
Setelah masuk aku langsung mencari keberadaan Leonard dan Velia. Aku bisa mengenali tampilan Leonard dari belakang karena pakaian yang dia kenakan tadi. Aku langsung saja mendekatinya, tapi ternyata dia berjalan menjauh dan aku juga melihat adanya Velia yang tengah bersama dengan Robert. Aku tahu pasti hati Leonard tidak baik saat ini, dia pasti merasa sakit melihat Velia bahagia seperti itu. Tapi saat aku mengikuti langkah Leonard yang tengah mengikuti Velia. Aku melihat salah satu teman Robert yang terus memandang ke arah Leonard dengan tatapan curiga.
Salah seorang teman Robert hendak berjalan mendekat ke arah Leonard. Aku berinisiatif untuk mengalihkan pandangannya, karena aku tidak ingin kalau sampai Leonard ketahuan nantinya.
Aku pun menyuruh meminta seorang staf untuk memberikan minuman ke arah teman Robert yang hendak mendekati Leonard itu. Tentu saja dengan alasan Robert lagi. Aku sungguh tidak mengerti lagi, pelayan itu bahkan langsung saja menuruti apa yang aku minta. Pelayan wanita dengan pakaian kurang bahan itu langsung mendekat ke arah teman Robert dan memberikan minuman, dan dugaan ku benar. Teman Robert itu langsung teralihkan pandangannya ke arah pelayan dengan pakaian kurang bahan itu.
Lalu setelah aku pastikan kalau dia sudah benar-benar teralihkan, aku putuskan untuk mendekat ke arah Leonard. Aku menepuk pundaknya, tapi sepertinya dia sempat terkejut lalu dia menghela nafas lega saat melihat aku yang menepuk pundaknya.
"Alana?!" Lirih Leonard saat melihatku, "Kenapa kamu ada di sini? Aku sudah bilang padamu untuk menunggu di dalam mobil saja!" Kata Leonard dengan lirih.
Aku langsung menghela nafasku, bahkan aku belum mengatakan apapun tapi Leonard malah berceramah dalam kondisi seperti ini.
"Aku khawatir, jadi aku nyusul kamu ke sini! Tadi hampir aja kamu ketahuan! Untung tadi aku langsung ngalihin orang itu supaya nggak jadi curiga sama kamu!"Jelas ku singkat.
"Tapi ini bahaya kalau sampai kamu di sini!" Kata Leonard lagi, aku tahu kalau dari raut wajahnya khawatir.
"Sekarang bukan saatnya bahas itu, yang penting kita harus cek kondisi Velia dulu, dia udah masuk ke sana sama Robert! Aku takut kalau sampai hal yang sama terjadi pada Velia nanti!!" Ucapku memberi tahu Leonard untuk segera mengecek kondisi Velia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sisi lain, tepatnya di sebuah ruang VVIP yang sudah di pesan Robert secara khusus. Di sana Velia sudah di dudukkan di sebuah sofa panjang yang ada di sana. Dia masih begitu merasakan gerah pada tubuhnya. Seperti terbakar dan ingin rasanya dia melepaskan seluruh pakaiannya. Bahkan kepalanya terasa sangat pusing, dadanya juga sakit akibat jantungnya yang berdegup kencang. Mungkin karena memang penyakit jantungnya itu kambuh atau bagaimana, namun Velia masih terus menahannya.
__ADS_1
Robert tanpa basa basi melepaskan kaos jaket yang dia pakai, dia masih memakai kaos berwarna hitam dari balik jaket itu.
"Kau benar kalau udaranya sangat panas, aku merasa ingin melakukan sesuatu hal!" Kata Robert dengan nada menggoda, senyum seringai licik bahkan terukir di bibirnya.
"Robert, kenapa panas sekali! Aku tidak pernah merasa seperti ini!! Tolong aku!" Kata Velia sambil menggeliat seperti cacing kepanasan.
Robert yang berdiri di dekat ranjang untuk mengambil sebuah remote AC pun tak tahu kalau Velia perlahan mendekat ke arahnya.
Brukkk...
