konyol yang di minta oleh Velia.
"Kenapa kamu jadi kayak gini sih Vel?" Tanyaku pada Velia karena heran dengan sikapnya itu, apa karena dirinya menyukai Robert itu hingga membuatnya jadi seperti ini. Tapi ini tidak masuk akal. Bahkan Velia seperti enggan untuk melupakan pria yang saat ini tengah mencuri hatinya.
Aku sendiri bingung dengan pemikiran ku, akankah aku harus mengatakannya kalau aku bertemu dengan Robert tadi di taman? Ah tidak-tidak! Lebih baik aku tidak mengatakannya. Aku akan menyelidiki dulu mengenai Robert ini. Baru setelahnya aku akan dengan senang hati memberi tahu Velia kalau aku pernah bertemu dengannya. Dari pada aku katakan sekarang, lebih baik aku diam saja di depan Velia.
Hari itu aku berbincang dengan Velia sambil membahas semua tentang kehidupan Velia yang bahkan aku sudah ketahui. Tak lupa Velia juga menceritakan bagaimana dia suka dengan kakak tingkat kita itu, dan juga menceritakan mengenai pertemuan pertama kali mereka yang berada di kantin waktu itu.
Velia menceritakannya tanpa henti. Bahkan dia sudah berandai-andai ingin bersama selamanya dengan!!
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...