Velia yang memeluk Robert tiba-tiba dari belakang pun langsung membuat Robert dan dirinya terjatuh ke ranjang. Robert sempat terkejut karena mangsanya kali ini bahkan yang berani memulainya. Velia jatuh tepat di atas Robert.
Dengan nafas yang memburu seperti habis lari maraton dirinya berkata, "Tolong aku!!" Kata Velia sambil matanya perlahan tertutup hingga akhirnya jatuh di dada bidang Robert.
Robert terkejut dan juga syok karena Velia tiba-tiba saja pingsan di dadanya. Awalnya Robert berpikir kalau Velia hanya bercanda saja.
"Vel, jangan main-main ini tidak lucu!!" Kata Robert yang sengaja tak langsung bangkit dari posisinya dan masih membiarkan Velia berada di dadanya dalam kondisi seperti tadi.
Karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari mulut Velia, Robert jadi gelisah. Dirinya sungguh heran kenapa Velia tidak bangun, padahal sebelumnya tingkahnya seperti cacing kepanasan. Dengan segera Robert menggulingkan tubuh Velia pelan hingga kini posisi mereka bersebelahan di ranjang. Robert menatap mata Velia yang tertutup, Robert juga mengguncangkan tubuh Velia, namun Velia tak menjawab.
"Velia bangun! Hey!!" Kata Robert sambil menepuk pelan pipi Velia supaya dia segera sadar. Namun Velia yang tak sadarkan diri tentunya tidak akan menjawabnya. Robert cemas akan hal itu, dia dengan segera ingin mengangkat tubuh Velia dan membawanya ke rumah sakit. Akan tetapi,,,
__ADS_1
Gubrakk,,,,
Suara pintu di buka paksa dari luar pun terdengar membuat Robert langsung menoleh. Beruntung suara musik yang di putar di bar itu sangat keras, sehingga pengunjung lain ataupun para teman-teman Robert tak mendengar suara dobrakan pintu itu.
Dari pintu menampakkan Alana dan Leonard yang berada di sana.
"VELIA!!" Teriak Alana yang langsung masuk begitu saja ke ruang VVIP itu dan menghampiri sahabatnya yang terbaring tak sadarkan diri di ranjang.
Bukkk,,,,
"Kurang ajar!! Apa yang kau lakukan pada Velia ha!!" Leonard langsung melayangkan bogem mentah pada Robert. Padahal Robert bahkan belum melakukan apapun, akan tetapi dirinya yang telah membawa Velia dan pasti semua juga berpikir kalau ini memang salahnya. Robert yang tak mau kalah pun membalas pukulan Leonard. Hingga terjadilah perkelahian di ruang VVIP Itu, bahkan tidak ada yang memisahkan mereka, Alana sendiri masih sibuk untuk membangunkan Velia yang tak sadarkan diri.
"Velia bangun!! Ada apa denganmu?!" Kata Alana sambil mengguncangkan tubuh Velia supaya dia segera sadar. Namun Velia masih menutup matanya itu membuat Alana merasa panik dan takut terjadi sesuatu pada sahabatnya itu.
Pandangan mata Alana langsung tertuju ke arah kedua pria yang ada di sana. Melihat kedua pria itu saling berkelahi, Alana langsung menengahi dan menyuruh Leonard untuk segera membawa Velia ke rumah sakit.
"Sudah!!! Untuk apa kalian berkelahi? Velia membutuhkan pertolongan! Denyut nadinya melemah!!" Kata Alana yang tadi memang dia juga sempat menyentuh pergelangan tangan Velia untuk memastikan nadinya dan menemukan kalau denyut nadi Velia melemah.
Mendengar ucapan Alana yang menengahi mereka, kedua pria itu langsung menatap ke arah Velia. Tentunya Leonard yang langsung cekatan dan membawa Velia ke luar dari bar. Leonard akan membawanya ke rumah sakit. Alana juga langsung mengikutinya di belakang.
Sedangkan Robert masih di posisinya sembari mengusap darah yang keluar dari ujung bibirnya. Entah mengapa dia malah khawatir akan Alana yang sangat mengkhawatirkan Velia saat itu. Bahkan Robert sendiri tak peduli dengan apa yang terjadi pada Velia.
__ADS_1